Setelah Tertunda 9 Bulan, Akhirnya Sinuhun PB XIV Hangabehi Jumeneng-nata (seri 1-bersambung)

  • Post author:
  • Post published:September 6, 2026
  • Post category:Uncategorized
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Setelah Tertunda 9 Bulan, Akhirnya Sinuhun PB XIV Hangabehi Jumeneng-nata (seri 1-bersambung)
PINDAH PANGGUNG : Dengan langkah meyakinkan, Sinuhun PB XIV meninggalkan Bangsal Manguntur Tangkil seusai ikrar sumpah "nata" sesuai gelar SISKS Paku Buwana, menuju Bangsal Pangrawit untuk berikrar pemimpin baru Dinasti Mataram. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Berbagai Elemen Masyarakat Adat Pakasa Lega, Setelah Hampir “Putus-asa”

IMNEWS.ID – SETELAH menunggu sampai 9 bulan dari gelar “wilujengan” untuk memulai prosesi adat (iMNews.id, 13/11/2025), sesuai kaidah paugeran “boleh” menyandang tugas amanah selaku Sinuhun PB XIV, akhirnya sampai pada tahap akhir persyaratan adat yang harus dipenuhi. Tatacara “njangkepi” upacara adat jumenenngan-nata, lunas dijalankan SISKS Paku Buwana XIV, Sabtu Kliwon (5/9).

Disaksikan berbagai elemen masyarakat adat dari Kraton Mataram Surakarta, perwakilan keluarga besar Dinasti Mataram anggota Catur Sagotra dan raja-raja Nusantara anggota DPP MAKN dan FKIKN, tahap terakhir perjalanan adat untuk gelar Sampeyan-dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS Paku Buwana XIV) “digenapi” penuh. Bila disertakan, gelar asli pemimpin dinasti lebih panjang lagi.

Di antara rangkaian gelar warisan para tokoh pemimpin Dinasti Mataram yang bisa dipakai berbunyi “Senapati ing Ngalaga, Khalifatullah, Ngabdurahman, Sayidin Panatagama”. Kelengkapan gelar untuk seorang “raja” Kraton (nagari) Mataram Surakarta, di belakang SISKS Paku Buwana XIV, adalah rangkaian gelar tersebut. Pemimpin penerus Dinasti Mataram Surakarta, berhak dan sah menyandang gelar itu.

Peristiwa adat, budaya dan tradisi di Kraton Mataram Surakarta yang terjadi pada Rabu Kliwon (5/9) 2026 atau 22 Mulud Tahun Be 1960 itu, menjadi momentum terakhir “penantian” panjang bagi banyak pihak. Momentum itulah yang selama ini ditunggu-tunggu khususnya berbagai elemen masyarakat adat yang dikoordinasi Bebadan Kabinet 2004 dan dipimpin Lembaga Dewan Adat sebagai payung hukumnya.

PEMANDANGAN LANGKA : Peristiwa upacara adat “njangkepi” jumenengan-nata Sinuhun PB XIV, Sabtu (5/9) kemarin, memberikan pemandangan yang sangat langka terjadi di Kraton Mataram Surakarta. Karena, terjadi hanya saat pergantian tahta. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Peristiwa untuk “mengesahkan” sesuai kaidah/paugeran adat tampilnya pemimpin baru Dinasti Mataram Surakarta, sudah 9 bulan ditunggu-tunggu sejak peristiwa 13 November 2025. Sembilan bulan menunggu hingga nyaris “putus-asa”, menunggu hadirnya pemimpin yang diharapkan segera bisa membawa kraton kembali berwibawa, punya kehormatan, harkat dan martabat, yang didukung berbagai elemen masyarakat adat.

Penantian panjang upacara adat yang bertajuk “njangkepi tatacara jumenengan-nata” itu, harus terjadi karena dinamika “politik” internal kraton begitu tajam, bahkan juga “terpengaruh” dinamika sosial dari eksternal kraton. Saat paling berharga yang ditunggu-tunggu sampai 9 bulan itu, karena semua elemen masyarakat adat sudah sampai titik “jenuh” dari peristiwa “Insiden MOM 2017”.

Dinamika “politik” internal yang tajam dan dinamika sosial dari eksternal yang banyak dipengaruhi oleh tayangan platform medsos pribadi inilah, yang ikut mengaduk-aduk suasana kebatinan dan psikologi publik secara luas, termasuk berbagai elemen masyarakat adat. Suasana “pertarungan” opini dan berbagai ekspresi tekanan inilah, yang membuat penantian panjang itu nyaris putus-asa.

“Alhamdulillah, setelah upacara njangkepi tatacara jumenengan-nata kemarin, hati saya merasa lega dan penuh rasa syukur. Karena, bisa berjalan lancar. Meskipun, peristiwa kemarin itu bisa disebut sebagai awal dari perjalanan panjang ke depan. Tetapi, yang lebih penting, setelah jumenengan-nata itu, kita semua bisa menjaga keluhuran kraton dengan melestarikan budaya Jawa”.

SELESAI SIRAMAN : Setelah menjalani upacara “siraman” yang menjadi bagian “ruwatan” yang dipimpin dalang Ki Sri Susilo “Thengkleng”, Sinuhun PB XIV Hangabehi di depan kelir menyaksikan lakon “Sudamala” di Pagelaran, kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Dan penting juga, kita semua diharuskan berupaya agar kraton bisa tetap memberikan manfaatnya bagi kehidupan secara luas. Jadi, rasa lega memang ada, tetapi ada juga tanggung-jawab lebih besar dan berat sudah menunggu di depan. Saya berdoa dan berharap, agar semua bisa berjalan dengan tenteram, rukun dan mendapat restu lan petunjuk Gusti Allah SWT,” harap KRRA Panembahan Gilingwesi.

