Ngisis Ringgit Kiai Kadung di Anggara Kasih Ageng, Sura Tahun Be 1960

  • Post author:
  • Post published:July 7, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Ngisis Ringgit Kiai Kadung di Anggara Kasih Ageng, Sura Tahun Be 1960
MENGAJAK BERIKRAR : Gusti Moeng saat mengajak para abdi-dalem petugas teknis "ngisis ringgit" untuk berikrar janji sesuai paugeran adat yang berlaku di kraton. Anggara Kasih ageng siang tadi, yang dikeluarkan Kanjeng Kiai Kadung. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ritual Perdana “Kanjeng Kiai Ageng”, di Awal Era Sinuhun PB XIV Hangabehi

SURAKARTA, iMNews.id – Bebadan Kabinet 2004 Kraton Mataram Surakarta menggelar upacara adat “ngisis ringgit” pada “weton Anggara Kasih ageng”, pada Selasa Kliwon (7/7) 2026, siang tadi. Sekotak wayang yang “diisis” (diangin-anginkan-Red) adalah wayang kategori “Kanjeng Kiai” Kadung yang masuk kategori “Kanjaneg Kiai ageng”, atau wayang pusaka level 1 di antara 17 kotak wayang milik kraton.

“Kebetulan, pas bulan Sura. Jadi, momentum yang sangat baik, mudah-mudahan menjadi kebaikan bagi semuanya. Ini ndilalah berlangsung di awal era Sinuhun PB XIV Hangabehi. Walaupun sebelumnya, juga sudah digelar upacara adat serupa untuk sekotak wayang Kiai Dagelan. Tetapi, waktunya belum masuk bulan Sura (Tahun Be 1960),” ujar KPP Hernowo Wijoyo Adiningrat, Wakil Pengageng Mandra  Budaya.

Saing tadi, selain KPP Hernowo Wijoyo ada KPP Purwo Taruwinoto (Sekretaris Pengageng Mandra Budaya) yang ikut menemani sejumlah abdi-dalem yang bertugas menangani teknis ritual “ngisis ringgit” di “gedhong” Sasana Handrawina. Sedangkan di antara para abdi-dalem petugas teknis yang merawat wayang, ada Ki KRT Suluh Juniarsah MSn selaku “tindhih abdi-dalem” yang ditemani Ki KRT Gatot P.

Ritual “ngisis ringgit” berlangsung sejak pukul 10.30 WIB yang sejak awal dipandu Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA), karena kotak wayang KK Kadung ini diambil dari kantor Sasana Wilapa di Untarasana, tempatnya menyimpan. Maka, prosesi pengangkatan kotak wayang oleh enam orang abdi-dalem Kebon Darat (Mandra Budaya), bermula dari kantor Sasana Wilapa, begitu pula saat mengembalikannya.

WAJAH MUDA : Wajah-wajah muda sebagian besar abdi-dalem petugas teknis “ngisis ringgit”, tampak pada ritual Anggara Kasih (Selasa Kliwon), siang tadi. Proses regenerasi seperti ini membanggakan, tetapi perlu dijaga agar terarah. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Walau aktivitas spesifik ini baru bisa digelar lagi sejak kraton berkabung karena wafatnya Sinuhun PB XIII (2 November 2025), tetapi upacara adat “ngisis ringgit” sudah kali kedua digelar Bebadan Kabinet 2004 di tahun 2026 ini. Selama lebih setengah tahun, hampir semua elemen masyarakat adat kraton terutama beberapa kelembagaan penting pemegang otoritas di dalamnya, sibuk oleh berbagai masalah.

Proses pergantian tahta “panas” telah menguras energi berbagai pihak di dalam kelembagaan pemegang otoritas roda kegiatan di kraton. Meskipun kegiatan revitalisasi di sejumlah titik bangunan, terpisah dari masalah proses pergantian tahta, tetapi sempat “menahan” aktivitas lain seperti ritual “ngisis ringgit”, misalnya. Meskipun, gladen Bedhaya Ketawang Anggara Kasih, masih bisa berlanjut.

Pada ritual “ngisis ringgit” Kanjeng Kiai ageng Kadung siang tadi, memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk mengeluarkan seluruh isi kotak sekitar 300-an anak wayang berukuran jumbo atau di atas rata-rata anak wayang “gagrag” (gaya) Surakarta. Seperti biasa, semua anak wayang diselipkan di atas tali yang beralas mori putih, yang membentang di empat “saka guru” “gedhong” Sasana Handrawina.  

Namun, banyak pula yang diangin-anginkan dengan cara dirancapkan di dua gawang khusus untuk keperluan “ngisis”. Inti dari ritual ini adalah mengeluarkan anak wayang berbahan dasar kulit yang berlapis cat khusus atau “sunggingan” (lukisan) membentuk rupa para tokohnya, agar terkenda udara bebas secukupnya. Diangin-anginkan sedikitnya 35 hari sekali (satu weton), agar terbebas dari jamur.

