Sinuhun PB XIV Hangabehi Sebar Udik-udik Menandai “Garebeg Mulud Perdana”

  • Post author:
  • Post published:August 26, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Sinuhun PB XIV Hangabehi Sebar Udik-udik Menandai “Garebeg Mulud Perdana”
NYEBAR UDHIK-UDHIK : Sebagai ekspresi sikap syukur atas kelimpahan rezeki dari Tuhan YME, "udhik-udhik" disebar Sinuhun PB XIV Hangabehi selaku pemimpin adat, juga "pemimpin umat", di penghujung ritual Sekaten Garebeg Mulud, siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Para Sentana dan Pimpinan Pakasa, Kenakan Busana Kebesaran Upacara Adat

SURAKARTA, iMNews.id – Puncak upacara adat Sekaten Garebeg Mulud 2026 yang digelar Bebadan Kabinet 2004, Rabu (26/8) tepat di tanggal 12 Mulud Tahun Be 1960 (kalender Jawa) siang tadi, menjadi peristiwa besar yang penuh makna. Salah satunya, adalah peristiwa “perdana” di awal kepemimpinan Sinuhun PB XIV Hangabehi, “tedhak” melepas dan menerima kembalinya prosesi hajad-dalem Gunungan.

Bahkan, penampilan “perdana” pemimpin baru Dinasti Mataram (Surakarta) itu terjadi di tahun 2026, saat keluarnya hajad-dalem Gunungan Sekaten Garebeg Mulud, upacara adat paling besar dan bergengsi di lingkungan Dinasti Mataram. Di upacara adat itu pula, Sinuhun PB XIV Hangabehi kali pertama atau “perdana”   menyebar “udhik-udhik” berisi beras kuning bercampur gulungan uang kertas.

Masih banyak tanda-tanda kemegahan dan keagungan upacara adat Sekaten Garebeg Mulud 2026 dan penampilan Sinuhun PB XIV Hangabehi di awal era kepemimpinannya sejak 13 November 2025. Beberapa makna itu menjadi penanda kehadirannya sebagai pemimpin baru Dinasti Mataram (Surakarta), sekaligus menjadi tanda kebesaran dan keagungan upacara adat, begitu pula lembaga Kraton Mataram Surakartanya.

Peristiwa lain yang juga menjadi penanda kebesaran dan keagungan ritual itu, adalah sebuah tradisi yang sering diteladankan selama Sinuhun PB XI jumeneng-nata (1893-1939), juga diteladani Sinuhun PB XIV Hangabehi. Yaitu, selain mendapat penghormatan prajurit dalam upacara kebesaran saat melepas prosesi Gunungan, Sinuhun juga menerima laporan kembalinya Gunungan di Kori Srimanganti.

MENERIMA LAPORAN : Di teras Kamandungan siang tadi, Sinuhun PB XIV Hangabehi menerima laporan kembalinya seluruh prosesi yang mengantar hajad-dalem Gunungan Sekaten Garebeg Mulud 2026, yang disampaikan Bregada Prajurit Panyutra. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Bagian-bagian inilah yang bisa disebut sebagai bentuk baku protokoler “Raja” dalam upacara adat kebesaran Sekaten Garebeg Mulud, tetapi lama tidak pernah dilakukan atau tidak pernah ada, terutapa pada periode 2024-2025 (Sinuhun PB XIII). Bagian-bagian yang menjadi tradisi dalam protokoler upacara adat inilah yang diupayakan dikembalikan Bebadan Kabinet 2004 di awal era pemimpin baru ini.

Karena berlangsungnya tahapan-tahapan upacara adat Sekaten Garebeg Mulud 2026 menggunakan protokoler adat “Raja” secara lengkap, menjadi sangat jelas beda pelaksanaan upacara adat yang terjadi selama periode 2004-2025 dengan periode yang dimulai Sinuhun PB XIV Hangabehi. Apalagi kalau dibanding pelaksanaan upacara adat yang sama, yang dilakukan “raja sabrang sebelah”, sesi kedua siang tadi.

