Gusti Moeng dan Jajaran Bebadan Rapat Bersama Wali Kota Sore Tadi

  • Post author:
  • Post published:June 15, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Gusti Moeng dan Jajaran Bebadan Rapat Bersama Wali Kota Sore Tadi
MEMIMPIN RAPAT : Gusti Moeng mengenakan kacamata hitam karena silau pantulan sinar yang kuat siang tadi, memimpin rapat jajaran Bebadan Kabinet 2004 di Bangsal Smarakata membahas kirab pusaka malam 1 Sura, Senin (15/6) siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Pihak Sebelah” tak Diundang Karena Delapan Kali Rapat Sebelumnya Tidak Hadir

SURAKARTA, iMNews.id – Rapat jajaran Bebadan Kabinet 2004 dan berbagai elemen kelembagaan di Kraton Mataram Surakarta membahas kirab pusaka malam 1 Sura, digelar di Bangsal Smarakata, Senin (15/6) siang tadi. Rapat yang diikuti sekitar 100 orang sebagai panitia pelaksana dari berbagai elemen itu, dipimpin Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA), sebelum dirinya menuju  Balai Kota.

Dalam rapat, berlangsung tanya-jawab mengenai berbagai hal terutama soal teknis pelaksanaan baik pelepasan di dalam kraton maupun saat prosesi arak-arakan mengelilingi jalan lingkar luar kraton sejauh kurang lebih 5 KM itu. Kirab pusaka menyambut Tahun Baru Jawa/Hijriyah Be 1960/1448 H pada malam 1 Sura/1 Muharam dilaksanakan tepat pada pukul 00.00 WIB Rabu dinihari 17 Juni 2026 hingga selesai.

MEMBERI MASUKAN : KPH Edy Wirabhumi ikut memberi saran dan pandangan saat berlangsung rapat jajaran Bebadan Kabinet 2004 di Bangsal Smarakata, Senin (15/6) siang tadi. Rapat membahas persiapan kirab pusaka malam 1 Sura, Selasa malam (16/6). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Jadi, kita yang akan melaksanakan seluruh persiapan dan prosesi kirab pusaka besok malam, Selasa, 16 Juni 2026. Pukul 20.00 WIB kami harapkan semua elemen termasuk Pakasa sudah datang. Terus kirabnya dimulai pada pukul 00.00 WIB Rabu dini hari, 17 Juni 2026. Saya harap, semua yang akan bertugas sudah sidap di Bangsal Smarakata dan Bangsal Marcukunda pukul 20.00 WIB itu. Dandannya di luar”.

“Anggota Pasipamarta, saya harap dandan di luar dan pukul 20.00 WIB itu masuk sudah jadi. Karena pusakanya yang akan dikeluarkan 14, ya tolong disiapkan para petugas ngampil dan mbuntar pusaka barisan 1 sampai 14. Karena semua yang akan bertugas sudah disiapkan ID card, ya nanti yang pakai ID card itu yang diizinkan masuk. Biasanya, di Kamandungan disusupi. Harus dijaga ketat,” pinta Gusti Moeng.

Dalam tanya-jawab, Gusti Moeng berharap semua barisan pembawa pusaka 1-14 sesudah diabsen di Bangsal Smarakata dan Bangsal Marcukunda terus bersiap di dekat teras Paningrat. Nanti masuk bergiliran ke Bangsal Parasedya sesuai aba-aba dari petugas. Para penari dan mantan penari Bedhaya Ketawang akan bertugas ngampil dan mbuntar dari dalam, dibantu para sentana-dalem, karena mereka semua sudah disumpah.

KPH Edy Wirabhumi mengingatkan, agar semua tetap memegang teguh etika dalam kirab yang esensinya “tapa mbisu”. Oleh sebab itu, ucapan/teguran harus dijaga betul, jangan sampai menjadi stampel negatif ketika menjalankan upacara ini. Menurutnya, semua harus menjaga sikap, karena pelaksanaan upacara adat ini menjadi ujian bagi citra Bebadan, karena sekalipun sudah positif bisa juga tetap dianggap negatif.

MEMINTA KETEGASAN : KPP Haryo Sinawung Waluyoputra (Wakil Pengageng Karti Praja),  meminta ketegasan soal pihak sebelah masih akan ikut campur melaksanakan kirab pusaka yang diagendakan Rabu (17/6) dinihari pukul 00.00 WIB. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kepada KPH Edy Wirabumi dan KRMH Suryo Kusumo Wibowo, sore dan malam ini bahkan sampai besok pagi, semua titik yang akan dilalui kirab terutama Kori Kamandungan, harus secepatnya dihias janur dan “tarub”. Sementara, KPH Bimo Djoyo Adilogo yang mendapat tugas mempersiapkan kagungan-dalem mahesa keturunan Kiai Slamet, menyatakan siap. Kalau tidak 5 ekor, mungkin hanya tiga atau dua ekor saja.

