Dipetik dari Daratan Terbuka Pulau Majeti, Sebelah Pulau Nusakambangan
CILACAP, iMNews.id – Rangkaian upacara adat “methik sekar” Wijayakusuma yang dimulai sejak Sabtu sore (2/5), Senin (4/5) dini hari sekitar Pukul 02.30, tiba dengan selamat di Bangsal Smarakarta Kraton Mataram Surakarta. “Misi petualangan” memetik bunga simbol kemuliaan dan kehidupan untuk Dinasti Mataram ke depan, berakhir sukses yang didukung secara gotong-royong kalangan warga Pakasa cabang.
Walau ada banyak kekurangan dalam koordinasi, misi yang didukung sekitar 200-an orang sebagian besar warga Pakasa 12 cabang, tetapi secara umum keseluruhannya berjalan sukses. Jadwal waktu yang diperhitungkan tidak banyak meleset dari rencana selama dua malam dua hari, dari Sabtu sore (2/5) hingga Senin dini-hari (4/5). Tim/panitia bekerja berdasar kajian dan info data manuskrip di kraton.

Walau sebagian besar informasi panduan termasuk segala persyaratannya diperoleh dari data-data manuskrip yang ada di Sasana Pustaka Kraton Mataram Surakarta, namun rata-rata di antara 200-an orang yang terlibat, baru kali ini punya pengalaman. Karena, di dalam dan di luar kraton sudah tidak didapati abdi-dalem atau orang berpengalaman “methik sekar” Wijayakusuma, setidaknya di zaman PB XII.
Faktor kekurangan yang sangat realistik “sulit dipersiapkan” itu, menjadi tak sebanding ketika melihat proses dan hasil menjalankan misi yang tergolong luar biasa itu. Sebagai perbandingan, misi “methik sekar” Wijayakusuma yang dilakukan utusan-dalem Sinuhun PB X ketika hendak “jumeneng nata” (1893), bisa selesai dan membawa pulang sekar dalam waktu dua bulan, kini hanya dua malam dan dua hari.

Persiapannya memang agak panjang, lebih banyak berupa dialog dan berunding dalam rapat. Tetapi, eksekusi berlangsung Sabtu perang (2/5) berupa donga wilujengan di Bangsal Smarakata. Selepas itu, langsung diadakan prosesi mengangkut semua uba-rampe menuju bus dan sejumlah mobil yang bersiap di Alun-alun Kidul. Sekitar pukul 19.00 WIB, rombongan 50-an orang yang pembawa “Cupu” dan “joli” berangkat.
Rombongan Tim B dari kraton tiba di Masjid Darussalam Kota Cilacap pukul 02.30 WIB, Minggu (3/5) dini-hari. Saat itu, rombongan Tim A banyak yang lebih dulu datang dan transit di Masjid Darussalam. Termasuk rombongan “pangombyong” dari sejumlah cabang Pakasa. Setelah semua berkumpul di Pendapa Kabupaten Cilacap, koordinasi, sumpah dan gelar wilujengan bersama Gusti Moeng dan rombongan lain.

Selesai koordinasi, semua menata barisan dari sekitar Masjid Darussalam dan memulai perjalanan prosesi menuju dermaga Teluk Penyu. Sesampai di dermaga, rombongan dipecah menjadi tiga, salah satunya adalah rombongan pemandu kirab yang harus tinggal dan menuggu di dermaga. Sedang dua rombongan lain, yaitu Tim B menuju pulau Nusakambangan dengan tiga perahu dan Tim A menuju Pulau Majeti.
“Rombongan yang ke Pulau Nusakambangan, termasuk saya, ke Sela Masigit membawa uba-rampe wilujengan. Ada sekitar 70-an orang yang diangkut tiga perahu itu. Saya datang melanjutkan tugas pawang hujan. Cuacanya panas sekali karena agak mendung, saya terpaksa banyak minum. Tetapi saya diperingatkan agar menahan tidak buang air kecil. Karena penyeberangan juga bagian dari tugas,” ujar KRRA Panembahan.

KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus) selaku petugas “pawang hujan”, saat dikonfirmasi iMNews.id, siang tadi menyatakan, secara keseluruhan misi “methik sekar” Wijayakusuma sukses dan lancar sesuai jadwal. Namun, dirinya adalah bagian Tim B yang membawa uba-rampe “methik sekar”, termasuk “cupu” dan “joli” untuk mewadahi/mengangkut sekar Wijayakusuma.
Tim A sekitar 30 orang yang berpisah dengan perahu menuju Pulau Majeti. Tim itu berhasil memetik dan membawa sekar ke dermaga Teluk Penyu lebih awal, tiba pukul 14.30 WIB. Setelah itu semua bergegas pulang, terutama Tim A yang menyerahkan sekar ke Tim B, lalu membawa pulang ke kraton. Tiba di kraton sekitar pukul 02.30, Senin (4/5) dini-hari, bunga diterima Sinuhun PB XIV Hangabehi. (won-i1)
