Pakasa Cabang Jepara Dukung Tradisi Festival Pangangon di Desa Geneng

  • Post author:
  • Post published:April 1, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Pakasa Cabang Jepara Dukung Tradisi Festival Pangangon di Desa Geneng
MENJAMAS KAMBING : Petinggi (Kades) Geneng Dwi Bambang Hermawan secara simbolis melakukan ritual ("jamasan") pada seekor kambing, sebelum dibawa "pangon"nya (Pengangon-Red) dalam kirab Festival Pangangom", Sabtu (28/3). (foto: iMNews.id/Dok)

Pengurus Pakasa Cabang Salatiga Gelar Halal-bihalal Undang Punjer

JEPARA, iMNews.id – Pengurus Pakasa Cabang Jepara mendukung ritual tradisi “Lomban” dalam rangka Pekan Syawalan yang digelar di Desa Geneng, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, Sabtu (28/3). Kehadiran Korsik Sura Praja Pakasa Cabang Jepara untuk memeriahkan kirab budaya event “Festival Pangangon”, sebuah tradisi masyarakat setempat yang diadakan bersamaan di hari “Bodo (Bakda) Kupat”.

KP Bambang S Adiningrat (Ketua Pakasa Cabang Jepara) yang dimintia konfirmasi iMNews.id kemarin menyebutkan, dalam rangka “Syawalan” atau “Bodo Kupat” atau pesta ketupat dalam rangka halal-bihalal selepas Hari Raya Lebaran, Desa Geneng, Kecamatan Batealit menggelar dua ritual tradisi sekaligus. Yaitu tradisi “Lomban” yang mirip “sedekah laut” di pantai terdekat, dan kirab “Festival Pangangon”.

MEMBERI SAMBUTAN : KP Bambang S Adiningrat memberi sambutan sebelum kirab budaya “Festival Pangangon” dilepas. Bregada Korsik Sura Praja Pakasa Jepara mendukung ritual tradisi “Bodo Kupat” (Syawalan) yang digelar Desa Geneng, Sabtu (28/3). (foto : iMNews.id/Dok)

Kedua ritual tradisi yang menjadi satu event di tahun 2026 ini, mendapat perhatian masyarakat luas baik dari desa setempat maupun dari luar wilayah atau daerah. Ritual tradisi “lomban”, digelar di pantai Desa Geneng, yang melibatkan sejumlah perahu nelayan. Mereka berarak-arak membawa sesaji, yang dihanyutkan dengan perahu kecil (kreasi mainan), lalu dijarah warga yang “ngalab berkah”.

“Dalam waktu yang bersamaan, juga digelar kirab untuk ritual “Festival Pangangon”  yang dipusatkan di Bala Desa Geneng. “Festival Panganon” adalah festival masyarakat desa yang memperlihatkan perhatiannya dalam memelihara berbagai jenis ternak, khususnya kambing dan sapi. Ekspresinya merawat, hewan piaraan/ternaknya, termasuk kesehatannya, diharapkan agar selalu mendatangkan berkah bagi mereka.  

IKUT KIRAB : Karena namanya kirab “Festival Pangangon” (pangon-penggembala), maka seekor kambing yang digembalakan juga ikut serta dalam kirab budaya tradisi Syawalan atau “bodo kupat” yang digelar di Desa Geneng, Sabtu (28/3). (foto : iMNews.id/Dok)

“Kami pengurus Pakasa Cabang Jepara, bersinergi dengan event “Festival Pangangon” (pangon-penggembala). Yaitu dalam kirab budaya yang diadakan setelah didahului dengan ritual (jamasan) ternak di panggung. Petinggi (Kepala) Desa Geneng, pak Dwi Bambang Hermawan, yang memimpin ritual. Beliau juga ikut dalam barisan kirab. Bregada Korsik Sura Praja Pakasa Jepara dan manggalanya, memandu kirab,” ujarnya.

Menurut KP Bambang S Adiningrat, kehadiran Pakasa Cabang Jepara mendukung ritual tradisi itu untuk kali kedua setelah tahun 2025 lalu. Dalam festival hewan “ingon-ingon” yang sering digembalakan atau “diangon” itu, juga disertai pemeriksaaan kesehatan hewan yang dibawa para peserta kirab. Beberapa petugas dari Dinas Kesehatan Pemkab Jepara juga hadir memeriksa hewan sebelum kirab.

KORSIK SURA-PRAJA : Para prajurit Bregada Korsik Sura-Praja Pakasa Cabang Jepata tampak memandu barisan kirab budaya “Festival Pangangon” yang digelar Desa Geneng, Kecamatan Batealit, Sabtu (28/3), dalam rangka Bodo Kupat (Syawalan).(foto : iMNews.id/Dok)

Ritual tradisi yang menjadi event “Festival Pangangon” di Desa Geneng, disebut satu-satunya yang dimiliki Kabupaten Jepara. Padahal, kabupaten ini punya 183 desa yang tersebar di 16 kecamatan. Dalam struktur wilayah kepengurusan Pakasa, kecamatan bisa dibentuk pengurus Anak Cabang (Ancab) atau Koordinator Kecamatan (Korcam). Pembentukan pengurus di tingkat itu, masih menjadi “cita-cita” cabang.

Sementara itu, pengurus Pakasa Cabang Salatiga yang baru beberapa bulan terbentuk, Selasa (31/3) kemarin menggelar acara ahalal-bihalal bagi kalangan pengurus dan warganya. Acara digelar di rumah dinas Wali Kota Salatiga, dihadiri KPH Edy Wirabhumi selaku Pangarsa Pakasa Punjer dan Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA. Keduanya mendapat kesempatan memberi sambutan.

HALAL-BIHALAL : Gusti Moeng dan KPH Edy Wirabhumi mewakili kraton, duduk sederet dengan Ny. Retno Margiastuti (Ketua Pakasa Salatiga) dan dr Roby Hernawan (Wali Kota Salatiga) menjelang acara halal-bihalal dimulai, Selasa (31/3). (foto : iMNews.id/Dok)

KPH Edy Wirabhumi (Pangarsa Pakasa Punjer) kepada iMNew.id menyatakan, halal-bihalal hanya untuk lingkungan pengurus Pakasa Salatiga. Dia bersama Gusti Moeng hadir mewakili Kraton Mataram Surakarta, disambut laporan/sambutan Nyonya Retno Margiastuti (istri Wali Kota Salatiga) selaku Ketua Pakasa Cabang Salatiga, serta pidato sambutan Wali Kota Salatiga dr Roby Hernawan Sp.OG selaku tuan rumah.(won-i1)