KGPH PA Tedjowulan dan Dirjen PKHPK Ikut Dampingi Sinuhun dan Gusti Moeng
SURAKARTA, iMNews.id – Prosesi upacara adat kirab pusaka malam 1 Sura dilepas Sinuhun PB XIV Hangabehi dari teras Paningrat Lor, Pendapa Sasana Sewaka. Dirjen PKHPK Kemenbud RI, Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan dan istri serta KGPH Madu Kusumonagoro mendampingi Sinuhun PB XIV dan Gusti Moeng, melepas prosesi dalam suasana “berbeda”, karena di Bangsal Parasedya ada doa wilujengan dan tahlil.
Sejak pukul 20.00 WIB, berbagai elemen masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta terutama warga 20-an cabang Pakasa di Jateng, Jatim dan DIY serta anggota Pasipamarta sudah memenuhi Bangsal Smarakata, Bangsal Marcukunda dan halaman di depannya. Setelah mereka mengatur barisan dipandu sejumlah petugas termasuk KP Budayaningrat, tiap regu diarahkan memasuki halaman Pendapa Sasana Sewaka.

Memasuki pukul 21.00 WIB, hampir semua regu pembawa pusaka yang jumlahnya sesuai pusaka yang dikeluarkan (14 buah) sudah melingkari “gedhong” Sasana Handrawina di sisi selatan. Menata barisan yang jumlahnya sekitar 100 orang untuk tiap regu, membutuhkan waktu lebih sejam karena harus memanfaatkan tempat bergiliran di Bangsal Smarakata. Setidaknya ada 2.500 orang mengalir dari Bangsal Marcukunda.
Pengaturan abdi-dalem dan sentana yang bertugas membawa pusaka dalam kirab pusaka 1 Sura Tahun Be 1960 atau 1 Muharam 1448 Hijriyah di tahun 2026 kali ini, jauh lebih baik karena lebih mudah dibanding 1 Sura tahun 2025. Karena, tidak terlalu terkecoh oleh kehadiran para abdi-dalem yang berafiliasi ke “pihak sebelah”, yang biasanya tidak tertib (tanpa ID card), tetapi asal bergabung.
Menyaksikan suasana di sekitar Bangsal Parasedya, ujung timur Pendapa Sasana Sewaka dan halaman di depannya semalam, ada banyak hal yang berbeda dari upacara- upacara adat kirab pusaka tahun-tahun sebelumnya. Karena, di sekitar Kamar Pusaka sampai Bangsal Parasedya, hanya terlihat para tokoh “pihak sebelah” dan para abdi-dalem menggelar doa dan tahlil. Padahal, biasanya untuk distribusi pusaka.
Di ruang ujung barat yang menyambung ke Pendapa Sasana Sewaka, juga tidak terlihat ada tamu VIP dan VVIP seperti biasanya jika ada upacara adat. Karena, deretan kursi tamu itu dipindah Gusti Moeng di teras Paningrat Lor menghadap ke timur (halaman). Sebelum pukul 21.00 WIB, di situ duduk berjejer KGPH Madu, Sinuhun PB XIV, Dirjen PKHPK Kemenbud RI, KGPH PA Tedjowulan dan Gusti Moeng.

Tetapi begitu tiga ekor kagungan-dalem mahesa keturunan Kiai Slamet tiba di halaman Kamandungan, Gusti Moeng segera menuju Kori Kamandungan untuk menyerahkan “pecut” (cemeti) pusaka. Pecut yang terbungkus kain itu diserahkan kepada KPH Bimo Djoyo Adilogo selaku penanggung-jawab aset mahesa Kiai Slamet. Setelah diserahkan di depan kori, Gusti Moeng kembali mengurus regu pembawa pusaka.
Gending-gending iringan karawitan sejak Ladrang Wilujeng diperdengarkan para abdi-dalem di teras Paningrat Kidul, mengiringi semua tahapan persiapan upacara adat kirab pusaka. Iringan karawitan terus mengalun sampai pukul 23.00 WIB, tepat di saat setiap regu pembawa pusaka bersiap di sepanjang lorong, dari timur Sasana Handrawina ke sisi timur teras Paningrat Lor, yang lurus sampai Kori Srimanganti.
Di saat semua regu bersiap di sepanjang jalur itu, Sinuhun PB XIV Hangabehi berdiri di samping regu paling depan. Di situ ada BRM Syailendra yang “ngempil” (memikul) pusaka tombak. Di situ terlihat KRMH Boby Suryo Manikmoyo dan sejumlah wayah-dalem Sinuhun PB XII dan para sentana-dalem, tampak “mbuntar” (menyangga) dan “ngayab” mengawal sebagai pengganti serta “ngombyong” pembawa pusaka satu.
Di belakangnya tampak KPH Ibnu, trah Sinuhun PB XI juga “ngampil” pusaka dua, diikuti KPP Hernowo Wijoyo Adiningrat (trah Sinuhun PB VI) yang “ngampil” pusaka tiga. Sinuhun PB XIV Hangabehi sempat menyapa para sentana trah darah-dalem itu. Begitu menginjak pukul 23.30 WIB, regu paling depan pembawa pusaka satu dilepas, bersamaan dengan bergeraknya tiga ekor Kiai Slamet, sebagai “cucuk-lampah”.

Ketika satu-persatu regu pembawa pusaka dilepas Sinuhun PB XIV Hangabehi bergerak ke arah pintu keluar kraton, warga Pakasa, Pasipamarta dan berbagai elemen masyarakat adat lain yang menjadi “pangombyong” juga langsung bergabung di setiap regu. Bisa dipastikan, jumlah personel tiap regu pembawa pusaka bisa lebih dari 100 orang. Ini yang membuat KPP Haryo Sinawung ikut sibuk menertibkan mereka.
Di awal upacara persiapan distribusi pusaka, terlihat ada insiden kecil di depan kamar pusaka. Gestur tubuh bernada protes dari “pihak sebelah”, sama sekali tak digubris Gusti Moeng dan Gustu Ayu, tetapi langsung balik badan mengajak Sinuhun Hangabehi pindah ke Paningrat. Insiden “tak bersuara” itu menciptakan suasana khidmat, apalagi tanpa suara sound system mengabsen seperti kirab tahun 2025.

“Kirab pusaka ‘perdana’ Sinuhun PB XIV Hangabehi ini, bukan hanya sekadar tradisi kraton. Tetapi sebagai sarana pelestarian warisan budaya leluhur. Mudah-mudahan, kirab ini bisa menambah cinta pada Budaya Jawa, menguatkan persatuan lan memberi berkah pada bangsa dan negara. Saya sungguh senang dan bersyukur, bisa menjadi saksi kirab perdana Sinuhun PB XIV,” ujar KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro.
Ekspresi bangga Ketua Pakasa Kudus itu, makin lengkap karena semalam diberi tugas jadi imam shalat hajad para abd-dalem Kanca-Kaji di Pendapa Magangan. Bahkan, juga dirasakan 65 warga Pakasa Kudus yang diajak sowan ke kraton, semalam. Termasuk puterinya, Cerrier, yang pulang ke Tanah Air hanya ikut kirab, juga santri/warga Pakasa yang merengek ikut ke kraton, walau baru keluar dari rumah sakit. (won-i1)





