Tinggal 40 Persen, Prosesnya 2 Tahun, Dibiayai British Library
IMNEWS.ID – Senin Pon (28/9) 2026 kemarin, Kraton Mataram Surakarta mencatat peristiwa baru dalam perjalanan sejarahnya, setidaknya setelah berada di alam republik sejak 17 Agustus 1945. Di awal era kepemimpinan baru Sinuhun PB XIV Hangabehi ini, Bebadan Kabinet 2004 penerus Dinasti Mataram di Surakarta itu menggelar wilujengan dimulainya Digitalisasi Naskah-naskah Sasana Pustaka.
Ritual “wilujengan” yang digelar di Bangsal Smarakata mulai pukul 11.00 WIB itu, dipimpin langsung GKR Wandansari Koes Moertiyah. Doanya dipimpin abdi-dalem juru-suranata RT Irawan Wijaya Pujodipuro, yang diamini sekitar 100 orang dari berbagai elemen yang hadir, terutama dari kalangan masyarakat “naskah” internasional, nasional dan daerah. Jajaran pimpinan Bebadan juga banyak hadir.

Mengenai inti peristiwa yang terjadi Senin siang kemarin, dijelaskan langsung Gusti Moeng (GKR Wandansari) selaku tuan rumah, baik saat memberi sambutan di upacara wilujengan, maupun saat wawancara dengan para wartawan. Para tokoh pimpinan lembaga pernaskahan mulai dari pusat, daerah dan dari Sasana Pustaka juga memberi penjelasan dalam sambutan maupun saat diwawancarai para wartawan.
Baik ritual wilujengan dimulainya “Digitalisasi Naskah-naskah Sasana Pustaka” maupun berbagai pernyataan yang menyertainya, akan tercatat sebagai peristiwa perjalanan sejarah khususnya kagungan-dalem perpustakaan Sasana Pustaka, juga Kraton Mataram Surakarta pada umumnya. Bahkan, publik secara luas juga akan mencatat saat sumber dan pusat berbagai bidang pengetahuan itu makin terbuka.

(foto : iMNews.id/Won Poerwono)
Pimpinan Masyarakat Pernaskahan Nasional (Manasa) Pusat, daerah dan yang mewakili British Library serta Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA) selaku tuan rumah “telah bersepakat”. Bahwa digitalisasi naskah-naskah aset Sasana Pustaka milik Kraton Mataram Surakarta, akan memudahkan masyarakat dunia mengakses naskah manuskrip kuno, yang isinya berbagai pengetahuan kehidupan.
Digitalisasi sebanyak 40 persen sisa dari 1.300-an naskah yang berisi 21 (bukan 12-Red) ribu halaman, yang akan dituntaskan selesai dalam 2 tahun ke depan. Dan 60 persen sebelumnya, sudah dilakukan Nancy K Florida (Ford Foundation) tahun 1980-an, dan dilanjutkan digitalisasi yang dibiayai Kedubes Jerman di RI tahun 2000. Bantuan British Library ini, akan menuntaskan 100 persen digitalisasi naskah kraton.

Penjelasan Aris Triyadi (Manasa Pusat) saat diwawancarai para wartawan, ada bagian yang menarik. Ia menyebut sebuah rangkaian kalimat yang pernah diberikan Gusti Moeng, tetapi masih sulit mengucapkan secara lengkap. Kalimat lengkapnya itu berbunyi, “Lir (kadya) wastra lungset mungguh-ing sampiran”. Kalimat yang muncul bersamaan lahirnya Pujangga Jawa Surakarta, punya makna sangat dalam.
Perpustakaan Sasana Pustaka milik Kraton Mataram Surakarta, diibaratkan seperti bunyi adagium atau kata bijak dalam kearifan Budaya Jawa itu, jika tidak punya makna atau tak berfungsi memberi manfaat apapun kepada kehidupan. Secara jelas dimaksudkan, kalau naskah-naskah pengisi Sasana Pustaka tidak bisa diketahui (dibaca) publik, tentu tak akan terjadi apapun pada peradaban/kehidupan publik.

