Langsung Menjawab Tantangan dan Kebutuhan Riil di Tengah Kesulitan
IMNEWS.ID – “PITUTUR” atau adagium dari kearifan Budaya Jawa yang berbunyi “alon-alon waton kelakon” dan “gremet-gremet waton slamet”, rupanya masih bisa diterima nalar manusia pada kehidupan semodern ini. Karena, “pitutur” yang menunjuk pada bentuk kesabaran, pengendalian diri dan penuh kehati-hatian dalam melangkah bersamaan doa yang selalu dipanjatkan, ternyata berbuah hasil.
Tak sekadar membuahkan hasil, tetapi memuaskan hasil yang dipetiknya. Langkah-langkah yang cermat seperti terlukis di atas, walau pelan atau “alon-alon”, akhirnya sampai juga pada tujuan yang diharapkan atau “kelakon”. Tak hanya itu, langkah-langkah yang disertai doa (transendental), jauh dari sikap sombong sifat culas (jahat), akhirnya sampai di tujuan dengan selamat atau “slamet”.

Langkah yang harus “gremet-gremet” atau berjalan pelan ibarat siput (bekicot) selama 9 bulan setelah Sinuhun PB XIII wafat (2 November 2025), akhirnya sampai di tujuan yang pasti. Tujuan ideal itu adalah tahta jumeneng-nata sebagai SISKS PB XIV secara lengkap, final, tuntas dan sah sesuai matra hukum adat, hukum nasional dan hukum agama. Walaupun, tujuan itu sebenarnya adalah permulaan.
Soal “awal” atau “permulaan” seperti yang dimaksud KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus) dalam kesan, doa dan harapannya untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi, bisa didalami pada sesi terpisah. Tetapi, dari perjalanan pencapaian di atas bisa menjadi edukasi bagi publik peradaban secara luas, bahwa ada nilai-nilai terselip dalam suatu proses.

“Nilai-nilai” yang terselip dalam proses pencapaian apapun yang dilakukan dalam kehidupan, terlebih untuk meraih sesuatu yang ideal bagi diri, keluarga dan peradaban secara luas, itulah letak kunci “sukses” yang harus dipahami. Inilah yang dimaksud tokoh “lembaga kapujangan” KPH Dr Raditya Lintang Sasangka (dosen FEB UNS), dalam proses “bersekolah” atau menuntut ilmu sekaligus “ngilmu”.
Bahwa menuntut ilmu di Sanggar Pasinaon Pambiwara (kraton), tak bisa disamakan dengan proses belajar di lembaga pendidikan yang jenjangnya dari TK hingga perguruan tinggi itu. Meskipun, sebenarnya jenjang pendidikan ini dulunya juga merupakan proses “bersekolah” untuk menuntut ilmu sekaligus “ngilmu”. Karena, disertai nilai-nilai kesabaran, pengendalian diri, penuh kehati-hatian dan doa.

Bila dicermati salah satu bagiannya saja menunjukkan, bahwa “bersekolah” jangan dimaknai sebatas pekerjaan fisik datang ke sekolah, mengikuti pelajaran dan kembali ke rumah. Tetapi, sekolah harus dijamin menjadi tempat meyakinkan untuk mengedukasi para siswanya, bahwa ilmu pengetahuan yang diajarkan bermanfaat bagi kehidupan secara luas. Nilai “laku” (doa), tak sekadar mengejar ijazah.
Karena kalangan lembaga sekolah resmi yang diselenggarakan negara sudah tidak mengakomodasi hal-hal yang berkait dengan nilai-nilai kearifan budaya, maka hanya lembaga-lembaga informal milik kraton kini diharapkan menyediakan ruang edukasi dengan nilai-nilai itu. Soal ini juga yang pernah ditegaskan Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara dalam pesannya, bahwa “Ratu kudu ngerti laku”.

Maka sepertinnya tidak salah, bahwa “laku” yang memadukan antara perjalanan spiritual kebatinan dan religi begitu lengkap yang dijalani Sinuhun PB XIV Hangabehi, telah menuntunnya sampai pada tujuan ideal. Yaitu amanah tugas, kewajiban dan tanggung-jawab besar/berat di balik mahkota gelar SISKS Paku Buwana XIV yang didapat dan disandang kini, karena dia “Ratu ngerti ing laku”.
Sampai di sini, makin banyak hal pembeda antara “ratu” yang “ori” (original) dan “imitasi” yang bisa diidentifikasi (iMNews.id, 11/92026). Meskipun mengutip pesan, doa dan harapan Ketua Pakasa Cabang Kudus yang juga pengasuh 4 Majelis Taklim miliknya itu, bahwa genapnya gelar yang disandang itu bukan akhir dari perjalanannya, melainkan awal dari tugas, tanggungjawab dan kewajibannya.

“Reminder” yang ada dalam doa, pesan dan harapan Ketua Pakasa Cabang Kudus, rupanya menjadi kenyataan atau sesuatu yang perlu diwujudkan. Karena, beberapa saat setelah menjalani upacara adat “njangkepi” tatacara jumenengan-nata, Sabtu (5/9) itu, Sinuhun PB XIV langsung mewujudkan perannya selaku “pemimpin”, yaitu menjalankan tugas, kewajiban dan tanggung-jawab dalam kehidupan “eksternalnya”.

Dia langsung “cancut-taliwanda” (bergegas) mengajak rombongan timnya berkunjung ke warga masyarakat di lingkungan TPA Putri Cempo, Kecamatan Jebres, Surakarta. Ia berempati dengan derita warga di lingkungan TPA, yang selama sepekan lebih menjadi korban terpapar asap kebakaran “gunungan sampah”. Ia membagikan 1.300 paket bahan pangan, yang diserahkan secara simbolis kepada Lurah setempat.
Reaksi cepat Sinuhun PB XIV Hangabehi dan keluarga besar Kraton Mataram Surakarta, atas kesulitan sebagian warga bangsa korban situasi dan kondisi negara yang sedang tidak baik-baik saja ini, menjadi fakta dan bukti riil di lapangan. Bahwa, lembaga kraton dan pemimpin barunya bersama berbagai elemen masyarakat adat yang dimiliki, secara umum tak beda kondisinya tetapi “peka”.

Masih punya “kepekaan” atau sensitivitas tinggi terhadap penderitaan sesama. Ia bahkan sosok representasi kearifan Budaya Jawa “sejati”. Tak banyak berteori, ia langsung mewujudkan “sense of crisis” dan “sense of humanity”-nya. Dengan membawa rombongan jajaran Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng, ia juga berempati pada kesulitan warga yang mengalami kekeringan di Wonogiri.
Walau gagasan cerdas seperti itu sangat mungkin tidak berdiri sendiri, tetapi jajaran Bebadan Kabinet 2004 kali ini mendapatkan pasangan atau “encon” yang sefrekuensi, setara, senasib dan sepaham dalam merespon situasi dan kondisi riial di lingkungan kraton. Sinuhun PB XIV Hangabehi dan jajaran Bebadannya, juga berbagai elemen masyarakat adatnya, kompak ingin mengembalikan posisi kraton.
Semua tampak penuh kesadaran dan kepedulian untuk mengembalikan posisi kraton yang lama terpuruk, terutama akibat ulah kelompok “sabrang” (wajah merah) sejak April 2017. Membawa kraton kembali pada kehormatannya, kewibawaan, harkat dan martabatnya. Karena, tak hanya semua yang berada di bawah Bebadan Kabinet 2004, LDA dan berbagai elemennya, peradaban duniapun juga masih membutuhkan kraton. (Won Poerwono-habis/i1)