KEMBALINYA PROSESI : Sejumlah Bregada Prajurit kraton beriringan kembali masuk kraton memasuki Kori Brajanala Lor, setelah selesai mengantar hajad-dalem Gunungan Garebeg Mulud Sekaten 2026, siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Perbedaan mencolok yang memberi sensasi dan “memanjakan mata” semua yang terlibat terutama pengunjung Sekaten yang mengikuti upacara adat di sepanjang rute prosesi, karena di situ penuh etika dan estetika yang membuatnya agung dan besar. Apalagi, selama puluhan tahun elemen-elemen adat tradisi yang membuat indah dan agung itu, nyaris tak pernah “disuguhkan” di ruang publik terbuka.

Dengan terlaksananya upacara adat Sekaten Garebeg Mulud 2026, berarti tiga agenda upacara adat kategori besar sudah bisa diwujudkan di awal era kepemimpinan Sinuhun PB XIV Hangabehi. Yaitu, ritual Garebeg Besar untuk Idul Adha, kirab pusaka menyambut 1 Sura di awal tahun Be 1960 dan Sekaten Garebeg Mulud. Semuanya berjalan sukses, aman dan lancar walau tetap saja ada “gangguan teknik”.

KERANGKA GUNUNGAN : Para abdi-dalem “Semut Ireng” yang mengusung Gunungan, tadi siang, tampak tinggal membawa ancak kerangka Gunungan saat kembali ke kraton. Dua pasang Gunungan sudah habis di halaman Masjid Agung sebelum doa selesai. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi saat menyebar “udhik-udhik” di penutupan ritual sekaten Garebeg Mulud 2026, sangat mengesankan, karena masyarakat masih memadati halaman Kamandungan menunggu momentum itu. Selain ikut “menjarah” sejumlah gulungan uang kertas dua puluhan ribu rupiah, banyak sekali yang langsung mengabadikan tokoh pemimpin baru dan para tokoh penting pendampingnya.

Karena, begitu Sinuhun PB XIV Hangabehi muncul di depan pintu Kori Srimanganti atau topengan Kori Mamandungan Lor, tak lama kemudian Bregada Prajurit Panyutra datang menghadap. Sinuhun yang didampingi KGPH Madu Kusumangoro, GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng), GKR Ayu Koes Indriyah dan para sentana-dalem dab wayah-dalem Sinuhun PB XII, mendapat laporan kembalinya prosesi pengantar hajad-dalem.

“MIRIP RELAWAN ” Seseorang yang mengenakan kostum “Semut Ireng” memanjat ancak Gunungan dan melempar-lemparkan isi Gunungan yang didapat. Ia mirip “relawan”, tetapi biasanya dari “abdi-dalem” pengusung yang mendahului agar tak kehabisan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Peristiwa laporan Prajurit Panyutra itu terjadi pukul 10.30 WIB siang tadi, sebagai tanda berakhirnya seluruh rangkaian ritual Sekaten Garebeg Mulud 2026. Dan saat itu pula, sejumlah eleman pengisi barisan prosesi pengantar hajad-dalem secara bergiliran masuk ke kraton, termasuk gamelan, para sentana-dalem yang berbusana kebesaran, melalui pintu di samping Sinuhun PB XIV berdiri.

Di antara para sentana-dalem yang berbusana “sikepan ageng dodot sampir kunca”, ada beberapa pimpinan Pakasa di antaranya dari cabang Kudus, Trenggalek, Pati dan Ngawi. Busana kebesaran upacara adat inilah yang membedakan ritual Garebeg Mulud atau lainnya yang digelar Bebadan Kabinet 2004, ketika dibanding ritual yang digelar “pihak sabrang/sebelah” pada sesi kedua mulai pukul 11.00 WIB tadi. (won-i1)