Wayangnya Kiai Jimat, Gamelan Pengiringnya Kiai Jimat dan Kiai Dewa Katong
SURAKARTA, iMNews.id – Pemimpin baru Dinasti Mataram Surakarta Sinuhun PB XIV Hangabehi, Senin Wage (19/10) malam Anggara Kasih Ageng (Selasa Kliwon) 2026, 10 Jumadil’akhir Tahun Be 1960 malam ini mencetak sejarah. Di malam sakral ini Sang Pemimpin menandai kebangkitan cabang-cabang seni-Budaya Jawa khas Kraton Mataram Surakarta, dengan mengaktifkan kembali “wayangan” rutin tiap malam “weton”.
Sebagai penandanya, Sang Pemimpin baru akan tampil sebagai dalang menyajikan lakon (kasepuhan) “Dewa Ruci”. Karena yang akan “bedhol kayon” dan “mucuki jejeran” pertama pentas “ringgit wacucal sedalu-natas” itu Sinuhun PB XIV, maka semua komponennya punya nilai keistimewaan luar biasa. Yaitu, tempat pentasnya di “pringgitan” Bangsal Parasedya, gamelannya Kiai Jimat dan Kiai Dewa Katong.

Pertunjukan wayang kulit dalam format upacara atau ritual ini, wayangnya yang akan digunakan adalah dari kotak wayang pusaka Kiai Jimat. Rangkaian beberapa unsur elemen untuk pentas itu, merupakan peristiwa yang luar biasa, langka dan fenomenal. Karena, wayang dan gamelan pusakanya level satu, maka yang boleh memakai “raja” (atau Adipati Anom) dan tempatnya “harus” di Bangsal Parasedya.
Malam ini, dalang penyajinya ada dua yang tampil estafet akan menyajikan lakon “Dewa Ruci”. Setelah Sinuhun PB XIV “bedhol kayon” dan “njantur” pada “jejeran” Kraton Amarta, dilanjutkan sentana-dalem yang masih “eyangnya”, yaitu Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka. Dosen di FEB UNS ini adalah Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara, yang punya mumpuni di bidang seni tari, karawitan dan pedalangan.

Yang menambah istimewa dan luar biasa momentum penanda “wayangan” rutin tiap malam “weton” Anggara Kasih itu dibangkitkan kembali, adalah unsur lakonnya “Dewa Ruci” adalah karya Pujangga Kraton Mataram Surakarta. Sedangkan sekotak wayang Kiai Jimat, adalah karya Sinuhun PB II sewaktu masih jumeneng-nata di Kraton Mataram Islam di Ibu Kota Kartasura, lalu digenapi sesudah “pindahan”.
KPP Wijoyo Adiningrat menyebutkan, saat masih berada di Kastasura (1727-1745), Kiai Jimat belum genap sekotak yang kurang-lebih berisi 300-an anak wayang. Tetapi, saat Sinuhun PB II memindah Ibu Kota ke Surakarta Hadiningrat dan jumeneng-nata sampai akhir hayat (1749), belum sempat memikirkan itu karena konsentrasi tertuju pada pembangunan tempat ibadah (Masjid Agung) dan kedhaton.

Banyak data manuskrip yang didapat Gusti Moeng, KP Budayaningrat, KPP Wijoyo Adiningrat, Ki Dr Purwanto dan beberapa tokoh di kraton menyebutkan, benda-benda pusaka Dinasti Mataram yang dibawa pindah dari Kartasura ke Surakarta, ada beberapa yang baru selesai dilengkapi di zaman Sinuhun PB IV. Bahkan banyak dibantu Sinuhun PB V saat masih berstatus Adipati Anom, karena karyanya beragam.
Dalam catatan buku “Sinuhun Sugih” yang dipelajari KPP Nanang Soesila Sinduseno Tjokronagoro, pada zaman Sinuhun PB IV sekotak wayang pusaka Kiai Jimat, baru selesai komplet dan dibantu putra mahkotanya yang kelak bertahta sebagai Sinuhun PB V. Proses seperti itu sangat rasional menurut kajian sejarah Ki Dr Purwadi, yang menyebut bahwa energi Sinuhun PB II terfokus memindah Ibu Kota.

Setelah Ibu Kota pindah dan “nagari” monarki (Kraton) Mataram Islam Surakarta berdiri pada 17 Sura Tahun Je 1670 atau 20 Februari 1745 di Ibu Kota Surakarta Hadiningrat, yang diprioritaskan Sinuhun PB II adalah karya yang urgen untuk kelancaran roda pemerintah dan rakyatnya, salah satunya kagungan-dalem Masjid Agung, Setelah itu baru tempat bermukim misalnya sebagian di Kraton Kulon.
Karena begitu banyak infrastruktur Ibu Kota negara yang dibangun, sampai akhir hayat Sinuhun PB II id tahun 1747 tak sempat meneruskan karya di luar bangunan fisik. Menara infrastruktur sistem keamanan yaitu Panggung Sangga Buwana, baru dibangun di zaman Sinuhun PB III (1749-1788). Maka baru di zaman Sinuhun PB IV (1788-1820), sekotak wayang Kiai Jimat bisa diselesaikan, genap dan komplet. (won-i1)
