Rombongan Pemetik Sekar Wijayakusuma, Menyeberang ke Pulau Nusakambangan

  • Post author:
  • Post published:May 3, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Rombongan Pemetik Sekar Wijayakusuma, Menyeberang ke Pulau Nusakambangan
DONGA WILUJENGAN : Suasana berlangsungnya donga wilujengan untuk memberangkatkan uba-rampe upacara adat "methik sekar" Wijayakusuma, semalam (Sabtu, 2/5), digelar di Bangsal Smarakata dan dipimpin RT Irawan Wijaya Pujodipuro. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Semalam Wilujengan di Kraton, Pagi Tadi Bersiap di Pelabuhan Teluk Penyu

CILACAP, iMNews.id – Rombongan pemetik sekar Wijayakusuma dari dua kota tiba di tempat transit di Masjid Agung Darussalam, Kabupaten Cilacap, pukul 02.30 WIB Minggu (3/5) dini-hari tadi. Masing-masing tim A satu bus dan beberapa mobil dari Kraton Mataram Surakarta, dan tim B beberapa mobil dari Pakasa Cabang Magelang serta dari daerah masing-masing Pakasa cabang yang berangkat sejak Kamis (30/4).

Seperti pernah beberapa kali diberitakan sebelumnya sejak rapat panitia pertama (iMNews.id, 16/3), Kraton Mataram Surakarta merencanakan untuk melaksanakan upacara adat “methik sekar” Wijayakusuma ke Pulau Nusakambangan. Jadwal yang diagendakan, tatacara dan proses ritualnya berlangsung dua hari, Sabtu dan Minggu (2-3/5) ini, dan siang ini semua panitia dan tim pemetik sudah berada di Cilacap.

MEMBERI ARAHAN : KP Siswanto Adiningrat (Wakil Pengageng Sasana Wilapa) memberi arahan untuk prosesi keberangkatan para petugas pembawa uba-rampe ritual “methik sekar” Wijayakusuma, dari Bangsal Smarakata menuju Kori Kamandungan Kidul, semalam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Tadi rombongan dari kraton tiba di temat transit (Masjid Darussalam) pukul 02.30 (Minggu, 3/5 dini-hari-Red). Langsung disambut hujan mulai gerimis. Karena saya mendapat tugas pawang hujan, ya langsung menjalankan tugas. Peralatannya sudah saya siapkan, terutama duwung singkir hujannya. Jam 06.00 WIB, kami melakukan shalat hajad di Masjid Darussalam,” ujar KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro.

Ketua Pakasa Cabang Kudus itu mengabarkan kedatangan dan kegiatan panitia dan tim sejauh yang dilakukan bersamanya, Minggu (3/5) pagi tadi. Dia menyebutkan, usai shalat hajad, rombonganya yang termasuk Tim A selaku tim pemetik sekar segera menuju ke Pendapa kabupaten Cilacap, pagi tadi. Semua wajib mengikuti protokol adat, mengenakan besakp putih untuk mengikuti acara di pendapa kabupaten.

SHALAT HAJAD : KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus) memimpin shalat hajad di Masjid Darussalam, Kabupaten Cilacap, Minggu pagi pukul 06.00 tadi. Doa dilakukan untuk keselamatan misi “methik sekar” Wijayakusuma. (foto : iMNews.id/Dok)

Pukul 07.00 WIB, rombongan Tim A menjalani pengambilan sumpah secara adat dan setelahnya dilanjutkan donga wilujengan di tempat yang sama. Semua uba-rampe wilujengan sudah dibawa dari kraton dan diangkut dengan bus dan beberapa mobil rombongan. Selesai donga wilujengan, semua tim gabungan A dan B yang jumlahnya sekitar 100 orang, menata barisan untuk kirab menuju dermaga Teluk Penyu.

Diperkirakan jumlah keseluruhan sekitar 130 orang yang disebutkan sudah termasuk panitia lokal atau Pakasa Cabang Cilacap, bahkan termasuk relawan Tim SAR dari Pakasa Cabang Ngawi (Jatim). Walau jumlah semua masyarakat adat Kraton Mataram yang terlibat lebih dari 130-an orang, tetapi sebagian besar tetap bertugas di dermaga Teluk Penyu. Sedang TIM A dan B, bertugas memetik sekar di dua lokasi.

PAWANG HUJAN : Disaksikan KRAT Bagiyono Rumeksodiningrat (Ketua Pakasa Cabang Magelang), KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus) memperlihatkan tatacara memohon agar hujan tertunda/menyingkir, pagi tadi. (foto : iMNews.id/Dok)

Doa lokasi yang sejak ratusan tahun lalu disebut ada tumbuhan sekar Wijayakusuma yang selalu dipetik untuk keperluan jumenengan nata di Kraton Mataram Surakarta, pertama adalah goa Sela Masigit yang ada di Pulau Nusakambangan. Sedang lokasi kedua adalah Pulau Majeti, pulau kecil yang diyakini juga menjadi tempat memetik sekar Wijayakusuma pada ratusan tahun lalu, tetapi harus menggunakan alat panjat.

Sementara itu, semalam Kraton Mataram Surakarta menggelar donga wilujengan di Bangsal Smarakata sebelum memberangkatkan tim A yang membawa segala uba-rampe untuk “methik sekar” Wijayakusuma. Ujub donga diberikan KRMH Boby Suyo Manikmoyo, dan abdi-dalem ulama RT Irawan Wijaya Pujodipuro segera memimpin doa yang diikuti jajaran bebadan Kabinet 2004 dan tim Pakasa cabang yang berangkat dari kraton.

PROSESI WILUJENGAN : Uba-rampe wilujengan dibawa dalam prosesi menuju makam Sunan Giring, Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Banjarnegara, Sabtu (2/5). Ritual wilujengan untuk mengantar proses “methik sekar” Wijayakusuma ke Nusakambangan.(foto : iMNews.id/Dok)

KP Siswanto Adiningrat selaku Wakil Pengageng Sasana Wilapa sempat memberi pengarahan soal proses keberangkatan petugas yang membawa uba-rampe wilujengan. Karena, rute prosesi methik sekar Wijayakusuma tidak seperti lazimnya upacara adat lain di kraton, yaitu keluar melalui Kori Kamandungan Lor. Semalam, usai wilujengan, semua uba-rampa dibawa dalam prosesi menuju Kori Kamandungan Kidul.

Dalam prosesi itu, tampak pimpinan Pakasa Cabang Ponorogo, cabang Trenggalek, cabang Pati dan pimpinan Pakasa Cabang Kudus. Di bagian lain, KP Bambang S Adiningrat (Ketua Pakasa Jepara) bersama Pakasa Cabang Banjarnegara menggelar wilujengan atas permintaan kraton. Ritual digelar di makam Sunan Giring Astana Pajimatan Girilangan, Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Banjarnegara, Sabtu (2/5). (won-i1)