Misi “Menjaga” Tahta Darah Mataram Tetap Lurus, Sinyal Malem Selikuran 2026

  • Post author:
  • Post published:March 10, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Misi “Menjaga” Tahta Darah Mataram Tetap Lurus, Sinyal Malem Selikuran 2026
MALEM SELIKURAN : Suasana di halaman depan Bangsal Marcukunda saat menjadi ajang menata barisan prosesi ritual "Malam Selikuran", Semalam. Suasana yang biasanya remang-remang, menjadi lebih terang oleh sinar warna-warni "ting" dan "oncor". (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ritual di Awal Tahta PB XIV, Dihadiri Lebih Seribu Abdi-dalem

SURAKARTA, iMNews.id – Upacara adat “Malem Selikuran” atau “Lailathul Qadar” digelar Bebadan Kabinet 2004 di malam tanggal 21 Pasa Tahun Dal 1959, yang jatuh pada Senin Kliwon, 9 Maret 2026. Ritual menyambut “Malam Seribu Bintang” di bulan Ramadan Tahun 1447 H itu, tepat di “awal tahta” Sinuhun PB XIV Hangabehi yang seterusnya bisa disebut “karya” semasa jumenengnya “Raja” ke-21 Kraton Mataram Islam (Surakarta). Peristiwa ini akan menjadi catatan sejarah penting kelak.

Ritual “Malem Selikuran” yang dipimpin langsung oleh Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA), dimulai dari Bangsal Smarakata tempat semua yang hadir dalam “pisowanan” itu berkumpul dan menata barisan prosesi. Berkumpul mulai pukul 20.00 WIB sesuai “dhawuh” yang disebar, prosesi arak-arakan baru bisa dilepas pukul 20.45 WIB, karena membutuhkan waktu cukup untuk menata barisan.

Ada KP Siswantodiningrat (Wakil Pengageng Sasana Wilapa), KP Puspirodiningrat (Sekretaris Pengageng Sasana Wilapa), KP Budayaningrat (Lembaga Kapujanggan), KRMH Suryo Kusumo Wibowo (Korlap Prosesi) dan sejumlah pembantu penata lapangan bekerja keras, semalam. Karena, peserta prosesi arak-arakan pembawa uba-rampe wilujengan “Malem Selikuran”, terdiri dari berbagai elemen dalam jumlah besar.

Lebih dari 500 orang peserta terlibat dalam barisan prosesi maupun pengamanannya. Yang pertama tentu Bregada Prajurit Tamtama dan Korsik Drumbandnya yang disambung beberapa bregada prajurit lain. Di belakangnya adalah lentera simbol Sri Radya Laksana, dua joli berisi uba-rampe wilujengan simbol “Tumpeng Sewu”, baru disusul nasi gurih yang dipikul dengan “jodang”, diikuti penerangan “ting” warna-warni .

SEPASANG JOLI : Setelah mengelilingi Baluwarti, sepasang joli berisi uba-rampe wilujengan “Malem Selikuran” yang dibawa prosesi, melewati gapura dan menuju “topengan” Masjid Agung pada ritual “Malem Selikuran”, Senin (9/3) semalam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Seni hadrah para santri lingkungan makam Ki Ageng Selo di Kabupaten Grobogan yang dipimpin KRT Rokhim (juru-kunci Makam Ki Ageng Selo), ikut menyemarakkan kirab prosesi. Di belakangnya adalah para “pengombyong” dari berbagai elemen masyarakat adat. Ada utusan warga Pakasa cabang, Putri Narpa Wandawa, sentana-dalem, sentana-garap, abdi-dalem garap, Pasipamarta, warga “tugur” dan Senapati Mataram.

Selain yang berprosesi mengelilingi jalan lingkar dalam Baluwarti, ternyata banyak juga yang datang langsung dan menunggu di kagungan-dalem Masjid Agung. Termasuk, grup seni karawitan “Laras Madya” atau “Santiswaran” dari kalangan abdi-dalem kraton. Mereka tidak ikut prosesi kirab, karena tugasnya menyajikan “gending-gending” religi menyambut kedatangan prosesi kirab “Malem Selikuran”.

Sekitar 45 menit dari keberangkatan prosesi mengelilingi lingkar dalam Baluwarti, menjelang pukul 22.00 WIB barisan arak-arakan “ting” warna-warni dan obor (oncor) yang banyak dibawa pasukan elemen “Senapati Mataram”, tiba di Masjid Agung. Sesampai di “topengan” (teras) masjid, KPP Haryo Sinawung Waluyoputro selaku pimpinan rombongan atau “Bupati Lampah”, diterima para takmir Masjid Agung.

KPP Haryo Sinawung kembali “bertugas”, setelah sebelumnya mendapat “dhawuh” membawa prosesi untuk kirab dan menuju masjid oleh KPH Bimo Djoyoadilogo dalam upacara pelepasan di Bangsal Smarakata. Di Masjid Agung, ia melaporkan sekaligus menyerahkan “uba-rampe wilujengan Malem Selikuran” kepada KRA Mufti Rahardjo, mewakili takmir masjid. Setelah diterima, semua uba-rampe dibawa masuk ke masjid.

