Perjalanan Spiritual Sinuhun PB XIV Hangabehi,”Lelaku Ing Satengahing Rame” (seri 4 – Habis)

  • Post author:
  • Post published:January 24, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Perjalanan Spiritual Sinuhun PB XIV Hangabehi,”Lelaku Ing Satengahing Rame” (seri 4 – Habis)
DIKEJAR-KEJAR : Hiruk-pikuk para wartawan dan masyarakat yang ingin mengajak komunikasi, adalah salah satu contoh "keramaian" suasana zaman modern, sebagai tantangan yang harus bisa diatasi Sinuhun PB Hangabehi dalam menjalankan "lelaku". (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Contoh “Lelaku” Seorang Pemimpin Penerus Dinasti Mataram di Zaman Modern

IMNEWS.ID – JUMAT Kliwon, 25 Ruwah tahun Je 1959 atau 23 Januari 2026, Sinuhun PB XIV Hangabehi terkabul sampai di Masjid Cipta Mulya, Pengging, Kecamatan Banyudono (Boyolali). Perjalanan spiritualnya guna mendapatkan bekal spiritual religi dan kebatinan sebagai penerus pemimpin Dinasti Mataram di Surakarta, bisa terwujud.

Terkabulnya “syarat” shalat Jumat di Masjid Cipta Mulya peninggalan Sinuhun PB X (1893-1939) itu terkabul, bahkan bisa melahirkan “kebahagiaan” bagi banyak orang. Walau tertunda karena “diajak” Jumatan Wapres Gibran di Masjid Agung, Jumat (16/1), tetapi perjalanan spiritual Jumat (23/1) kemarin justru memberi “manfaat”.

Nilai manfaat bagi orang lain berupa “kebahagiaan” itu adalah “side effect” yang bisa dimaknai, tetapi sulit dipahami orang yang sedang “mabuk ambisi”. Itulah nilai plus dari “perjuangan” Sinuhun Hangabehi yang selalu diberi kesabaran. Karena, dirinya sadar sedang berusaha “ngerti laku”, sebagai kebutuhan pemimpin.

MELEWATI PASAR : Rute perjalanan spiritual religi shalat Jumat ke Masjid Agung yang harus melewati keramaian Pasar Klewer, adalah bentuk perubahan zaman dan tantangan yang harus diatasi pemimpin Dinasti Mataram kini dan ke depan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Perjalanan spiritual untuk berusaha memahami kebutuhan “ngerti laku” di Masjid Cipta Mulya, boleh dikatakan menggantikan agenda yang semula dijadwalkan ke Masjid Ki Ageng Sela, Kabupaten Grobogan. Mungkin saja, setelah “lelakunya” di Pengging (Boyolali) terwujud, perjalanan kemudian baru diagendakan berlanjut ke Grobogan.

Bila dicermati sejak awal menunaikan syarat Jumatan sampai 7 kali di kagungan Masjid Agung, bagi publik secara luas mungkin sulit memahaminya sebagai perjalanan spiritual religi, apalagi secara kebatinan. Mungkin saja, hanya dipandang sebagai hal biasa bagi umat muslim yang wajib menunaikan ibadah shalat tiap Jumat.

Di sinilah ada beberapa hal edukatif dan menarik yang bisa dipahami publik secara luas. Bahwa keniscayaan eksistensi Kraton Mataram Surakarta yang bisa menembus ruang dan waktu hingga tetap tegar di zaman semodern sekarang ini, hal-hal yang menyangkut syarat wajib bagi seorang pemimpin dinasti, tetap harus terpenuhi.

JUGA RAMAI : Kagungan-dalem Masjid Agung yang menjadi syarat wajib shalat Jumat 7 kali oleh Sinuhun PB XIV Hangabehi, tampak semakin ramai. Itu salah satu ciri “keramaian” zaman modern, sekaligus menjadi tantangan pemimpin Dinasti Mataran. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Konotasinya bukan memaksakan nilai-nilai tradisi dan adat untuk melawan perubahan zaman, melainkan mencari cara baik dan ramah untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi perkembangan zaman. Karena itu, kalaulah tetap ada beberapa syarat wajib “lelaku”, harus dijalankan dengan menyesuaikan situasi dan kondisnya.

