Sabtu, 4 Desember 2021
Pendidikan Wisuda 43 Purnawiyata Siswa Pasinaon Pambiwara Diiringi Hujan Deras

Wisuda 43 Purnawiyata Siswa Pasinaon Pambiwara Diiringi Hujan Deras

Baca Juga

Seakan tak Mengenal Lelah, Terus Bergerak Memimpin Upaya Pelestarian Budaya

Belum Selesai Menggelar Hari Jadi Pakasa, Sudah Diselingi Ritual Mahesa Lawung SOLO, iMNews.id – Seakan tak mengenal lelah, belum selesai...

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

Wakil Wali Kota : “Kalau Tidak Mau Dihormati, ya………..”

Sumbang Rp 5 Juta untuk Pekan Seni 90 Tahun Pakasa SOLO, iMNews.id – Pembukaan Pekan Seni dan Ekraf (Ekonomi Kreatif)...
~Pariwara~

Ketua Sanggar Ajak Semua yang Hadir Berdoa dengan Tembang Panembrama

SOLO, iMNews.id – PERJUANGAN semua yang terlibat dalam proses belajar-mengajar pada Sanggar Pasinaon Pambiwara khususnya para siswa babaran (angkatan) 37, sampai pada puncaknya ketika mengikuti upacara wisuda 43 purnawiyata siswa sanggar di ndalem Kayonan, Rabu malam (18/11). Perjuangan pada puncaknya untuk mendapatkan kekancingan (sertifikat/ijazah) sekaligus kalungan samir tanda lulus belajar itu, harus diperoleh dalam suasana hujan deras bercampur angin yang turun di ndalem Kayonan, Baluwarti, Solo bahkan wilayah yang lebih luas, tadi malam mulai pukul 19.30 hingga lewat pukul 20.00 WIB.

Merasakan dinginnya angin bercampur hujan malam itu, Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Mataram Surakarta, KPH Raditya Lintang Sasangka yang sedang memulai memberi sambutan pelepasan, spontan mengajak semua yang hadir untuk berdoa. Namun, doa yang diperkenalkan kembali kepada warga peradaban abad ini khsusnya yang hadir malam itu, yaitu dalam bentuk tembang panembrama atau koor yang berjudul Ladrang Santi Mulya (Pelog 5) dan diteruskan dengan gending Ketawang Barikan (Pelog 5).

BERFOTO BERSAMA : Sehabis menyerahkan kekancingan dan mengalungkan samir, Gusti Moeng (Ketua Yayasan Pawiyatan) dan KPH Raditya (Ketua Sanggar Pasinaon), berfoto bersama para purnawiayata dalam upacara wisuda siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta di ndalem Kayonan, Baluwarti, tadi malam (17/11). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dengan bersemangat, semua yang hadir bersama-sama melantunkan tembang ciptaan Ki Nartosabdo (Santi Mulya) dan Cipto Suwarso (Ketawang Barikan) mengikuti aba-aba KPH Raditya dari atas panggung kecil. ‘’Nembang’’ koor atau panembrama dengan syair gending berisi doa harapan dan tolak-balak itu, menjadi terarah dan bahkan bisa menembus sanubari paling dalam, karena diiringi orkestra gamelan yag disajikan secara ‘’live’’.

‘’Saya sendiri hampir meneteskan air mata ketika mengucapkan syair kedua gending itu. Karena, isinya sangat menggugah kesadaran kita untuk melihat keagungan Tuhan YME. Sekaligus menggugah rasa patriotisme sebagai warga bangsa (Indonesia). Sedang gending kedua, dengan kata-kata ‘rahayua…..rahayua…..’, itu adalah permohonan kita kepada Allah SWT agar diberi keselamatan. Termasuk, keselamatan bangsa dan negara dari pandemi, yang sudah melanda selama dua tahun ini. Mudah-mudahan segera berakhir,’’ ujar dosen pascasarjana FEB UNS yang dikenal dengan nama Drs Bambang Irawan Msi itu, menjawab pertanyaan iMNews.id, tadi siang.

IKUT MENGUCAPKAN SELAMAT : Pemerhati budaya Jawa dan keraton secara spiritual kebatinan, KRT Hendri Rosyad Wrekso Puspito ikut menyaksikan berlangsungnya upacara wisuda siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta di ndalem Kayonan, Baluwarti, tadi malam (17/11). Setelah mengucapkan selamat kepada para wisudawan, dia juga berfoto bersama dengan para wisudawan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sebelum memimpin koor ‘’nembang’’ dua gending doa itu, KPH Raditya menyebutkan bahwa siswa angkatan 37 ini termasuk paling berat tantangannya, karena proses belajar-mengajarnya menghadapi situasi pandemi Corona, sejak awal masuk di akhir 2019, lalu berhenti di awal pandemi di tahun 2020, berakhir di bulan September 2021 dan baru sekarang bisa diwisuda. Dari yang semula mendaftar ada lebih dari 60 orang, kini tinggal 43. Itupun, yang 4 (wisudawan) menyusul ‘’didadar’’ (diuji) pagi tadi.

Selaku Ketua Yayasan Sanggat Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta, GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng juga memberikan sambutan. Bahkan bergantian dengan putra mahkota KGPH Mangkubumi, KPH Edy Wirabhumi, KPH Raditya Lintang Sasangka dan Wakil Kepala Dinas Kebudayaan Pemkot, memberikan kekancingan dan mengalungkan samir kepada 43 purnawiyata sebagai tanda wisuda. (won)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Seakan tak Mengenal Lelah, Terus Bergerak Memimpin Upaya Pelestarian Budaya

Belum Selesai Menggelar Hari Jadi Pakasa, Sudah Diselingi Ritual Mahesa Lawung SOLO, iMNews.id – Seakan tak mengenal lelah, belum selesai...

More Articles Like This