Tiga-belas Gamelan Dikeluarkan, Plus Gamelan “Iringan” Sinuhun PB IX
IMNEWS.ID – UPACARA adat “jumenengan-nata” Sinuhun PB XIV Hangabehi, 5 September 2026, walau hanya tinggal “tatacara njangkepi” ritual “wilujengannya” yang sudah lalu (iMNews.id, 13/11/2025), tetapi merupakan sajian “konser” luar biasa dan fenomenal. Peristiwa “orkestra” berbagai jenis gamelan pusaka terutama “pakurmatan”, langka terjadi, hanya kalau ada pergantian tahta “raja”.
Karena menjadi momen langka dan fenomenal, pada peristiwa dalam rangka jumenengan-nata pemimpin baru SISKS Paku Buwana XIV Hangabehi ini, terkesan dipersiapkan benar-benar dan disajikan secara profesional oleh para seniman (abdi-dalem) profesional di bidangnya. Karena, tiap unit gamelan terpencar di beberapa lokasi di kawasan luas, hanya dikoordinasi melalui HT dan “suaranya”.

Handytalky (HT) adalah perangkat alat komunikasi modern yang membantu koordinasi kelancaran penyajian “konser orkestra” gamelan ritual, siang itu. Tetapi secara natural prosedural sesuai kaidah paugeran adat, sudah tepat sajian semua jenis gamelan yang terstruktur sistematik dari awal hingga akhir, berjalan berurutan tanpa teknologi sound system dan tak perlu jasa “MC”.
Di satu sisi, seluruh struktur sajian “orkestra” gamelan itu melukiskan betapa hebat kualitas keahlian, kecerdasan dan kepekaan faktor manusianya pada masa lalu. Tetapi, kesesuaian berbagai daya dukung lain untuk menggelar “konser orkestra” ritual jumenengan-nata itu, juga menjadi bagian integral dari standar kepekaan, keahlian dan kecerdasan manusianya yang berkualitas tinggi pula.

Kisah tentang gamelan khususnya instrumen “gong” yang ditabuh (dipukul) bisa didengar sampai radius 7 KM, adalah salah satu hasil penelitian Prof Fumiko Tamura. Hasil penelitian dari Universitas Fukuoka (Jepang) ini, tentu menjadi bukti kuat dan membenarkan kraton tetap konsisten menggelar “konser orkestra” gamelan ritual jumenengan nata, secara natural sesuai kaidah paugeran adat.
Walaupun jumlah jenis gamelannya banyak dan ditabuh di sejumlah lokasi di kawasan luas, sekitar 1 hektare atau dalam radius 500 meter, tetapi masing-masing jenis gamelan yang ditabuh masih bisa “didengar”, terlebih dikoordinasi dengan bantuan HT. Beberapa lokasi gamelan ditabuh adalah bagian dari kawasan yang “ramah” akustik gamelan, walau suasana di luar upacara riuhnya bukan main.

Kebisingan suasana aktivitas pasar (Klewer) dan perparkiran, lalu-intas pengguna jalan di sekitar kompleks Pendapa Sitinggil Lor dan Pendapa Pagelaran terutama Jalan Supit-Urang, menjadi ilustrasi tantangan berlangusngnya upacara adat “tatacara njangkepi” jumenengan-nata. Itulah tantangan “konser orkestra” gamelan pusaka kraton, yang tetap bisa tersaji dengan baik, lancar dan sukses.
“Dalam tatacara njangkepi jumenengan-nata kemarin itu (iMNews.id, 5/9/2026), kami mengeluarkan 13 perangkat gamelan untuk iringan upacara di Pendapa Sasana Sewaka, Sitinggil Lor dan Pendapa Pagelaran. Bahkan ada satu lagi, gamelan yang dulu sering dipakai mengiringi Sinuhun PB IX mendalang, juga dikeluarkan di Bangsal Pradangga Lor. Kiai Udan Arum dan Kiai Udan Asih,” tunjuk Gusti Moeng.

Pengageng Sasana Wilapa yang juga Ketua Umum Lembaga Dewan Adat (LDA) itu bahkan menyebut, gamelan “yasan” zaman Sinuhun PB IX (1861-1893) itu baru kali pertama ini dikeluarkan sejak 1893. Sepasang gamelan Kiai Udan Arum (slendro) dan Kiai Udan Asih (pelog), setelah tak digunakan untuk mengiringi Sinuhun PB IX mendalang, hanya disimpan saja hingga 100 tahun lebih baru dikeluarkan.
“Gamelan itu kemarin untuk menyajikan gendhing-gendhing klenengan, di sela-sela bermacam-macam gamelan pakurmatan itu. Dulu, gamelan Kiai Udan Arum-Kiai Udan Asih hanya untuk mengiringi saat Sinuhun mendalang. Karena, Sinuhun PB IX itu juga bisa mendalang. Setelah zaman beliau, gamelan ini hanya disimpan saja. Dan baru untuk keperluan (jumenengan-nata) ini dikeluarkan,” ujar Gusti Moeng.