Sikap adaptif atau ramah situasi dan kondisi, itulah kunci keberhasilan melakukan perjalanan spiritual di zaman yang sangat modern dan padat teknologi sekarang ini. Suasana zaman yang sudah sangat jauh berbeda itu, adalah tantangan bagi Sinuhun PB XIV Hangabehi untuk mengatasinya, agar perjalanan spiritualnya terwujud tuntas.

Jika ratusan tahun lalu para tokoh pemimpin Dinasti Mataram menjalani “lelaku” selalu di tengah “kesunyian” atau kesepian (“nepi”-Red) untuk dua hal perjalanan spiritualnya, kini dan kelak mungkin sudah tidak demikian. Selain pola pikir, sikap dan cara pandang intelektual terus maju, suasana lingkungan juga ramai.

SIDE EFFECT : Hampir semua yang menyambut dan ikut shalat bersama Sinuhun PB XIV Hangabehi di Masjid Cipta Mulya (Pengging), tampak “bahagia” dan bangga. Itulah nilai manfaat kedatangannya yang sedang melakukan perjalanan spiritualnya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Maka, judul artikel “Perjalanan Spiritual Sinuhun PB XIV Hangabehi,Lelaku Ing Satengahing Rame” di atas adalah menjadi keniscayaan baginya. Keniscayaan bagi seorang “raja” atau pemimpin adat/budaya di tengah keramaian dan suasana zaman yang makin modern. Sinuhun PB Hangabehi benar-benar diuji “ing satengahing rame”.

Ujian atau tantangan menjalankan “lelaku” di tengah keramaian itulah inti dasar yang harus dihadapi seorang pemimpin Dinasti Mataram di abad modern kini dan ke depan. Selain urusan spiritual religi dan kebatinan, ada beberapa tuntutan lain seperti perkembangan sosial, politik, budaya dan sebagainya yang harus dihadapi.

Tantangan berat akibat perkembangan dan tuntutan zaman yang makin modern, sudah mulai dirasakan kakeknya (Sinuhun PB XII), ayahandanya (Sinuhun PB XIII) dan kini harus dihadapinya. Kalau dalam kapasitas individu seorang pemimpin, Sinuhun PB XIII bisa disebut “kalah” menghadapi tantangan, Sinuhun XIV “tidak boleh” kalah.

PROTOKOL KESEDERHANAAN : Kehadiran Sinuhun PB XIV Hangabehi yang selalu tampil sederhana, bersahaja dan familiar saat shalat Jumat di Masjid Cipta Mulya, Pengging, memberi edukasi tentang protokol kesederhanaan yang patut diteladani. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Kekalahan” Sinuhun PB XIII dalam menghadapi tantangan, selain kondisinya “cacat permanen” oleh putusan PN Sukoharjo 2016, tidak berfungsinya daya nalar dan fisiknya yang “tak berdaya”, justru dimanfaatkan kelompok di sekitarnya. Dia juga menjadi pemimpin Dinasti Mataram yang “tak punya” dua jenis pengalaman spiritual.

Ketika dianalisis lebih jauh, dia menjadi korban perkembangan sosial-politik rezim. Rezim kekuasaan sebagai tangan panjang partai politik, telah menjerumuskan Sinuhun PB XIII dalam berbagai “penyimpangan”. Inilah suasana keramaian yang akan menjadi salah satu “tantangan” nyata, yang harus bisa diatasi Sinuhun Hangabehi.

Melihat perjalanan spiritualnya, Sinuhun PB XIV Hangabehi memang sudah nyaris “tuntas” secara religi dan kebatinan. Artinya, secara fundamental dirinya sudah terbentengi dan mulai teruji. Tetapi, “belajar” untuk meraih ilmu dan “ngelmu” tak ada batasnya. Itulah salah satu benteng untuk menghadapi “tantangan” di atas. (Won Poerwono-habis/i1)