Menbud Fadli Zon di Museum Kraton, Kunjungan “Membangkitkan” Kenangan (seri 1 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:April 4, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Menbud Fadli Zon di Museum Kraton, Kunjungan “Membangkitkan” Kenangan (seri 1 – bersambung)
KEPALA RAKSASA : Ada tiga patung kepala raksasa di depan Gusti Moeng yang sedang menjelaskan kepada Menbud RI Fadli Zon, saat kunjungannya sampai di ruang pamera museum kraton, Kamis (26/3). Dialog itu, memberi banyak pesan, makna danmanfaat. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Berkait” dengan Kreasi Daya Tarik Wisata Bernama “Pekan Syawalan”

IMNEWS.ID – KUNJUNGAN Menbud RI Fadli Zon di kraton yang dilakukan Kamis (26/3) lalu, memberi multi makna dan manfaat baik untuk masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta, maupun publik secara luas. Bahkan, dari dialog Gusti Moeng dengan  menteri saat melihat seisi museum kraton, seakan “membangkitkan” kenangan tentang sebuah kreasi inovatif yang pernah menjadi ikon terkenal di Kota Bengawan ini.

Dialog menarik Gusti Moeng dengan Menteri Fadli Zon yang disaksikan rombongannya dan tuan rumah yang mengantarnya berkeliling, termasuk Sinuhun PB XIV Hangabehi, terjadi saat memasuki ruang pamer paling awal (rimur). Di situ ada sederet patung berujud kepala raksasa yang sudah masuk kategori pusaka, yang diberi nama Canthik  perahu “Kiai Rajamala”. Di situ ada tiga “Canthik” berukuran kecil hingga besar.

Patung atau karya seni kriya berbahan kayu yang membentuk kepala raksasa dan diberi nama Kiai Rajamala itu, dijelaskan Gusti Moeng sebagai elemen pelengkap sekaligus identitas perahu “titihan-dalem” Sinuhun PB IV (1788-1820). Perahu yang hanya dimiliki Raja Kraton Mataram Surakarta itu, di ujung haluan depan, dihiasi Canthik Rajamala. Perahu digunakan saat menjemput dua permaisuri asal Madura.

Mengapa Kraton Mataram Surakarta memiliki perahu, padahal jauh dari perairan sebagai sarana transportasi?. Itu memang yang tampak sekarang. Atau setidaknya setelah Bengawan Solo dan beberapa anak sungai yang menuju ke arahnya mengalami pendangkalan hebat. Sehingga, Bengawan Sala sendiri yang pernah dilukiskan Gesang  dalam lagu langgam keroncong ciptaannya “Bengawan Solo”, sudah “tak sesuai”.

REPLIKA RAJAMALA : Patung kepala raksasa yang diberi nama “Canthik Rajamala” yang menghias pendapa Pesanggrahan Langenharjo, di belakang sejumlah orang yang sedang bersarasehan itu, adalah replika yang dibuat untuk keperluan Pekan Syawalan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ketika sampai pada soal “Bengawan Solo”, lagu yang sangat disukai warga Jepang sekitar 30-40 tahun lalu itu, lirik-lirik yang disusun Gesang Martorahardjo (alm) terkesan begitu besar, banyak bermanfaat dan begitu indah pesonanya. Tetapi, seiring perkembangan zaman, sungai yang berhulu di pegunungan seribu dan menjulur sampai 270-an KM sampai di pantai selatan Jawa Timur itu, sudah jauh berubah.

Gambaran Gesang dalam lagu yang diciptakan di “zaman” pendudukan Jepang, sebelum NKRI lahir itu, realitasnya kini seakan bertolak belakang realitasnya dengan saat diciptakan 80-an tahun lalu. Yang jelas, karena terjadi pendangkalan yang luar biasa, dan menjadi tempat “pembuangan aneka macam limbah”. Peristiwa “alami” berupa pendangkalan, juga terjadi pada sejumlah anak sungai yang menuju ke situ.

Salah satu anak sungai yang mengalami pendangkalan, adalah kali Pabelan yang alurnya sedikit berbelok ke sekitar Pasar Kliwon (kini) pada zaman Sinuhun PB II (1727-1749) dibangun dermaga kecil. Dermaga ini terhubung ke dermaga besar untuk ukuran saat itu, yang dibangun di dekat pertemuan anak sungai Pabelan dan Bengawan Solo di kawasan Kampung Sewu, yang disebut pelabuhan besar saat itu.

Melalui jalur transportasi air itulah, hampir semua pejabat “negara” Mataram Surakarta dari Kadipaten/kabupaten di 2/3 Pulau Jawa itu, memanfaatkannya sebagai jalur air untuk “sowan” kraton. Jalur darat juga ada, tetapi diyakini belum terhubung ke setiap kota besar seperti sekarang ini. Jangan membayangkan jalan tol atau jalan negara antar kota, atau jalur KAI yang baru ada di awal abad 19.

WAJAH PENDANGKALAN : Inilah wajah di alur Bengawan Solo dekat objek wisata Taman Jurug (kini Taman Safati Jurug) satu dekade lalu. Para penonton kirab gethek – perahu Jaka Tingkir bisa turun sampai bibir genangan sungai, karena sudah “dangkal”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ilustrasi itu, menjadi pendukung bagaimana Sinuhun PB IV memiliki titihan-dalem berupa perahu, diberi ciri ikonik “Canthik Rajamala” dan sangat spesifik penggunaannya. Yaitu, untuk menjemput dua puteri Adipati Tjakra Adiningrat dari Pamekasan, Madura pada waktu berbeda. Pertama, KR Handaya yang menjadi prameswari  dan melahirkan Sinuhun PB V. Karena wafat, kemudian KR Sakaptinah dipinang.