Walau zaman semakin maju dan tantangannya semakin berat untuk menggelar upacara adat yang lalu-lintas pengaturan pergantian tahapannya berbasis bunyi/suara gendhing (gamelan), tetapi tata-ruang kawasan kraton dan kualitas instrumen gamelan yang digunakan untuk upacara, masih sangat memadai. Tingkat kebisingan suasana gangguan (noise) di sekitar tempat upacara, masih juga bisa diatasi.
“Dulu, saat jumenengan-nata Sinuhun PB XIII, gamelan yang keluar tidak sebanyak sekarang. Dulu masih ada tokoh-tokoh hebat seperi BKPH Prabuwinoto (alm) yang didukung KPH Raditya Lintang Sasangka. Sekarangternyata lebih berat, karena gamelan semakin banyak, dan penyajiannya semakin rapat (padat). Dalam naskah itu disebut ‘ungelipun matundha-tundha’ (tak ada jeda),” ujar KRT Dr Joko Daryanto.

Abdi-dalem Mandra Budaya KRT Dr Joko Daryanto (dosen pengajar FKIP UNS) adalah petugas yang dipercaya mengatur lalu-lintas gamelan iringan upacara “njangkepi tatacara jumenengan-nata”, Sabtu (5/9) lalu. Ia bekerja-sama solid dengan KP Budayaningrat, dwija Sanggar Pasinaon Pambiwara yang mengakses data Sasana Pustaka, untuk mendapatkan naskah pedoman upacara jumenengan-nata tahun 2026 ini.
Kalau KRT Dr Joko secara khusus mengurus gamelan iringan upacara dan memegang kendali koordinasi lalu-lintas pergantiannya, KP Budayaningrat fokus pada “lampah-lampah” dan urutan upacara adat “njangkepi” tatacara, sekaligus yang memimpinnya. Mulai dari pergerakan prosesi saat Sinuhun PB XIV dari dalam kraton, menuju Bangsal Manguntur Tangkil, Bangsal Pangrawit lalu kembali ke kraton.
Selama dua jam lebih beberapa tatacara berkalan di Bangsal Manguntus Tanggkil (Pendapa Sitinggil Lor), Bangsal Pangrawit (Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa) dan menuju Pendapa Sasana Sewaka tempat menggelar beksa Bedhaya Ketawang, beberapa jenis gamelan silih-berganti menyajikan gendhing-gendhing “pakurmatan” dan gendhing “klenengan”. Gendhing Kodhok-ngorek, Monggang hingga “Manguyu-uyu”.
Lalu-lintas kendaraan di seputar jalan Supit-Urang “disterilkan” dalam beberapa saat, merupakan salah satu cara mengusangi “noise” atau gangguan bising, agar suara gamelan benar-benar bisa didengar dan dijadikan patokan. Inilah cara edukasi para leluhur dinasti/budaya (Pujangga dan Empu) yang mengajarkan agar manusia peka terhadap “tengara” (penanda) berupa bunyi/suara gamelan.

Pengajaran secara halus tentang estetika suara gamelan yang menjadi “tengara” dalam etika/tata-nilai menjalani tahapan upacara adat, diletakkan saat gamelan ditabuh. Dari k1-14 pangkon (perangkat) gamelan pusaka itu, di dalamnya ada gamelan “pakurmatan” sebagai tanda-tanda pergerakan bagi “raja” dan yang hadir sowan. Misalnya, gendhing Ladrang Srikaton disajikan saat Sinuhun “mios”.
Saat Sinuhun “mios” di tempat upacara, Pendapa Sasana Sewaka, sepasang gamelan Kiai Kaduk Manis dan Kiai Manis Rengga di pendapa itu yang ditabuh. Termasuk saat sajian beksan Bedhaya Ketawang selama 120 menit lebih, iringannya juga gendhing khusus untuk itu. Dan saat disajikan gendhing “Undur-undur Kajongan”, itu menandakan Sinuhun atau “raja” beranjak meninggalkan tempat upacara. (Won Poerwono-bersambung/i1)


