Kamis, 2 Desember 2021
Budaya Apa Makna Periode 1745-1945, 1945-1985 dan 1985-Sekarang...? (1-bersambung)

Apa Makna Periode 1745-1945, 1945-1985 dan 1985-Sekarang…? (1-bersambung)

Baca Juga

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

Wakil Wali Kota : “Kalau Tidak Mau Dihormati, ya………..”

Sumbang Rp 5 Juta untuk Pekan Seni 90 Tahun Pakasa SOLO, iMNews.id – Pembukaan Pekan Seni dan Ekraf (Ekonomi Kreatif)...

Istana Maimun Medan Akan Dikembalikan Menjadi Ikon Kota

Dikunjungi Ketua DPD RI dan Disaksikan Ketua MAKN MEDAN, iMNews.id – Ketua DPD RI AA LaNyala Mahmud Mattalitti yang belakangan...
~Pariwara~

Demi Kelangsungan Peradaban, ”Wiradat” Tidak Boleh Berhenti

IMNEWS.ID – APABILA mencermati periodisasi tahun antara 1745-1945, secara faktual merupakan usia ”negara” atau nagari Mataram Surakarta Hadiningrat yang beribukota di Surakarta. Periode selama 200 tahun itulah, rentang waktu sangat panjang yang menjadi usia sebuah ”negara”, yang memiliki warga negara sebuah bangsa yang disebut ”bangsa” Jawa, dan sisa-sisa peradabannya masih kita kenali hingga kini dan ingin terus berlanjut sepanjang masa.

Dalam berbagai hasil penelitian terutama yang dilakukan Lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara) dan berhasil dibukukan oleh Dr Purwadi (Ketua) dalam berbagai judul sesuai sudut pandang pembidangannya, telah menjelaskan periode 200 tahun itu (1745-1945) sebagai perjalanan terpanjang sebuah lembaga masyarakat adat di bumi Nusantara. Karena, masyarakat adat dan simbol kelembagaan peradaban yang berupa keraton, sejak sebelum Kediri (abad 12) dan berlanjut ke Majapahit (14), Demak (abad 15), Pajang (abad 15), Mataram Hindu ke Islam (Kutha Gedhe-Kerta-Plered) abad 16 dan Mataram Kartasura (abad 17), rata-rata umurnya kurang dari 200 tahun.

Usia 200 tahun itu sudah sangat panjang, dan itulah ”statement of prediction” seorang raja Keraton Kediri yang hebat karena sifat ”kapujanggannya” yang bernama Prabu Jayabaya. Secara analitik ada dua variabel yang bisa dihubungkan, bahwa keberadaan sebuah ”nagari” di bumi vorstenlanden yang begitu besar dan sangat berpengaruh di dunia sampai berusia 200 tahun di abad 17-19, sudah diprediksi seorang Prabu Jayabaya di abad 12, atau 500-an tahun sebelum terwujud.

”Jangka” atau prediksi yang terwujud sampai berdurasi waktu 200 tahun itu, memang sulit diterima dengan akal sehat, apalagi bagi makhluk manusia di abad milenial sekarang ini. Tetapi, begitulah adanya, realitasnya. Dan makhluk manusia yang bisa memahami persoalan-persoalan dalam terminologi seperti itu, hanyalah mereka yang referensinya didapat karena belajar soal spiritual kebatinan atau spiritual supranatural.

”Penjelasan yang bisa diterima dengan akal sehat, apalagi bagi kalangan generasi milenial sekarang ini, memang sulit. Metodologi yang digunakan seperti apa, kalau kelihatannya ada jarak yang jauh untuk bisa memahami secara nalar. Tetapi, dari yang diprediksi Prabu Jayabaya, nyatanya menjadi realitas yang faktual. Itu bisa menjelaskan, bahwa realita secara pisik (kedaulatan) nagari Mataram Surakarta memang sudah berakhir di tahun 1945. Tetapi, (setelah 1945) masih bisa dilihat, baik secara pisik maupun spiritual kebatinan,” jelas KRT Hendri Wrekso Puspito menjawab pertanyaan iMNews.id, dalam sebuah diskusi, kemarin.