Sampai pada kisah ini, Kraton Mataram Surakarta menyimpan kenangan tentang “besan” Sinuhun PB III (1749-1788) yaitu Adipati Tjakra Adiningrat III, karena kedua puterinya berturut-turut dijadikan prameswari Sinuhun PB IV. KR Handaya melahirkan Sinuhun PB V, sedangkan KR Sakaptinah melahirkan Sinuhun PB VI, PB VII dan PB VIII. KR Handaya dimakamkan di Astana Pajimatan Laweyan, Surakarta.

Soal ujung haluan perahu yang dihiasi patung ikonik Canthik Rajamala itu, masih banyak kisahnya. Termasuk “satang” atau bilah dayung perahu Sinuhun PB IV itu, yang disebut Gusti Moeng wutuhnya sepanjang 9 meter. Potongan bilah “satang” bagian bawah yang panjangnya sekitar 2 meter, masih tersimpan di museum kraton dan sempat ditunjuk Gusti Moeng saat memberi berdialog dengan Menbud Fadli Zon.

Kisah perahu Sinuhun PB IV dan Canthik Perahu Rajamala, bisa menjadi cerita menarik yang disajikan secara terpisah lebih dalam. Tetapi, hal menarik dalam dialog Gusti Moeng dengan Menteri Fadli Zon yang muncul spontan, adalah sepatah kata bernada usulan. Gusti Moeng mengandaikan, jika alur Bengawan Solo di dekat Taman Jurug bisa dibendung, akan menjadi “objek wisata air” yang menarik.

KREASI GETHEK : Alur air sungai Bengawan Solo di dekat Taman Jurug, oleh Gembong Supriyanto (alm) dikreasi menjadi objek baru dalam event Pekan Syawalan berbasis tradisi budaya dan sejarah. Jaka Tingkir diangkat sebagai tokoh ikon sungai itu.(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Usulan spontan itu tentu menjadi pemikiran Menteri Fadli Zon, sekalipun tidak langsung ditanggapi saat berdialog dengan Gusti Moeng. Tetapi, usulan itu sangat mungkin karena ada alasan rasional. Setidaknya alasan “pendangkalan” Bengawan Solo, yang bisa dilihat dari ruas alur di dekat objek wisata Taman Safari Jurug, sekarang ini. Berikut, adalah alasan yang “meneruskan” usulan Gembong Supriyanto.

Alasan “pendangkalan” Bengawan Solo, itu fakta riil yang prosesnya terjadi dalam waktu yang panjang. Setidaknya bisa diukur karya Gesang Martorahadjo (alm), saat menciptakan lagu langgam keroncong berjudul “Bengawan Solo”. Di awal zaman Jepang, tahun 1942, Gesang menyusun lirik lagu langgam keroncong “Bengawan Solo”, yang melukiskan keindahan dan begitu besar manfaat sungai itu bagi kehidupan.

Rupanya, nama besar lagu “Bengawan Solo” dan posisi Gembong Supriyanto (alm) saat  menjadi karyawan PT Bengawan Permai yang mengelola objek wisata Taman Jurug, menjadi “peluang berinovasi”. Di saat pamor bisnis pertunjukan olah-raga “Moto Cross” di Taman Jurug mulai menurun menjelang tahun 1980, ia mulai berkreasi menciptakan inovasi. Kreasinya berupa keramaian hiburan berbasis tradisi Jawa.

Kali pertama dikreasi pada Lebaran di tahun 1979, diberi nama “Pasar Kere” yang mengambil istilah keramaian pasar masyarakat paling bawah yang “identik kere”, saat itu. Karena, untuk membuat keramaian pasar riil, Gembong dan kawan-kawannya memboyong sejumlah pedagang aneka produk kuliner dan kerajinan khas masyarakat bawah, yang biasa berjualan di luar beberapa pasar terdekat di Kota Surakarta.

BERGANTI-GANTI : Tokoh pemeran Jaka Tingkir yang dihadirkan Gembong Supriyanto sebagai maskot kirab ketupat dan gethek Pekan Syawalan, selalu berganti-ganti. Mulai dari pelawak sampai KGPH Hangabehi yang kini bergelar Sinuhun PB XIV. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dari “Pasar Kere” yang digelar hanya untuk menyambut Hari Raya Idhul Fitri atau Lebaran ini, berkembang menjadi lebih besar, serius dan punya pengaruh positif. Tahun kedua yang mengunjak tahun 1980-an, nama “Pasar Kere” diubah menjadi “Pekan Syawalan”, karena temanya adalah menyambut Lebaran 1 Syawal. Pesertanya makin bertambah banyak, bervariasi, beragam komoditas dan jasa hiburannya yang hadir.

Gembong makin mendapat kemudahan, karena statusnya sebagai karyawan. Pekan Syawalan makin dikreasi dengan hadirnya sebuah bangunan permanen, untuk wisatawan yang menikmati keindahan Bengawan Solo dan sajian musik kerongcong di Situ. Dari situ, Gembong menciptakan kreasi berbasis tradisi berupa kirab ketupat dan larung sesaji yang menampilkan tokoh sejarah ikon Bengawan Solo, yaitu Jaka Tingkir. (Won Poerwono – bersambung/i1)