Gusti Moeng : “Jangan Dibandingkan dengan yang Dipahami di Luar Kraton…”
SURAKARTA, iMNews.id – Empat belas siswa “babaran (angkatan) VI” Pawiyatan Paes & Tata-busana Adat Jawa gagrag Surakarta tahun 2026, diwisuda di Bangsal Smarakata Kraton Mataram Surakarta, Selasa (1/9) siang tadi. Gusti Ayu (GKR Ayu Koes Indriyah) selaku ketua pawiyatan dan Gusti Moeng (Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Kraton), bersama-sama memberi tanda wisuda para lulusannya.
Penyerahan sertifikat tanda kelulusan dan pengalungan samir yang dilakukan ketua pawiyatan dan Pengageng sasana Wilapa/Ketua Umum LDA itu, menjadi puncak acara wisuda lulusan pawiyatan “babaran VI” tahun 2026, siang tadi. Sehabis penyerahan, dilanjutkan dengan foto bersama para pamong dan dwija. Termasuk KP Budayaningrat, “dwija” (guru) di dua sanggar dan tokoh “Lembaga Kapujanggan”.

Dua sanggar pawiyatan yang punya bidang pengetahuan berkaitan, yaitu Sanggar Pasinaon Pambiwara dan Pawiyatan Paes-Tata-busana pengantin adat Jawa gagrag Surakarta, menjadi lembaga edukasi yang bisa berdiri tetapi saling berkaitan dan melengkapi. Keduanya menjadi simbol-simbol kekayaan cirikhas kraton yang berasal dari Budaya Jawa yang bersumber dari Kraton Mataram Surakarta.
KP Budayaningrat menjadi “dwija” yang mengajarkan pengetahuan Bahasa Jawa beberapa cabang Budaya Jawa, yang dibutuhkan dalam profesi “pambiwara” maupun penata-rias dan penata-busana. Bagi dua lembaga pawiyatan itu, keberadaan KP Budayaningrat sangat penting dan strategis. Terlebih, “Lembaga Kapujanggan” kraton juga sangat membutuhkan ketokohan dalam menjaga kaidah paugeran adat.

Sementara itu, jalannya upacara wisuda “purnawiyata” (lulusan) Pawiyatan Paes-Tata-busana siang tadi termasuk singkat. Setelah penyerahan sertifikat, dilanjutkan dengan ucapan terima kasih dari perwakilan siswa wisudawan. Disela sajian tari “Golek Manis”, lalu Gusti Moeng (Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan Budaya Kraton Mataram Surakarta) menyampaikan sambutan dan ditutup doa.
Dalam sambutan Gusti Moeng atas nama kraton mengucapkan terima kasih kepada para siswa, baik yang baru masuk maupun para lulusannya. Karena, ternyata masih ada animo masyarakat yang mau belajar pengetahuan untuk mendukung profesinya. Menurutnya, animo yang cenderung meningkat itu, membuktikan semua pengetahuan yang diajarkan pawiyatan, memberi manfaat bagi lulusan sekaligus masyarakat luas.

“Tetapi saya berpesan, jangan membandingkan antara pengetahuan yang diperoleh di pawiyatan dengan yang dipahami sebelumnya di kehidupan sehari-hari atau saat menjalankan profesi di tengah masyarakat. Karena, pasti berbeda dan bisa sangat berbeda. Semua pengetahuan yang berasal dari Budaya Jawa yang sumbernya dari kraton, sebenarnya berkaitan dengan hampir semua bidang kehidupan”.
“Kraton dulunya adalah sebuah negara, yang di Surakarta saja sudah 200 tahun. Sedangkan Budaya Jawa yang bersumber dari kraton, sudah melewati ratusan tahun pembentukan dan penyempurnaannya, sejak abad 16. Maka, Budaya Jawa sangat tinggi. Tidak ada budaya lain yang melebihi Budaya Jawa. Maka, mari bersama-sama menjaga agar budaya kita lestari sampai akhir zaman,” pinta Gusti Moeng.

Selesai upacara wisuda, Gusti Moeng dan sejumlah sentana-dalem dan abdi-dalem bergeser ke Pendapa Sitinggil Lor yang tampak masih ada pekerjaan fisik renovasi ringan. Di tempat itu, dia memimpin wilujengan yang hanya berlangsung sekitar 30 menit. Sementara, dengan berakhirnya Sekaten Garebeg Mulud dengan puncak prosesi haja-dalem Gunungan, Rabu (26/8), seluruh rangkaiannya juga berakhir.
Kegiatan pasar malam “Maleman Sekaten” di Alun-alun Lor dan kompleks Pendapa Pagaleran Sasana Sumewa, secara keseluruhan juga berakhir pada 31 Agustus. Kegiatan bongkar-bongkar stan dan berbagai usaha jasa wahana permainan hingga Selasa (1/9) siang tadi, juga masih tampak. Belasan truk silih-berganti keluar-masuk untuk mengangkut bongkar semua stan dan konstruksi wahana mainan. (won-i1)
