Sejumlah Seniman Jepang Gelar Konser “Gagaku” di Kraton Surakarta

  • Post author:
  • Post published:September 9, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Sejumlah Seniman Jepang Gelar Konser “Gagaku” di Kraton Surakarta
SAMBUTAN PEMBUKAAN : Disaksikan Sinuhun PB XIV Hangabehi dan para kerabat, Gusti Moeng memberi sambutan dan membuka pentas misi seni dari Jepang yang dikoordinasi Prof Fumiko Tamura, di teras Pendapa Sasana Sewaka, Selasa (8/9). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sebelum Menyaksikan, Sinuhun Mengunjungi Warga Sekitar “Putri Cempo”

SURAKARTA, iMNews.id – Semalam (Selasa, 8/9), sejumlah seniman Jepang yang dikoordinasi Prof Fumiko Tamura, menggelar konser musik dan tari di “topengan” Pendapa Sasana Sewaka Kraton Mataram Surakarta. Pentas yang dimulai pukul 20.00 WIB, ditutup sajian tari khas kraton “Wireng Bandabaya”, disaksikan Sinuhun PB XIV Hangabehi beserta sekitar 200 kerabat dari berbagai elemen masyarakat adatnya.

Selaku tuan rumah, Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Umum LDA) membuka pertunjukan misi kesenian itu dengan dengan menegaskan, bahwa kraton terbuka menyambut kehadiran para seniman Jepang, yang akan tampil menyajikan kesenian untuk mempererat hubungan persaudaraan. Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan kraton itu juga menyinggung sinopsis tari “Wireng Bandabaya” sajian dari tuan rumah.

Sebelum penyajian konser musik dan tari “Gagaku”, dosen peneliti di Universitas Fukuoka (Jepang), Prof Fumiko Tamura (70), mengantar dengan sambutan yang mengisahkan soal musik dan tari “Gagaku”. Malam itu, kerabat “ring satu” hadir mendampingi Sinuhun PB XIV Hangabehi, termasuk KGPH Madu Kusumonagoro, GKR Ayu Koes Indriyah, KPH Edy Wirabhumi, para sentana-dalem dan jajaran Bebadan Kabinet.

Bahkan, ada Raja Nusak Termanu (NTT) Vico Amalo dan istri, ikut menyaksikan pentas seni misi kebudayaan Jepang yang termasuk langka dan fenomenal. Sebagai penghormatan, pentas digelar di “topengan” Pendapa Sasana Sewaka. Pertunjukan dan sajian yang langka, karena digelar di teras pendapa sebagai “panggung”, dan dinikmati dari “plataran” terbuka, di sela-sela pohon “Sawo Kecik Manila”.

MUSIK DAN TARI : Musik “Gagaku” mengiringi tari “Gagaku”, sajian para seniman Jepang yang melakukan misi seni ke Kraton Mataram Surakarta atas inisiasi dan koordinasi Prof Fumiko Tamura, Selasa (8/9) malam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ada dua belas musisi yang lama berkolaborasi dengan Prof Fumiko Tamura di Provinsi Fukuoka, Jepang, tampil memainkan beberapa instrumen musik “Gagaku”. Selama 15-an menit disajikan musik instrumental  “Gagaku”, dan sekitar 15 menit berikut musik disajikan untuk mengiringi tarian ritual tradisional di Jepang yang juga bernama “Gagaku”. Prof Fumiko menyebut, musik itu tertua di dunia.

Dalam penjelasan sinopsis “Gagaku”, Profesor peneliti “gong” di sejumlah negara Asia itu menyebut, musik “gagaku” usianya lebih dari satu milenium (seribu tahun). Musik itu mulai berkembang antara abad 5-9, sebagai hasil pergaulan (akulturasi) antara bangsa Jepang, China dan Korea. Gabungan antara beberapa unsur kebudayaan itu, terlihat pada jenis instrumen musiknya yang digunakan.

Semalam, saat sajian instrumentalia pertama ada 11 musisi yang terdiri 3 orang peniup seruling, 3 peniup jenis alat musik kuno khas tradisi Jepang, seorang penabuh bedug, penabuh kendang/ketipung, penabuh gong beri, penabuh kecapi dan pemain instrumen mirip gitar. Alar musik mirip kecapi atau “siter”, identik dari kebudayaan China, dan salah satu alat tiup atau perkusinya, dari Korea.

Sajian ketiga atau terakhir, musik “Gagaku” kembali dimainkan untuk mengiringi tari “Gagaku” yang ekspresinya mirip prajurit kuno kekaisaran Jepang. Sajian tari bertopeng itu, disebut Ptof Fumiko sering disajikan di kuil-kuil dan kerajaan pada upacara keagamaan (Buda). Nama “Gagaku” terdiri dari “ga” yang artinya halus dan “gaku” artinya musik, dan sebelum disajikan ada proses “pathetan”.

MENJADI PROPERTI : Para penari “Gagaku” rombongan seniman Jepang, malah menjadi properti panggung di teras Pendapa Sasana Sewaka yang menjadi panggung pertunjukan musik dan tari “Gagaku”, saat ytari “Wireng Bandabaya” disajikan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Jadi, hampir sama dengan penyajian gendhing-gendhing karawitan Jawa di sini (kraton). Sebelum pementasan, juga dilakukan proses ‘pathetan’,” ujar Prof Fumiko saat mengantar pentas. Usai berakhir seluruh sajian rombongan tamu dari Jepang, dilakukan foto bersama. Termasuk para musisi “Gagaku” yang tak beranjak dari panggung, walaupun ada sajian penutup tari “Wireng Bandabaya” dari kraton.

