Berpotensi Menjadi Ladang Penelitian Menarik di Bidang Sejarah dan Budaya
IMNEWS.ID – WALAU sudah lewat hampir sebulan, tetapi pristiwa langka yang terjadi Sabtu Kliwon, 5 September 2026 atau 22 Bakda Mulud Tahun Be 1960/22 Rabiul ‘Akhi 1448 Hijriyah sulit dilupakan. Bagi masyarakat adat Dinasti Mataram dan Dinasti Mataram Islam Surakarta, peristiwa itu mungkin akan selalu diingat. Bahkan, publik secara luaspun akan mencatat sebagai fenomena zaman.
Peristiwa perjalanan sejarah Kraton Mataram Surakarta, sedang terjadi pada 22 Bakda Mulud Tahun Be 1960 yang tepat pada 5 September 2026 , Sabtu Kliwon lalu. Yaitu upacara adat “njangkepi” tatacara “jumenengan-nata” Sinuhun Paku Buwana XIV, sebagai penanda peristiwa lahirnya pemimpin baru, sekaligus era baru Kraton Mataram Surakarta dan Dinasti Mataram Surakarta setelah PB XIII wafat.
Peristiwanya sendiri, tatacara penggenapan rangkaian upacara ada yang harus dijalani seorang Pangeran Adipati Anom KGPH Hangabehi menyandang gelar SIKS Paku Buwana XIV, saat itu, menjadi fenomena luas biasa dalam beberapa hal yang tampak dalam citra visualnya. Tetapi, berbagai unsur dan faktor yang mengikuti peristiwa itu, juga menjadi fenomena luar biasa yang tak banyak dipahami publik.
Karena fenomena yang luar biasa itu adalah unsur-unsur dan faktor yang tidak langsung tampak di depan mata, maka tidak aneh kalau tidak gampang dipahami publik secara luas. Hanya orang-orang tertentu yang punya pengalaman mencatat perjalanan sejarah Kraton Mataram Surakarta, di antara para pelaku sejarahnya dan beberapa tokoh praktisi ilmu sejarah yang bisa memahami peristiwa/fenomena itu.

Seperti Ki Dr Purwadi, dosen di sebuah universitas negeri dan sekaligus Ketua Lokantara di Jogja, misalnya, menjadi salah satu yang mengamati dan mencatat peristiwa sejarah fenomenal itu. Tak sama dengan para pengamat atau praktisi ilmu sejarah atau pemerhati peristiwa itu lainnya, peneliti sejarah yang tinggal di Jogja itu mencatat perjalanan peristiwa itu dalam “tembang Macapat”.
Cara-cara mencatat peristiwa sejarah yang sangat langka pada zaman semodern ini, tetapi bisa diwujudkan Ki Dr Purwadi asal Mojorembun, Nganjuk (Jatim) itu. Media iMNews.id mendapat kiriman sedikitnya 8 judul karya catatan peristiwa bertema tampilnya Sinuhun PB XIV, yang ditulis sejak malam “Midadareni” (4/9) menjelang Sabtu (5/9), hingga beberapa hari sesudahnya, misalnya Minggu (20/9).

Rangkaian fakta peristiwa yang didukung data sejarah para tokoh leluhur sebelumnya, disajikan dalam tembang “Macapat” utuh dalam 11 jenis. Semua fakta peristiwanya dirangkai lirik atau “cakepan” tembang mulai dari “Mijil” (lahir) hingga “Megatruh” (meniggal), yang menggambarkan siklus kehidupan manusia mulai dari dalam kandungan (Mas Kumambang) hingga akhir hayat memasuki alam kubur.
Cara mencatat peristiwa yang berarti mengabadikan atau mendokumentasikan sejarah seperti itu, memang sangat langka di zaman milenial ini. Jangankan menyajikan, walau dengan aksara dan kalimat latin, di zaman super modern ini sudah langka manusia yang bisa membaca dan memahami dokumen beraksara Jawa dan berbahasa Jawa. Sekalipun, mereka itu doktor dan dosen jurusan Sastra Daerah.

