Uji Kepemimpinan Berlanjut Kirab Menyambut 1 Sura, Tantangan yang Lebih Berat
IMNEWS.ID – SATU langkah praktik nyata di awal era kepemimpinannya, sudah ditunjukkan dan ditunaikan dengan baik. Bahkan, jalannya upacara adat jenis “garebeg” perdana di awal eranya yang digelar Kamis (28/5) lalu (iMNews.id, 28/5), justru mengesankan. Kesan pertama yang baik, positif dan meyakinkan itu, karena dari sajiannya tampak terpancar niat tulus, ikhlas dan penuh kesahajaan.
Secara umum, “uji kepemimpinan” untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi di awal eranya ini lulus, memuaskan. Tetapi, karena dalam rapat koordinasi panitia besar yang dipimpin Gusti Moeng dan Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan sudah dicanangkan dua upacara adat sebagai “materi ujiannya”, maka tinggal satu. Upacara adat kirab pusaka menyambut Tahun Baru Jawa di malam 1 Sura, adalah “ujian” lebih besar.

Kirab pusaka menyambut pergantian Tahun Jawa Dal 1959 sekaligus Tahun Hijriyah 1447 di malam 1 Sura, menjadi ujian sekaligus tantangan lebih besar dan berat. Karena, jenis upacara adat ini tergolong paling besar dari sisi apa saja, terutama sisi jumlah peserta yang dilibatkan. Ritual ini menjadi cirikhas cara bersikap spiritual kebatinan dan religius, yang menjadi stampel spesifik kraton.
Stampel spesifik dan cirikhas ini telah lama menjadi milik masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta, walau upacara adat serupa juga dilakukan di Kraton Jogja dan Kadipaten Mangkunegaran. Salah satu alasannya, karena upacara adat kirab pusaka di Kraton Mataram Surakarta meneruskan tugas dan kewajiban nasional yang pernah diminta di masa-masa krusial berdirinya NKRI, untuk menjaga keselamatan bangsa.

Kirab pusaka menyambut 1 Sura justru diminta negara saat awal pemerintahan Orde Baru, agar doa secara spiritual kebatinan sekaligus religi itu menjadi panyuwunan bersama untuk keselamatan bangsa, negara (NKRI) dan rakyatnya. Kraton Mataram Surakarta tidak “berhitung” (egois) soal nasibnya dan tetap serius menjalankan tugas dan misi itu, karena menyadari “dirinya” adalah salah satu pendiri NKRI.
Alasan rasional seperti ini yang sulit diabaikan bahkan dikesampingkan, hanya karena merasa “kurang beruntung” nasibnya saat bergabung ke NKRI. Kesadaran pada tugas dan kewajiban nasional seperti ini, yang menjadi bagian dari tugas dan kewajiban seorang pemimpin Mataram Surakarta. Sampai kapanpun, tuntutan itu akan selalu melekat terus pada lembaga kraton dan diri pemimpin Mataram Surakarta.

Melihat besarnya tanggungjawab, tugas dan kewajiban yang akan diemban seorang pemipin Mataram Surakarta, maka disinilah letak keseriusan dalam menjaga proses lahirnya seorang pemimpin harus dijamin keamanan dan kelancarannya sesuai konstitusi paugeran adat. Proses dan persyaratan seorang calon pemimpin Mataram Surakarta yang benar-benar bebas dari segala “cacat”, harus jadi prioritas utama.
Melihat besar dan beratnya tuntutan, kebutuhan dan tantangan tugas, seorang calon pemimpin Mataram Surakarta jangan didapat dari proses asal-asalan, apalagi hanya menjalankan bagian “gampang” dari semua persyaratannya, dengan asal-asalan pula. “Kecacatan kepemimpinan” yang dialami Sinuhun PB XIII, jangan terulang karena jatuh ke tangan calon yang tak “berhak”, yang mengandalkan “ambisi dan arogansi”.

Kini, pelan-pelan tapi pasti, hampir semua proses perjalanan spiritual sebagai persyaratannya bisa diwujudkan. Setelah proses ritual “methik sekar” Wijayakusuma terwujud pada 2-3 Mei 2026 lalu, agenda menggelar “pisowanan” peringatan Hari Raya Idul Adha, hajad-dalem Gunungan Garebeg Besar sukses diwujudkan. Semua ada plus-minusnya, tetapi sukses beberapa hal sangat penting malah sangat meninjol.
Agenda gelar “pisowanan” upacara adat jenis Garebeg yaitu Garebeg Besar, adalah satu di antara tiga jenis upacara adat kebesaran yang digelar dengan protokol kerajaan dengan standar penghormatan besar. Keberhasilan menggelar ritual Garebeg Besar, Kamis (28/5), menjadi ukuran untuk sukses gelar agenda ritual hajad-dalem Gunungan Garebeg Mulud, yang terbesar di antara tiga jenis Garebeg lainnya.

Kehadiran warga elemen Pakasa cabang dan Pasipamarta yang totalnya menggenapi jumlah lebih dari 500 orang pada “pisowanan” Garebeg Besar itu, menjadi catatan tersendiri. Karena, elemen-elemen masyarakat adat yang jumlahnya terus berkembang di berbagai daerah luas itu, kini dan kelak akan menjadi tulang-punggung dan daya dukung legitimatif pelestarian Budaya Jawa dan penjaga kelangsungan kraton.
Kekuatan daya dukung legitimatif Kraton Mataram Surakarta kini dan ke depan, makin banyak, bahkan bisa bergantung pada eksistensi dan perkembangan elemen Pakasa dan Pasipamarta. Mereka inilah yang selama ini banyak berinisiatif untuk mengawal proses pergantian tahta, dan semua ruang pembelajaran yang dibutuhkan untuk menghasilkan seorang pemimpin, yaitu tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi.

Pergeseran daya dukung dari kerabat keluarga besar (sentana darah-dalem) ke pundak masyarakat adat elemen Pakasa dan Pasipamarta, seakan menjadi keniscayaan di Mataram Surakarta. Dan hanya di Surakarta, fenomena Pergeseran macam itu bisa terjadi, karena organ strukturalnya seperti sudah “disiapkan”. Maka bisa disebut, Sinuhun PB X melahirkan Pakasa (juga Putri Narpa), karena ada kebutuhan mendesak.
Yaitu, kebutuhan mendesak daya dukung legitimasi untuk kelangsungan kraton dan kelestarian “produknya” yang bernama Budaya Jawa. Keniscayaan harus terjadi, elemen Pakasa dan Pasipamarta harus menjadi “daya dukung” legitimasi. Sekilas, fenomena pergeseran tampak “ekstrem”, tetapi sejatinya proses alami rasional “Nut jaman kelakone”. Karena kraton sudah sulit “memproduksi” sentana darah-dalem. (Won Poerwono-bersambung/i1)