(foto : iMNews.id/Won Poerwono)
Berbagai naskah aset Sasana Pustaka yang disebut berisi pengetahuan apapun di berbagai bidang kehidupan, jika naskahnya tak pernah bisa dibaca publik, tentu tak akan memberi efek apapun bagi publik. Jika kekayaan naskah yang berisi berbagai bidang pengetahuan tentang kehidupan itu tidak bisa diakses publik, mana mungkin publik bisa tahu, mengenal, memahami dan merubah pandangannya?
Keyakinan terhadap fungsi dan besarnya manfaat setelah naskah-naskah Sasana Pustaka bisa didigitalisasi itulah, yang sangat diapresiasi para pustakawan dan pegiat Manasa. Dan keyakinan Gusti Moeng terhadap nilai manfaat yang begitu besar makna digitalisasi ini, bisa meyakinkan publik bahwa Kraton Mataram Surakarta di era kepemimpinan Sinuhun PB XIV Hangabehi makin memberi manfaat.
“Lir (kadya) wastra lungset mungguh-ing sampiran”, yang dalam pengertian umum antara lain bermakna “seperti busana yang tak terawat (mangkrak) di tempat penyimpanannya”. Seindah dan semahal serta begitu tinggi manfaat busana yang disimpan di tempatnya, jika tidak pernah diketahui publik makna dan manfaatnya, bagaimana bisa disebut bermakna dan bermanfaat, karena sulit diketahui orang.
Kata bijak kearifan budaya ini tentu lahir bersamaan lahirnya para Pujangga Jawa Surakarta dan karya-karya “kapujanggan”-nya. Para pujangga itu, tak hanya para penulis karya sastra macam RNg Ranggawarsita, RT Jasadipura dan lainnya. Melainkan karya para Empu di bidangnya, seni dan budaya, para pemikir cerdik-pandai) dari leluhur, pemimpin Dinasti Mataram hingga Mataram Surakarta.

(foto : iMNews.id/Won Poerwono)
Naskah Serat Tjenthini yang ditulis enam abdi-dalem pemikir yang kemudian diserahkan lepada Sinuhun PB V (1820-1823) sebagai karya pada zamannya, isinya luar biasa. Karena, naskah yang oleh Karkono Komajaya diterjemahkan menjadi 12 buku, masing-masing berisi lebih 300 halaman, berisi aneka pengetahuan yang berkait dengan kehidupan peradaban waktu itu, tetapi masih bermanfaat saat ini.
Di situ, juga ditulis ulang dan dilengkapi karya ayahanda pendahulunya, Sinuhun PB IV (1788-1820) soal pengetahuan religi yang diselaraskan dengan Budaya Jawa. Di Serat Tjenthini itu, juga dimuat karya resep masakan/kuliner Jawa, lebih dari 300 resep menu. Naskah itu diyakini telah diperkaya dari resep menu yang sudah dipraktikkan Sinuhun PB II (1727-1749), sejak Mataram masih di Kartasura.

Karena pentingnya makna dan manfaat naskah-naskah koleksi Sasana Pustaka bagi kehidupan saat itu, peradaban kini dan mungkin mendatang, maka tidak aneh kalau kraton sering mendapat kunjungan. Berbagai pihak kebanyakan kalangan ilmuwan kampus, tertarik mempelajari isi naskah itu. Seperti Fakultas Teknik Unsarwi Jogja, misalnya yang ingin meneliti pengetahuan “teknik kapujanggan” bangunan.
Sebuah kampus di Jakarta, beberapa waktu lalu mengirim rombongan berkunjung di kraton untuk mengkonfirmasi informasi tentang koleksi sejumlah resep jamu yang dulu banyak dikonsumsi para raja dan keluarganya, baik untuk menjaga kesehatan dan obat penyakit. Seringnya Gusti Moeng diundang menjadi pembicara soal ragam busana adat pengantin khas kraton di berbagai forum, itu karena aset naskahnya.

(foto : iMNews.id/Won Poerwono)
Melihat fakta-fakta tentang pentingnya makna dan manfaat naskah-naskah koleksi Sasana Pustaka itu, kini menjadi momentum bagi Kraton Mataram Surakarta untuk lebih membuka diri terutama untuk memudahkan publik dari berbagai ujung dunia untuk mengaksesnya. Dan kesempatan ini, akan menjadi momentum bagi kraton untuk menunjukkan nilai manfaat eksistensinya bagi dunia, yang tak terbatasi pleh apapun.
Di satu sisi, cara berbagi informasi dengan digitalisasi yang akan memudahkan kegiatan akses informasi ke Sasana Pustaka, bisa memperluas sebaran kekayaan seni, adat, tradisi dan budaya serta berbagai pengetahuan yang pernah lahir dari peradaban Mataram Islam, bahkan lebih luas lagi. Di sisi lain, kraton sendiri semakin sulit menjaga, merawat dan mewujudkan semua isi naskah-naskah itu. (Won Poerwono-bersambung/i1)


