Agenda Kirab Pusaka Sudah Terwujud, Tinggal “Seremonial” Jumenengan-nata
IMNEWS.ID – ADA beberapa fenomena yang tampak saat berlangsung gelar upacara adat kirab pusaka, di malam 1 Sura Tahun Be 1960 atau 1 Muharam Tahun 1448 Hijriyah pada Rabu Kliwon dinihari (17/6) tahun 2026. Di seri sebelumnya disebut ada ekspresi kalangan masyarakat adat, yang menjadi daya dukung legitimatif untuk Kraton Mataram Surakarta dan Budaya Jawa yang berasal dari penjaga peradaban itu.
Selain hal di atas, ada catatan lain peristiwa kirab pusaka yang makin memperkuat eksistensi kepemimpinan Sinuhun PB XIV Hangabehi di awal era barunya. Karena, sinergitas antara Bebadan Kabinet 2004 dan semua elemen kelembagaan kraton, Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan selaku “utusan khusus” Kemenbud RI untuk kraton, juga lembaga Kemenbud RI dan Pemkot Surakarta, benar-benar mengawal “era baru” itu.

Sinergitas dan keseriusan bahkan ketulus-ikhlasan mengawal masa transisi dan hadirnya pemimpin baru di Kraton Mataram Surakarta, tampak benar-benar diwujudkan walau tanpa diucapkan. Karena, gestur semua tokoh yang mewakili dalam sinergitas itu, tak mungkin hanya berpura-pura atau bersandiwara. Citra visual yang ada di teras Paningrat Lor hingga teras Sasana Handrawina malam itu, adalah fakta nyata.
Pemandangan yang tak biasanya terjadi pada upacara persiapan pelepasan prosesi kirab pusaka, malam itu, ternyata memberi pesan yang makin meyakinkan bagi kerabat besar masyarakat adat maupun publik secara luas. Yaitu pesan tentang “ketulusan sinergitas” Bebadan Kabinet 2004/LDA, Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan, 4.000-an warga masyarakat adat, lembaga Kemenbud RI dan jajaran Pemkot Surakarta.
Pesan “ketulusan sinergitas” untuk mengawal semua yang menjadi bagian dari kehadiran era baru kepemimpinan Sinuhun PB XIV Hangabehi, menjadi inti menonjol peristiwa malam itu. Berikut, pesan tentang kesungguhan semua yang terlibat dalam sinergitas ideal dan meyakinkan itu, untuk mengawal dan mengamankan masa transisi dari Sinuhun PB XIII (alm) ke era baru pemimpin yang makin total diterima publik.
“Publik” secara luas makin memperlihatkan sikap dan keyakinannya menerima Sinuhun PB XIV Hangabehi sebagai pemimpin adat baru, adalah tahap final secara “politis” di internal kraton. Meskipun, menurut Bebadan Kabinet 2004 tinggal satu tahap berupa seremonial harus dijalani, namun tahap final pemaklumatan eksistensi secara adat kebesaran kraton, sangat strategis, banyak nilai dan multi makna.

Salah satu nilai positif yang ditampakkan, adalah hadirnya kalangan generasi muda yang didominasi oleh elemen Pakasa dan Pasipamarta serta lembaga Sanggar Pasinaon Pambiwara dan Sanggar Pawiyatan Tata-Busana Paes Jawa gagrag Kraton Mataram Surakarta. Pakasa cabang, Pasipamarta dan sanggar-sanggar itu selama ini telah menjadi kanal masuknya para simpatisan “sutresna” Budaya Jawa dan peran kraton.
Kirab pusaka malam 1 Sura Tahun Be 1960 di tahun 2026 ini, menjadi bukti proses regenerasi di dalam masyarakat adat telah bergerak dinamis. Malam itu, menjadi bukti kalangan kawula muda terutama “Pakasa Muda” dan beberapa elemen lain yang menjadi kanalnya, mulai mendominasi kekuatan daya dukung legitimasi untuk kraton, pelestarian Budaya Jawa dan untuk pemimpin baru, Sinuhun PB XIV Hangabehi.
Ni MT Cerrier Didik Camboa Adiningtyas (20) adalah salah satu di antara wajah ribuan generasi muda “Gen Z” yang mendominasi pendukung upacara adat kirab pusaka di malam 1 Sura, Rabu dinihari lalu. Puteri Ketua Pakasa Cabang Kudus itu, adalah bagian dari 65 warga Pakasa, yang “ngampil”, “mbuntar” dan “ngayab” pusaka nomer 11. Ia menjadi contoh nyata generasi milenial peduli pelestarian Budaya Jawa.
Ia bahkan peduli pada momentum Kirab pusaka perdana dan era baru kepemimpinan Sinuhun PB XIV Hangabehi. Ia mengajak tiga sahabatnya foto model seusia “Gen Z” asal Indonesia, untuk ikut menikmati sensasi kirab pusaka di malam 1 Sura. Ni Mas Tumenggung (MT) Cerrier, bahkan rela menghabiskan masa cuti di tempat kerjanya, Srilanka, untuk mudik dan berjalan kaki tanpa alas, mengikuti rute kirab pusaka.

“Bagi saya, kirab malam 1 Sura bukan sekadar arak-arakan buday. Melainkan sebuah pengalaman batin yang mendalam, penuh penghormatan, ketenangan dan penghayatan terhadap warisan leluhur. Dalam suasana hening, “tapa mbisu”, saya diajak untuk melakukan interospeksi diri, merenungkan nilai-nilai luhur Budaya Jawa, serta memohon berkah kepada Tuhan YME, agar menjadi pribadi yang lebih baik”.
“Saya juga mengajak tiga teman ikut kirab, untuk memperkenalkan budaya, adat dan tradisi Kraton Surakarta. Mereka dapat merasakan langsung makna dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. It was my first time walking barefoot and covering such a long distance. At the beginning, kakiku pegel sekali karena kerikil aspalnya, tapi lama-lama saya terbiasa,” tulis Cerrier campuran dua bahasa.

Mengirim komentar lewat WhatsApp (WA) campuran antara Bahasa Indonesia dan Inggris, Cerrier mengisahkan pengalaman keduanya ikut berjalan kaki sejauh kira-kira 8 KM, menyusuri rute kirab pusaka malam 1 Sura. Berjalan tanpa alas kaki, menurutnya menjadi pengalaman sangat berkesan, menyenangkan dan menumbuhkan rasa bangga, karena bisa melestarikan warisan budaya kraton dan menghormati leluhur.
Rasa bangga penuh hormat, juga diekspresikan David Gallas dan Melanie Webb, warga Belanda. Suami-istri itu datang ke Indonesia untuk menyaksikan Sinuhun PB XIV Hangabehi meresmikan besalen keris Sanakridha Brajangga di Karanganyar, dan ikut merasakan sensasi kirab pusaka 8 KM tanpa alas kaki. Di Belanda, keluarga David merasa asing di negeri sendiri, karena punya kebiasaan seperti “wong” Jawa. (Won Poerwono-bersambung/i1)