SEKITAR 2 RIBU : Ruang pendapa Masjid Agung nyaris penuh oleh masyarakat adat dan warga yang “ngalab berkah” ritual “Malem Selikuran”, Senin (9/3) semalam. Ada sekitar 2 ribu yang “sowan” pada ritual di awal tahta Sinuhun PB XIV Hangabehi itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Setelah semua uba-rampe ditata ditengah-tengah ruang pendapa, begitu juga semua yang hadir mengambil tempat duduk, upacara adat segera dimulai. Tampak menjadi nyaris penuh ruang pendapa, yang diperkirakan mencapai 2 ribuan baik peserta ritual “Malem Selikuran” maupun masyarakat yang ingin “ngalab berkah”. Pembacaan ayat suci Alqur’an dikumandangkan, sebelum pembacaan riwayat “malem Selikuran”.

KPP Haryo Sinawung Waluyoputro kembali bertugas untuk memberi “dhawuh” kepada abdi-dalem juru-suranata RT Irawan Wijaya pujodipuro untuk memimpin doa, dzikir dan tahlil. Selesai doa, Gusti Moeng memberi sambutan tunggal sebagai penutup rangkaian upacara adat “Malem Selikuran”. Para petugas dari elemen Senapati Mataram, langsung bersiap membagi-bagikan bungkusan nasi gurih “Tumpeng Sewu”.

Begitu seluruh rangkain upacara selesai dan “ngalab berkah” nasi gurih khas “Malem Selikuran” sedang berlangsung, baru kelihatan sejumlah pimpinan Pakasa cabang. Para ketua yang tampak adalah Pakasa Cabang Ponorogo, Pakasa Cabang Ngawi, Pakasa Cabang Trenggalek, Pakasa Cabang Pati, Pakasa Cabang Magelang dan Ketua Pakasa Cabang Kudus. Utusan Pakasa Cabang Jepara dan Tegal juga tampak.

Di antara utusan Pakasa cabang yang agak sibuk semalam, adalah pimpinan Pakasa Kudus. KRRA Panembahan Didik Alap-alap Wilingwesi Singonegoro (Ketua cabang), tampak sejak persiapan kirab, tetapi dirinya tetap bertahan di “topengan” Kori Kamandungan ketika prosesi arak-arakan sudah berjalan menuju Masjid Agung. Dia menyatakan, dirinya harus paling akhir berangkat karena tugas “pawang hujan”.

DIBAGI-BAGIKAN : Beberapa “abdi-dalem” membagi-bagikan bungkusan “nasi gurih” khas “Malem Selikuran” kepada masyarakat adat berbagai elemen yang “sowan”. Juga warga yang datang khusus “ngalab berkah” ritual “Lailathul Qadar”, semalam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Ya, seperti biasa. Mendapat ‘dhawuh’ tugas mulia. Saya yang terakhir beragkat ke Masjid Agung. Yang penting hanya gerimis tipis saja, sejak prosesi arak-arakan berangkat sampai seluruh upacara berakhir. Bahkan malah terang tanpa gerimis saat semua upacara sudah selesai. Saya meminjam keris pusaka Singkir Maruta Bayu Tirta untuk tugas ini,” ujar KRRA Panembahan Didik Gilingwesi menjawab iMNews.id.

Di antara para abdi-dalem yang hadir dalam pisowanan sejak dari Bangsal Smarakata hingga di Masjid Agung, adalah Ki Dr Purwadi, Ketua Lokantara Pusat di Jogja yang selem ini “single fighter” banyak menyumbang pemikiran untuk Kraton Mataram Surakarta. Ia menyatakan, ritual “Malem Selikuran” mengandung tiga unsur budaya dan dikreasi KR Panggung (istri Raden Patah) menjadi ritual di Kraton Demak.

HUKUM ISLAM : Gusti Moeng saat diwawancarai para wartawan di tempat memimpin ritual wilujengan “Malem Selikuran”, Masjid Agung, semalam. Ia menjelaskan soal “nuli kabage kang warata” dan makna anak yang lahir dari seorang perempuan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Hal yang lebih menarik dari event ritual “Malem Selikuran” tahun 2026 ini, selain menandai awal periode tahta Sinuhun PB XIV Hangabehi, juga punya makna lain. Yaitu upaya “menjaga tahta trah darah Mataram” tetap lurus atau tidak menyimpang. Karena, tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi sudah lurus sebagai anak yang sah dari Sinuhun PB XIII. Upaya itu yang menjadi misi utama yang didukung seluruh kerabat.

“Kalau yang satunya, itu namanya menggok (belok). Saya harus menjaga trah darah pewaris tahta tetap lurus. Jangan sampai menyimpang. Banyak yang bilang, kalau ada anak lahir dari perempuan mengandung 6 bulan saat dinikahi, akte kelahirannya bunyinya gimana? Anak dari seorang ibu ‘kan? Dalam hukum Islam tidak bisa disebut ‘bin’ kan? La wong dinikahi Juni 2002, kok lahir September 2002,” tunjuknya. (won-i1)