“Karena, lima ekor yang biasanya dikeluarkan untuk cucuk lampah kirab itu, ternyata dua jantan dewasa, dua betina dewasa dan betina anak-anak. Jadi, kedua pejantan bisa bikin ulah karena berebut betina di jalan. Solusinya masing-masing dikurangi satu,” ujar Bupati Juru-Kunci Astana Pajimatan Imogiri itu. Gusti Moeng menimpali, soal jatah makan ada kerabat dari Surabaya yang memberi nutrisi makan.

Sementara itu KPP Haryo Sinawung Waluyoputro Hadinagoro (Wakil Pengageng Karti Praja) meminta ketegasan mengenai kemungkinan “pihak sebelah” (pihak sabrang) apakah akan tetap “mengacau”? Gusti Moeng langsung menegaskan, bahwa kemungkinan itu kecil karena sudah bisa dipastikan seluruh pelaksana kirab pusaka malam 1 Sura, adalah jajaran Bebadan Kabinet 2004 beserta seluruh elemen kelembagaannya.

“Saya nanti jam tiga (pukul 15.00 WIB) ini akan ke Balai Kota mengikuti rapat lengkap membahas kirab pusaka. Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan juga ikut bersama kita. Tetapi, rapat ini jelas tidak mengundang pihak sebelah. Karena, rapat-rapat koordinasi sebelumnya yang mengundang pihak sana, tak ada yang pernah datang.
Maka, rapat kali ini pihak sebelah tidak diundang,” ujar Gusti Moeng menjelaskan.

PARA SENTANA : Para sentana-dalem berkumpul semua dengan penuh semangat saat mengikuti rapat di bangsal Smarakata, Senin (15/6) siang tadi, karena akan menikmati suasana baru dalam upacara adat kirab pusaka malam 1 Sura 2026 ini. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Padahal, lanjut Gusti Moeng, kirab pusaka harus tetap digelar dan tidak boleh batal. Maka, sudah dipastikan jajaran Bebadan Kabinet 2004 didukung untuk melaksanakan kirab pusaka ini. Tentu saja, semua konsekuensi sudah diantisipasi, termasuk kesiapan kalangan aparat keamanan. Karena, dari internal kraton sendiri, petugas keamanan disiapkan 1.500 orang, selain dari lintas lembaga di luar kraton.

Sedangkan semua peserta kirab yang tercatat melalui ID card, ada 3.500 orang. Jumlah itu hanya dari warga Pakasa, Pasipamarta dan kalangan kerabat sentana. Mengenai wilujengan, untuk malam menjelang pelepasan prosesi kirab disebut Gusti Moeng sudah tidak perlu disertai tahlil dan dzikir. Tetapi hanya wilujengan karena ganti tahun “Dal” ke “Be”, sedangkan tahlilnya sudah dilaksanakan siang.

SUDAH SIAP : Walau ada yang “nakal” karena sudah sama-sama dewasa, tetapi dua atau tiga mahesa keturunan Kiai Slamet yang dikandangkan di Alun-alin Kidul siap jadi cucuk-lampah kirab pusaka malam 1 Sura Selasa malam (16/6) bsok. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Siang tadi “kan ada haul Sinuhun PB X yang seharusnya digelar hampir bersamaan dengan menjelang kirab pusaka. Tetapi mungkin tidak dilakukan selama lebih enam tahun sejak 2017, karena pada tidak tahu. Bahwa, haul peringatan wafat Sinuhun PB X harus digelar menjelang kirab, karena wafat Sinuhun PB X di malam 1 Sura. Maka, tadi siang ada halil dan dzikir. Besok tinggal wilujengan saja,” ujar Gusti Moeng.

Gusti Moeng juga menyinggung, selama Bebadan Kabinet 2004 bekerja kembali di dalam kraton sejak 2023, shalat hajad terpaksa dilakukan di Pendapa Magangan. Padahal, seharusnya di Masjid Pudyasana yang ada di dalam itu. Tetapi karena pihak sebelah menguasai tetapi tidak memanfaatkan sesuai kewajibannya. masjid itu jadi nganggur. Menurut Gusti Moeng, kelak harus dimanfaatkan kembali Sinuhun yang baru. (won-i1)