Ketua Pakasa Cabang Kudus yang punya nama lengkap KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro itu, memeberi ekspresi leganya kepada iMNews.id, dalam Bahasa Jawa “krama inggil”, Minggu (6/9) siang tadi. Trah darah-dalem Sinuhun PB X grade 4 itu, kemarin hadir membawa rombongan 40-an orang. karena ada “insiden” kecil, hanya separo yang bisa sampai Pendapa Sasana Sewaka.

Ekspresi Ketua Pakasa Cabang Kudus itu, bisa menjadi representasi penantian dan kelegaan masyarakat adat elemen Pakasa yang tersebar luas di cabang-cabang yang ada di Provinsi Jateng, Jatim, Jabar, DIY dan sebagainya. Karena, cabang Pakasa  ini punya aktivitas menonjol untuk mendorong “percepatan” ritual “tatacara njangkebi” jumenengan-nata itu, walau melalui donga wilujengan yang selama ini digelar.

Mewakili ekspresi masyarakat “sutresna” budaya yang merasakan kelegaan itu, adalah KRT Wahid Nugroho Reksataya Ajipuro yang dihubungi terpisah, siang tadi. Pembina “Sanggar Tari Giri Alit” di Wuryantoro (Wonogiri) ini, mengaku ikut merasakan lega hati, perasan dan pikirannya, setelah menyaksikan berita-berita tentang peristiwa “ritual njangkebi jumenengan-nata”, Sabtu (5/9) kemarin.

PARA SESEPUH : Diikuti Gusti Moeng dan para sesepuh lain di Kraton, Sinuhun PB XIV Hangabehi menuju tempat ritual “siraman” di belakang Pendapa Pagelaran yang menjadi bagian “Ruwatan Sukerta” sebagai pemimpin baru, Sabtu (5/9) kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sebagai salah seorang lulusan Sanggar Pasinaon Pambiwara yang kini tergabung dalam wadah Pasipamarta, KRT Wahid  mendoakan agar Sinuhun PB XIV Hangabehi selalu diberi keselamatan, mendapat kekuatan lahir-batin dan “kawicaksanan”. Sebagai bagian dari kawula alit, ia berharap agar Sinuhun menjadi pemimpin yang selalu mendapat petunjuk keutamaan (kautaman) yang mengayomi semuanya.

“Mugi dados pangarsa ingkang saget ngayomi sadaya kawula, ngreksa adat budaya leluhur, miwah nuntun nagari mring kamulyan lan kesejahteraan,” tandas KRT Wahid atas nama keluarga besar Sanggar Tari Giri Alit. Selain dua perwakilan “kawula” dari dalam dan luar elemen Pakasa itu, rasa lega berkurang tekanan psikisnya, tentu dirasakan para “nara-praja pengageng” Bebadan Kabinet 2004.

“Yang jelas, saya merasa lega. Semua tatacara adat sesuai paugerannya sudah lengkap,” ujar singkat KRMH Suryo Kusumo Wibowo (Wakil Pengageng Sasana Prabu). Tokoh “wayah-dalem” Sinuhun PB XII yang juga salah seorang putra KGPH Puger ini, sering mendapat tugas “berat” selama menjadi “nara-praja” Bebadan. Tugas-tugasnya selalu berkait dengan upacara adat yang diklaim “milik” dua pihak.

Berikut adalah ekspresi KPH Adipati Sangkoyo Mangunsudarmo (Pengageng Karti Praja) dan KPP Haryo Sinawung Waluyoputro (Wakil Pengageng Karti Praja) yang dihubungi di tempat terpisah, Sabtu (5/9) dan Minggu (6/9). Secara singkat KPH Sangkoyo berucap, lega sekali dan senang sekali. “Jane ya seneng, ning ya ana rasa ngganjel sing marakne ora lega tenan,” ujar sesepuh wayah-dalem PB XI itu.

MENJALANI SUMPAH : Sinuhun PB XIV Hangabehi menjalani sumpah di bawah Alqur’an dalam sebuah upacara religi, yang digelar di kagungan-dalem Masjid Suranatan dan dipimpin abdi-dalem ulama RT Irawan Wijaya Pujodipuro, Jumat (4/9) tengah malam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

KPP Haryo Sinawung menilai, upacara adat yang berlangsung Sabtu (5/9),  menjadi pertanda gelar SISKS PB XIV sudah genap dan sah, baik menurut hukum negara, sesuai aturan agama maupun kaidah paugeran adat. Tetapi, masih ada sedikit ganjalan yang harus “diselesaikan” dengan tegas, oleh pemerintah, termasuk tes DNA. Semua langkah terakhir dari negara itu, demi kebaikan semuanya.

Walau tidak secara langsung berada di tengah-tengah peristiwa Sabtu siang (5/9) itu, tetapi KPP Nanang Soesilo Sinduseno Tjokronagoro bisa merasakan hati yang lega setelah sekian lama ikut merasakan tekanan yang puncaknya karena ada dua “raja kembar”. Sambil menjalani terapi di kediamannya, ia selalu memantau situasi dan kondisi kraton, termasuk kisah “perjalanan” Sinuhun PB XIV Hangabehi. (Won Poerwono-bersambung/i1)