MENJADI PUNCAK : Peringatan tumbuk yuswa 10 windu atau 80 tahun (Jawa) Sinuhun PB XII
beberapa waktu sebelum wafat (2004), menjadi puncak reputasinya sebagai seorang pemimpin adat yang mampu mempertahankan Keraton Mataram Surakarta setelah ”wiradat” keduanya dilakukan, baik dalam dimensi realitas maupun spiritual kebatinan.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Wiradat Pertama Sinuhun PB X

Menurut pemerhati budaya Jawa dan keraton dari sisi spiritual kebatinan itu, setelah 1945 ”nagari” Mataram Surakarta masih bisa dilihat dalam dua dimensi, meskipun tebal-tipisnya masing-masing dimensi sudah berubah seiring perubahan peradaban/zaman. Kedua dimensi yang masih bisa dilihat itu, tentu masing-masing tidak sesuai dengan yang diharapkan internal masyarakat adat maupun publik secara luas di luar masyarakat adat.

Mengapa demikian? Karena, sejak 1945 ”nagari” Mataram Surakarta sudah menggabungkan diri ke dalam pangkuan NKRI, atau dengan kata lain kedaulatannya terutama politik dan wilayahnya sudah menjadi bagian dari kedaulatan NKRI, ketika Sinuhun Paku Buwono (PB) XII menyatakan ”Berdiri di Belakang Republik”. Dengan begitu, kalau kini kedua dimensi itu masih bisa dilihat dari wajah Keraton Mataram Surakarta, yang paling menonjol adalah potensi kekuatan budayanya yang masih relevan untuk dirawat dan dijaga kelangsungannya sebagai milik warga peradaban secara luas.

Dengan melihat fakta-fakta realitas yang ada, maka periodisasi berikut setelah 1745-1945 adalah periode 1945-1985. Namun, sebelum menelisik bagaimana perjalanan Keraton Mataram Surakarta pada periode 40 tahun setelah 1945, perlu diketahui bahwa sebenarnya ada sebuah bentuk upaya yang dilakukan Sinuhun Paku Buwono (PB) X (1893-1939) untuk memperpanjang usia ”nagari” Mataram Surakarta dengan tatacara adat yang disebut ”wiradat” (pertama).

”Wiradat” yang berupa semacam upacara adat ”ruwatan” di tempat yang diberi simbol berupa tugu berhias porselin di halaman depan Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa itu, Siuhun PB X memohon kepada Sang Khalik agar ”nagari” Mataram Surakarta diberi umur panjang lagi dari yang sudah ”dijangka” (diprediksi) Prabu Jayabaya. Melihat ”wiradat” (pertama) sudah dilakukan Sinuhun PB X kira-kira 6 tahun sebelum NKRI lahir atau Kemerdekaan RI diproklamasikan, secara faktual juga membuktikan bahwa ”nagari” yang berubah menjadi Keraton Mataram Surakarta itu masih tetap eksis atau masih bisa dilihat kedua dimensinya hingga tahun 1985.

Lalu apa makna tahun 1985? Dalam terminologi realitas, tahun 1985 bagi warga Kota Surakarta dan publik secara luas waktu itu, adalah saat Keraton Mataram Surakarta mengalami musibah kebakaran hebat, yang waktu itu diidentifikasi sebagai akibat dari hubungan arus listrik pendek atau korsleiting. Musibah ini, sampai menghabiskan bangunan ”gedhong” Sasana Handrawina, sebuah tempat yang fungsinya untuk menerima/menjamu tamu-tamu kehormatan keraton.

”Sampai di situ, banyak orang yang bisa melihat dengan kacamata spiritual kebatinan menangkap pertanda, bahwa ‘wiradat’ yang dilakukan Sinuhun PB X sudah berakhir. Dalam bahasa yang mudah dipahami, masa efektif berlakukanya ‘wiradat’ itu, ya sampai di tahun 1985 itu. Dalam dimensi irasional spiritual maupun fakta realitas, saya bisa percaya. Tetapi, saya juga bisa tidak percaya, karena Allah SWT memberi kita akal dan nalar untuk berpikir, mencari upaya atau ikhtiar. Caranya, ya mari kita bersama-sama ikut peduli dan merawat keraton dan seisinya, agar bisa berumur panjang lagi,” sebut KRT Hendri Wrekso Puspito sembari mengajak khalayak luas peduli.