Foto bersama para penyaji, berlangsung dua kali, yaitu saat berakhir sajian rombongan tamu maupun setelah sajian penutup dari tuan rumah. Kedua sesi foto itu meminta Sinuhun PB XIV, Gusti Moeng, Prof Fumiko dengan seluruh seniman penyaji dari Jepang, sesi bersama penyaji tari “Wireng Bandabaya” dan bersama seluruh penyaji. Bahkan, suami-istri Raja Nusak Termanu (NTT) juga diajak foto.

Tari “Wireng Bandabaya” menjadi sajian penutup pentas misi seni dari rombongan Jepang yang dibawa Prof Fumiko Tamura itu. Kedatangan sajian “Gagaku” ini sudah kali kedua di Surakarta yang diinisiasi Prof Tamura, meskipun para senimannya sudah berganti generasi. Kedatangan pertama, “Gagaku” digelar di Kadipaten Mangkunegaran tahun 1982, dan kraton juga menyajikan tari yang dipimpin Gusti Moeng.

“Saat itu, tim kesenian Kraton (Mataram) Surakarta menyajikan tari ‘Bedhaya Dursadasih’. Saya termasuk bangga, karena jenis tarian sakral ini bisa disajikan di luar kraton,” ujar Prof Fumiko. Penyajian repertoar tarian sakral khas kraton di luar lingkungan (kraton), bukan pertama dan bukan “larangan”. Karena, ada persyaratan khusus yang harus dipenuhi untuk mementaskan di luar.

FOTO BERSAMA : Para penari dari rombongan misi seni Jepang, berfoto bersama dengan Sinuhun PB XIV Hangabehi usai menggelar konser musik dan tari “Gagaku” di “topengan” Sasana Sewaka, Selasa (8/9) malam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Mengenai tari “Wireng Bandabaya”, oleh petugas pambiwara dikisahkan adalah tarian khas prajurit yang siap berperang yang “disusun” kembali oleh Sinuhun PB IV. Selain ada perubahan properti yang melukiskan peralatan perang, nama juga berubah menjadi “Wireng (wira-ing) Bandabaya”. Tarian ini diciptakan Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma (abad 16) dengan nama “Wireng Lawung”.

Sedangkan Prof Fumiko Tamura yang menginisiasi misi seni itu, adalah tokoh yang tak asing lagi bagi Kraton Mataram Surakarta, khususnya bagi GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng). Karena, kali pertama datang di Surakarta dalam program pertukaran pelajar di tahun 1980-an, mulai berdialog dengan Gusti Moeng selaku penari, koreografer dan pimpinan Sanggar Beksa Kraton Mataram Surakarta.

Hubungan silaturahmi yang berlanjut terus antara Jepang yang diwakili Prof Fumiko dan kelompok keseniannya serta Universitas Fukuoka, dengan Indonesia yang salah satunya diwakili Kraton Mataram Surakarta yang direpresentasikan Gusti Moeng. Penelitian tentang seni karawitan, gamelan dan tari menjadi kegiatan lanjutan yang dilakukan Prof Fumiki dalam 30-an tahun terakhir ini.

Kraton Mataram Surakarta lebih banyak dan lebih sering dikunjungi Prof Fumiko, karena memiliki aset ragam dan jenis koleksi kesenian khas yang lebih banyak dibanding kraton dan negara lain. Dan hasil-hasil penelitiannya, selain sebagai bentuk promo destinasi wisata budaya bagi bangsa Jepang, juga menjadi ilmu pengetahuan yang diajarkan di Universitas Fukuoka, tempat Prof Tamura mengajar.

SECARA SIMBOLIS : Secara simbolis, Selasa sore (8/9), Sinuhun PB XIV Hangabehi menyerahkan bingkisan kepada Katarina Kartika (Lurah Mojosongo). Lebih 1000 paket bantaun diserahkan untuk warga yang terdampak kebakaran TPA Putri Cempo. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sementara itu, sore sebelum menyaksikan pentas misi seni dari Jepang itu, Sinuhun PB XIV Hangabehi sempat memimpin rombongan untuk mengunjungi warga yang tinggal di lingkungan TPA Putri Cempo yang kini sedang terbakar. Kunjungan yang diikuti sekitar 50-an orang itu, sambil membawa lebih 1.000 paket bingkisan bahan pangan dan langsung dibagikan kepada warga yang terdampak asap kebakaran.

Secara simbolis, bingkisan diserahkan kepada Lurah Mojosongo (Kecamatan Jebres) Katarina Kartika Panca Chris Daryani SE MM, lalu kepada perwakilan warga dari beberapa lokasi. Didampingi GRAy Putri Purnaningrum, KRMH Suryo Manikmoyo, BRAy Salindri, BRA Lung Ayu, BRAy Arum Kusumopradopo dan beberapa sentana-dalem, Sinuhun diajak menyaksikan “gunungan” sampah yang terbakar dari atas kanopi. (won-i1)