Kraton Resmikan Pendapa Candi Shima, Awali Peringatan Waisak 2026

  • Post author:
  • Post published:May 20, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Kraton Resmikan Pendapa Candi Shima, Awali Peringatan Waisak 2026
MEMBERI SAMBUTAN : Gusti Moeng memberi sambutan dalam rangkaian peringatan Hari Waisak ke-2570 yang ditandai dengan meresmikan "Pendapa (Joglo) Gamelan Wahyu Candi Laras" di kawasan Candi Shima, Kabupaten Jepara, Rabu (20/5) pagi tadi. (foto : iMNews.id/Dok)

Melepas Perjalanan Spiritual Para Biksu, dari Jepara Menuju Klaten

JEPARA, iMNews.id – Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari Koesmoertiyah (Gusti Moeng) selaku Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dewa Adat, Rabu (20/5) pagi tadi hadir di acara awal rangkaian peringatan Hari Waisak ke-2570 (Buddist Era). Di acara itu, dia bersama Bupati Jepara meresmikan “pemugaran” Candhi Shima, bangunan Pendapa Candi Shima dan pelepasan perjalanan spiritual para Biksu.

“Untuk pendapa yang selesai dibangun dan diresmikan, diberi nama “Pendapa Gamelan Wahyu Candi Laras”. Di situ ada unsur perpaduan antara Budha dan Budaya Jawa. Apalagi, di pendapanya dihiasi seperangkat gamelan (Jawa). Sedangkan perjalanan spiritual para Biksu yang dilepas tadi, dari kompleks Candhi Shima berjalan kaki ke Pendapa Kabupaten Jepara, 12 KM, lalu menuju Salatiga,” tutur Gusti Moeng.

Kegiatan awal rangkaian peringatan Hari Waisak ke-2570 tahun 2026 tadi pagi, dimulai sekitar pukul 07.00 WIB, dengan berbagai acara. Di antaranya laporan panitia dan sambutan beberapa tokoh, diteruskan penandatanganan prasasti. Sambutan diberikan Bupati Jepara, Gusti Moeng, pejabat Departemen Agama dan pengurus organisasi umat Budha yang disaksikan Wali Kota Salatiga bersama istri.

Dalam sambutan, Gusti Moeng menyampaikan salah hormat Sinuhun PB XIV Hangabehi dan atas nama kraton menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegitan itu. Menurutnya, pelepasan “Thudong”, bukan sekadar perjalanan perjalanan spiritual Biksu/Bhikku Sangha. Tetapi momentum penting memperarat silaturahmi antara umat Budha dengan Kraton Mataram Surakarta, sekaligus memperkokoh semangat toleransi.

MENGALUNGI BUNGA : Gusti Moeng mengalungi rangkaian bunga kepada salah seorang Biksu menandai peresmian “Pendapa (Joglo) Gamelan Wahyu Candi Laras” di kawasan Candi Shima, Kabupaten Jepara, Rabu (20/5) pagi tadi. (foto : iMNews.id/Dok)

“Kraton memandang, bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian penting dalam upaya membangun, merawat dan memajukan kebudayaan Jawa, agar terus hidup, berkembang dan memberi manfaat bagi generasi mendatang. Nilai laku spiritual adalah kesederhanaan, keteguhan dan kebijaksanaan yang terkandung dalam Thudong, sesuai ajaran luhur Budaya Jawa,” tandas Gusti Moeng di depan 500-an peserta upacara.

Usai memberi sambutan, Gusti Moeng menandatangani prasasti peresmian bangunan “Pendapa Gamelan Wahyu Candi Laras” didampingi semua pejabat yang hadir. Pendapa berarsitektur “joglo” khas Jawa itu, menjadi simbol akulturasi antara Budha dan Jawa. Keberadaannya menjadi simbol tempat ibadah umat Budha yang diberi nama Candi Shima, yang berada di sebuah kawasan di Kabupaten Jepara itu.

Seperti diketahui, Budha sudah menjadi peradaban di Jawa (Nusantara) sejak abad 6-7 Masehi. Budha dikembangkan Kerajaan Kalingga saat memimpinnya bernama Ratu Shima, yang kini berada di kawasan Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Kini, Pemkab setempat telah menetap kawasan Desa Tempur, Kecamatan Keling sebagai kawasan cagar budaya, karena ditemukan jejak bangunan candi peninggalan Kalingga.