PETUGAS SENIOR : Ki KRT Gatot Purnomo merupakan abdi-dalem senior di bidang teknis “ngisis ringgit” yang selama ini digelar kraton sebagai aktivitas adat, budaya sekaligus perawatan aset. Kini, generasi muda pembantunya bermunculan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Biasanya, saat diangin-anginkan juga dibersihkan kedua permukaannya (dua dimensi) dengan kuas semua anak wayang seisi kotak, untuk menghilangkan debu. Meskipun disimpan dalam kotak dan disekat “eblek” terbalut mori putih, ketika disimpan di “gedhong” Lembisana diyakini tetap kemasukan debu juga. Karena, perawatan dengan tatacara ritual “ngisis ringgit” tiap weton itu, esensinya “treatment” agar awet.

Selain “treatment” dari dari debu dengan disapu kuas, juga pembersihan dari jamur dengan cara dikeluarkan di tempat terbuka, yang masih ditambah dengan hembusan kipas angin intensitas besar. Tatacara perawatan tiap “weton Selasa Kliwon” atau Anggara Kasih itu, sedikitnya berlangsung dalam dua jam, maka siang tadi berawal pukul 10.30 WIB dan diakhiri pukul 12.30 WIB, karena nyaris tak ada perbaikan.

Menurut KPP Hernowo Wijoyo Adiningrat, walau lewat dari satu wetan atau baru dua weton bisa dikeluarkan kembali untuk dimuliakan dalam ritual “mgisis ringgit”, tetapi secara keseluruh seisi kotak Kanjeng Kiai Kadung dalam kondisi utuh, tak ada yang rusak satupun. Pada ritual serupa satu atau dua tahun lalu, hampir semua kerusakan wayang pusaka-dalem, sudah bisa diperbaiki semua, termasuk KK Kadung.

Tak hanya memperbaiki kerusakan kecil seperti “engsel” lengan dan tangan putus dan sebagainya, dari 17 kotak wayang yang dibuka setelah enam tahun tak pernah “dimuliakan” (2017-2022) akibat “Insiden MOM 2017”, hampir semua kotak terdapat kerusakan. Selain mulai berjamur, banyak kerusakan akibat dipakai dan sisa yang belum sempat diperbaiki, bertambah banyak kerusakannya saat dibuka tahun 2003.

DEWA KATONG : Anak wayang yang posturnya paling besar di antara sekotak wayang Kanjaneg Kiai Kadung, adalah Prabu Dewa Katong tampak dilepas dari tempatnya “diisis”, untuk segera dimasukkan kotak untuk dikembalikan ke tempat penyimpanan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Siang tadi, setelah Gusti Moeng memulai meditasi bersamaan dengan selesainya mengeluarkan semua anak wayang dari kotak, langsung meminta KRT Suluh Juniarsah untuk mengumpulkan semua abdi-dalem petugas teknis “ngisis ringgit” di tempat. Gusti Moeng menyampaikan pengantar, sebelum mangajak semuanya untuk mengucapkan ikrar janji sebagai petugas merawat pusaka-dalem berupa anak wayang itu.

Seperti diketahui, dalam waktu satu-dua dekade terakhir sejak sebelum 2017, banyak di antara para abdi-dalem yang dipercaya mendapat tugas khusus secara teknis dalam perawatan pusaka-dalem ringgit, sudah tiada. Di antara mereka banyak yang meninggal, dan ada pula yang tidak bisa “sowan” karena usia. Oleh sebab itu, selama kurun waktu itu, silih-berganti generasi abdi-dalem yang sowan bertugas.

PROSESI PENGEMBALIAN : Begini prosesi pengembalian sekotak wayang KK Kadung menuju tempat penyimpanannya, kantor Sasana Wilapa, Untarasana. Prosesi itu berlangsung setelah ritual “ngisis ringgit” Anggara Kasih di Sasana Handrawina. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Seperti siang tadi, dari belasan abdi-dalem ada lebih separo yang berusia muda bahkan belia. Proses regenerasi ini di satu sisi sangat diharapkan karena bisa menjawab kekurangan jumlah abdi-dalem perawat aset kraton, yang terus-menerus terjadi dalam jumlah besar. Namun, KPP Hernowo Wijoyo juga setuju, tampilnya kalangan generasi muda abdi-dalem petugas “ngisis ringgit”, tetap terkoordinasi.

Dia juga tidak mengelak, bahwa kraton memang masih sulit untuk mendapatkan abdi-dalem garap yang permanen menjadi pegawai kraton dalam tugas-tugas teknis perawatan berbagai pusaka-dalem, khususnya wayang kulit. Tetapi, gelombang ketertarikan generasi muda mulai menyukai wayang melalui ritual “ngisis ringgit”, harus tetap menjaga etika, estetika dan paugeran adat sesuai isi ikrar janjinya. (won-i1)