Kawasannya “Terkubur” Bangunan Kios, Bagaimana Masyarakat Pelestarinya?
IMNEWS.ID – DENGAN sedikit mengurai bagaimana acara halal-bihalal warga Pakasa Cabang Klaten bisa digelar di kompleks Pesanggrahan Deles, kesimpulan sementara sudah bisa diperoleh untuk melihat “apa yang sebenarnya terjadi”?. Apalagi, saat menyimak sambutan Gusti Moeng dan KPH Edy Wirabhumi silih-berganti di acara itu.
Kesimpulan sementara yang bisa diambil dari beberapa variabel yang muncul itu, bahwa Pesanggrahan Deles telah luput atau lepas dari perhatian masyarakat adat. Setidaknya dalam kurun waktu sekitar 1 dekade sejak 2016/2017, saat situasi dan kondisi di kraton sedang lemah, ternyata masyarakat adat setempatpun hilang arah.
Melihat proses tumbuhnya bangunan kios yang khas objek wisata, memberi panorama berkesan aneh, mengherankan. Karena seakan “menimbun” atau menenggelamkan postur Pesanggrahan Deles karya Sinuhun PB V itu. Pemandangan itu memberi kesan, seakan-akan tak ada orang/pihak berempati, merasa terusik oleh perubahan aneh.

Kompleks Pesanggrahan Deles yang dibangun pada tahun 1822, secara teori mitigasi kegunungapian kini memang tidak berada di zona aman. Karena, posisinya berada di dalam garis batas KM 5 laju guguran lava, jika Gunung Merapi erupsi, atau terlarang untuk hunian. Tetapi, pilihan Sinuhun PB V tentu disertai “kalkulasi”.
“Kalkulasi” yang dulu disebut “etung” dan “petung” dalam memilih satu titik lokasi di lereng gunung aktif (berapi) untuk keperluan meditasi, pasti menyangkut urusan proteksi keselamatan prioritas utamanya. Terpenuhinya unsur keamanan dan kenyamanan, akan menciptakan suasana paling ideal yang menjadi syarat meditasi.
Berdasar logika yang mendasari pemilihan lokasi Deles, waktu itu, maka ada yang patut dipertanyakan, ketika melihat wujud rupa Pesanggrahan Deles kini. Media iMNews.id (Suara Merdeka) punya catatan “rekaman” satu dekade lalu, tetapi kapan terjadi perubahan luar biasa yang hampir merubah total bangunan pesanggrahan?.

Media ini “merekam” (mencatat), sekitar satu dekade lalu para tokoh Bebadan Kabinet 2004 hadir lengkap di Pesanggrahan Deles yang diprakarsasi Pekasa cabang setempat. Saat itu, bangunan pendapa diresmikan pejabat Pemkab Klaten, bersama Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA dan Pangarsa Pakasa Punjer beserta rombongan.
Saat itu, bangunan utama Pesanggrahan yang dari luar posturnya tidak beda dengan bangunan rumah biasa, menjadi pembanding soal unsur citra visual lama dan barunya. Dalam penjelasan (alm) KPH Broto Adiningrat (sentana-dalem) waktu itu, pesanggrahan pernah direnovasi akibat rusak berat oleh erupsi Gunung Merapi.
Erupsi Gunung Merapi, dalam penjelasan lembaga pemerintah yang mengurusi gunung berapi (PVMBG-Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), terjadi beberapa kali dalam rentang waktu ratusan tahun hingga 2010. Erupsi tahun 2010 terhitung paling besar soal kerusakan yang ditimbulkan, setidaknya pada 100 tahun terakhir.

Kalau erupsi terbesar terakhir disebut tahun 2010, itu yang paling memungkinkan menjadi penyebab nyaris “hapusnya” jejak Pesanggrahan Deles. Walau wajah bangunan baru, titik lokasi Pesanggrahan tampak tidak berubah, begitu pula permukaan dataran di kompleks yang lumayan luas tetapi berkonstruksi “terasering” itu.
Kalau perubahan wujud rupa Pesanggrahan Deles murni akibat bencana alam, atau perpaduan dengan human error atau perusakan lingkungan (oleh manusia), prosesnya menjadi rasional. Karena material erupsi Merapi yang dieksploitasi menjadi sumber vital ekonomi warga dan income pemerintah, itulah awal-mula kerusakan lingkungan.
Melihat perkembangan Lokasi kawasan Pesanggrahan Deles, kini, memang sudah terlalu jauh perubahan mendasar yang terjadi. Bangunan yang kini baru bisa tampak ketika dilihat dari jarak dekat di depannya, nyaris sudah kehilangan ciri-ciri dan tanda-tanda peninggalan peradaban masa lalu (Mataram) yang mengesankan.

Bila dianalisis lebih jauh, perubahan kawasan yang begitu frontal dan ekstrem itu bisa jadi sebagai bentuk pemahaman lanjutan yang sudah terlanjur salah. Artinya, karena wujud pesanggrahan sudah tidak tampak karena dampak bencana dan kerusakan lingkungan, bisa jadi ada sikap (kebijakan) untuk “melenyapkan” sama sekali.
Analisis ini bisa masuk pada kemungkinan terburuk itu, ketika melihat fakta citra visualnya saja. Karena kesan abai atau mengesampingkan keberadaan “wujud baru” Pesanggrahan itu, sangat kuat terpancar. Tetapi, dalam struktur masyarakat adat Pakasa, yang telah berikrar menjadi elemen pelestari Budaya Jawa dan kraton.
Ketika teringat elemen organisasi Pakasa dan punya pengurus cabang yang kabarnya punya anggota sampai ribuan orang, maka sebenarnya kekhawatiran Pesanggrahan Deles semakin bernasib “buruk” bisa dicegah. Atau setidaknya, ada komunikasi yang aktif ke kraton/Pakasa Punjer, agar ada tindakan cepat mencegah/menghindarinya. (Won Poerwono – bersambung/i1)