“Kenapa kraton selalu diundang untuk hadir di setiap peringatan Hari Waisak dan menandai dengan simbol-simbol budaya Jawa? Itu karena Budha dan Budaya Jawa telah ikut berakulturasi. Dari data yang saya peroleh, sejak Keraton Kalingga, Mataram Kuna, Kedidi, Majapahit, Demak hingga Mataram dan sampai sekarang ini, jejak-jejak akulturasi itu masih banyak ditemukan,” tunjuk Gusti Moeng mencontohkan.

SIMBOL AKULTURASI : Peresmian tempat sembahyang kompleks Candhi Sima yang berhias pendapa joglo berisi gamelan Jawa, “Pendapa Gamelan Wahyu Candi Laras”, adalah simbol akulturasi antara Budaya Jawa dalam penyebaran agama Budha di Jawa. (foto : iMNews.id/Dok)

Data-data yang diungkap Gusti Moeng itu, termasuk pelibatan Kraton Mataram Surakarta saat diundang untuk memeriahkan rangkaian peringatan Hari Waisak di beberapa lokasi selain kompleks Candi Borobudur di masa pandemi lalu. Saat itu, pawai budaya digelar dan dipandu Bregada Prajurit kraton termasuk Korsik Drumband Prajurit Tamtama, kirab jalan kaki dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur.

Dalam peresmian tempat sembahyang dalam rangka peringatan Hari Waisak itu, Gusti Moeng diminta menandatangani prasasti dan menanam pohon Sawo Kecik dari Kraton Mataram Surakarta. Sumbangan pohon simbol “Sarwo Becik” yang berarti “serba baik” itu dimaksudkan, agar akuluturasi yang terus berproses antara Budha dan Jawa yang direpresentasikan kraton, memberi makna selalu menebar kebaikan bagi kehidupan.

PERKENALAN CALON : Gusti Moeng saat memberi sambutan pada peresmian tempat ibadah Budha di sebuah desa di Kabupaten Magelang menandai Hari Waisak, beberapa tahun lalu, juga memperkenalkan KGPH Hangabehi sebagai calon Sinuhun PB XIV. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Belum ada penjelasan apakah rangkaian peringatan Hari Waisak tahun 2026 ini akan berakhir di Candi Borobudur seperti tahun-tahun sebelumnya. Mengingat, di tahun-tahun lalu pasti ada rombongan biksu dari berbagai negara seperti Thailan, datang ke Indonesia. Mereka melakukan perjalanan spiritual dengan jalan kaki dari negara masing-masing, dan bertemu pada puncak peringatan Waisak di Candi Borobudur.

Pada acara tadi pagi, juga tampak ada pelepasan “Thudong” yang dilakukan bersama oleh Gusti Moeng, para pejabat Forkopimda dan lainnya. Saat pelepasan, juga didampingi Wali Kota Salatiga dr Roby dan istri (Ketua Pakasa Cabang Salatiga). Pelepasan ditandai dengan pengguntingan pita, penyerahan bendera Thudong, bendera merah putih, bendera Buddis dan bendera yayasan. Sebelumnya ada penyematan Pin

TERUS BERLANJUT : Hubungan silaturahmi akulturatif terus berlanjut hingga kini antara Budaya Jawa (Kraton Mataram Surakarta) dan umat Budha, setiap peringatan Hari Waisak. Para prajurut kraton dan Candi Borobudur, menjadi simbol-simbolnya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono )

Perjalanan spiritual para Biksu dari kompleks Candi Shima singgah di kompleks Pemkab Jepara. Gusti Moeng menyebutkan, perjalanan seratusan biksu dari Candi Shima, dijadwalkan akan sampai di Salatiga malam ini. Setelah bermalam di Salatiga, para Biksu bergabung dengan rombongan dari arah lain berjalan kaki meneruskan perjalanan ke Boyolali. Di sini para “Thudong” akan singgah sebentar.

Dari Boyolali, rombongan “Thudong” akan melanjutkan perjalanan menuju Candi Sewu di Kabupaten Klaten. Candi Sewu adalah karya Budha, walau berada pada satu kawasan cagar budaya dengan beberapa candi lain karya Hindu (Prambanan, Rara Jonggrang dan Sewu). Kraton Mataram Islam Surakarta mewarisi karya-karya akulturatif antara beberapa budaya, yang hingga kini masih bisa dilihat jejaknya. (won-i1)