BERSAMA DUA GENERASI : KRT Hendri Wrekso Puspito bersama putri Sinuhun PB XII (Gusti Moeng) dan putri Sinuhun PB XIII (Gusti Timoer) saat menjelang pelepasan jenazah GKR Retno Dumilah, beberapa waktu lalu. Kedua putri raja itu, merupakan dua generasi berbeda yang sedang menjalani transisi penyerahan estafet pelestarian budaya keraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pertanda Apalagi Bagi Keraton

Ajakan merawat Keraton Mataram Surakarta dan seisinya, agar usianya lebih panjang lagi, tentu merupakan rasa syukur karena sudah terwujud sekaligus harapan akan terwujud di masa-masa mendatang. Karena, setelah 1985 Keraton Mataram Surakarta secara pisik kembali utuh setelah sebuah panitia yang diketuai Jend TNI Soerono (alm) yang wektu itu menjabat Menko Hankam di zaman Orde Baru, mendapat tugas Presiden Soeharto untuk memimpin pembangunan kembali keraton yang rusak akibat musibah kebakaran.

Pembangunan kembali ”gedhong” Sasana Handrawina dan beberapa bagian di Pendapa Sasana Sewaka, ndalem Pakubuwanan, teras Paningrat, Prabasuyasa dan eks kantor Sinuhun PB XI bisa terwujud, secara langsung atau tidak sudah membuktikan bahwa ada upaya kalau tidak boleh disebut ‘wiradat’ (kedua), yang telah dilakukan Sinuhun PB XII bersama masyarakat adatnya. Meskipun, itu juga tidak lepas dari sikap dan rasa hormat pemerintah yang mewakili negara, untuk tetap menghargai jasa-jasa yang pernah diberikan ”nagari” Mataram Surakarta kepada republik ini.

Perbuatan nyata negara di zaman Orde Baru itu, jelas merupakan salah satu bentuk penghargaan sekaligus penghormatan atas pengorbanan ”nagari” Mataram Surakarta di masa silam dan atas jasa-jasa Sinuhun PB XII saat ikut melahirkan NKRI ini, baik pada 17 Agustus 45 maupun di momentum Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag (Belanda), September 1949. Dengan pemulihan wujud bangunan keraton yang habis terbakar, secara tidak langsung dipandang KRT Hendri Wrekso Puspito sekaligus sebagai pemulihan urusan nonpisiknya atau dimensi spiritual kebatinannya.  

Tetapi, perjalanan waktu setelah 1985 memang ujian berat yang harus dihadapi Keraton Mataram Surakarta, yaitu ketika Siuhun PB XII wafat di tahun 2004 dan berlangsung proses suksesi pada tahun itu pula. Banyak yang melihat, termasuk KRT Hendri, wafatnya Sinuhun PB XII seolah-olah menjadi pertanda ”menghilangnya” sebagian besar energi atau power Keraton Mataram Surakarta yang ”tidak kasat mata” atau hanya bisa dilihat dalam dimensi spiritual kebatinan.

”Ya, memang bisa diakui bahwa aura wibawa keraton nyaris hilang karena sosok pemimpin yang seharusnya berada di depan untuk menjaga dan merawatnya, malah terlena menuruti ego pribadi dan kelompoknya dengan perilaku yang sudah jauh menyimpang. Yang saya tidak rela dan tidak ikhlas, perilaku mereka bersifat merusak paugeran dan peradaban. Maka, saya bersama para kerabat dan masyarakat adat yang peduli, cepat-cepat bertindak untuk menyelamatkan keraton dari kehancuran”.

”Tetapi, tiba-tiba ada pandemi dalam dua tahun ini, jelas menjadi kendala bagi upaya itu. Saya ingin mencari tahu, pertanda apa lagi ini bagi keraton. Tetapi, kami ingin tetap berupaya untuk menjaga kelangsungan tapak dan jejak peradaban Mataram ini,” tunjuk GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta dengan tandas, saat dihubungi iMNews.id, kemarin. (Won Poerwono-bersambung)    

1 KOMENTAR

  1. Sinuhun saja tdk bisa mengayomi sodaranya sendiri bagaimana mao nengayomi rakyatnya. Ya tidak ada katalain lebih baik hancor lebur dr pada ribut rebutan kuwoso. Bersyukur berdirinya NKRI jaman dulu kalo suksesi saling bunuh membunuh tdk berperi kemanusiaan. JASMERAH! Amangku rat raja pembantai ulama dan membunuhi selirnya sendiri Ratu Malang dll.

    Peradaban itu silih berganti melalui seleksi alam. Kraton solo di era modern saat ini menunjukan peradaban yg gagal sesama kerabat saling musuhan tdk mencerminkan kebajikan ya bagus kalo hancoor sekalian. Hari gini mau jadi raja tapi raja dolanan gak punya kuasa, kedaulatan atas negri sendiri mirip dagelan ketoprak. Walayooh Ambyarrr

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

More Articles Like This