Tetapi, Ki Dr Purwadi adalah beda dan langka. Dia bukan ilmuwan yang sekadar menjalankan tugas rutin dan menikmati gajinya dari negara. Dia juga bukan tipe ilmuwan yang mencari tambahan dari anggaran penelitian, yang selalu tunduk “mengikuti” arus (politik) kampus karena “instruksi” arus politik pemerintahan. Dia adalah ilmuwan yang berusaha jujur pada kebenaran fakta sejarah.
Salah satu karya berjudul “Paku Buwono Kawan Welas” yang disimpan di situs “Blognya” (Minggu, 20/9) itu, dalam bait “Dhandhanggula” berisi: “Mitra dasih tarimane; Punjer pancer lima keblat papat; Kawula ndherek sumendhe; Terang kawan angiyup; Welas asih wardaya bersih; Narendra Surakarta; Pangarsa Sinuhun; Ambeg adil paramarta; Sung palupi pepuntone tanah Jawi; Mangke awoh kamulyan”.

Sedang catatan yang dikirim ke iMNews.id tepat pada peristiwa Sabtu Kliwon (5/9) itu berjudul “Jumenengan Paku Buwono XIV”, berupa naskah “Blog” biasa untuk situsnya. Ia merangkai kilasan sejarah Kraton Mataram Surakarta saat Sinuhun PB XIV tampil memimpin, yang dilengkapi data para tokoh leluhurnya. Di situ, Ki Dr Purwadi mencatat peristiwa “ritual njangkepi” dengan lengkap.
Dengan gaya khasnya, Ki Dr Purwadi bukan ilmuwan pengamal pengetahuan dan teori sejarah dari “text books” dan penelitian disertasi saja. Ia rajin proaktif sebagai partisipan sejarah, khususnya pada proses pra hingga pasca Sinuhun PB XIV tampil. Penelitian dan kajiannya khusus soal Mataram dan Mataram Surakarta, pasti akan banyak mengedukasi (menginspirasi) generasi kehidupan 50-100 tahun lagi.

Sampai di situ, fenomena peristiwa upacara adat tahap akhir “jumenengan-nata” Sinuhun PB XIV Hangabehi itu, mampu memberi daya tarik bagi salah satu kalangan pemerhatinya. Yaitu, kalangan yang bisa menjadikan peristiwa ini sebagai ladang penelitian ilmiah untuk beberapa bidang pengetahuan. Setidaknya bidang sejarah, adat, tradisi, seni dan Budaya Jawa yang sangat lengkap sesuai peristiwanya.
Tetapi, gaya penelitian yang dilakukan Ki Dr Purwadi, terbukti penuh dedikasi dan pengorbanan, karena dilakukan dalam waktu panjang dan pasti mengeluarkan biaya tidak sedikit. Tetapi, hasil jerih-payahnya pasti akan lebih baik dari penelitian “proyek” yang orientasinya banyak di perpustakaan. Dosen dan ilmuwan “pemalas” mungkin tidak mau bekerja sekeras itu, karena memang menguras energi.

Peristiwa tahap akhir “Jumenengan-nata” Sinuhun PB XIV Hangabehi, jelas menyajikan rangkaian perjalanan sejarah kepemimpinan dan kelangsungan Kraton Mataram Islam (1588-1745) dari Panembahan Senapati hingga Sinuhun PB II, yang berlanjut pada Kraton Mataram Islam Surakarta (1745-1945) dari Sinuhun PB II hingga Sinuhun PB XII. Bahkan masih eksis dari PB XII hingga Sinuhun PB XIV kini.
Penelitian sejarah tentang perjalanan Kraton Mataram Surakarta dan Dinasti Mataram secara keseluruhan sangat perlu dilakukan, terutama dibuat kajian ulang semua peristiwanya dengan detil dan penuh kejujuran. Karena, sebagai pelajaran di berbagai jenjang sekolah, masih banyak pelajaran sejarah berbasis data-data (buku) yang disusun mengabaikan sisi kejujuran, sehingga berkesan menyimpang.

Selain sejarah, peristiwa “jumenengan-nata” Sabtu (5/9/2026), bisa menjadi objek edukasi pengetahuan fotografi, videografi, perfilman dan sebagainya. Bahkan, bisa menjadi objek penelitian di bidang fashion berbasis busana adat dan tatacara penggunaannya. Berikut, adalah ladang penelitian tentang ilmu komunikasi, karena tatacara sebanyak itu bisa dipandu hanya dengan suara gamelan.
Ini sangat menarik khususnya bagi pihak-pihak yang sedang mengembangkan dan menekuni bisnis event organizer (EO). Karena, event upacara adat Jumenengan-nata”, tanpa master of ceremony (MC) dan sound system, bisa berjalan lancar, khidmad, penuh estetika, keagungan dan kedamaian. Ritual itu menjadi antitesis terhadap anggapan publik yang meyakini, event bisa berjalan lancar karena ada MC. (Won Poerwono-bersambung/i1)


