Tak Perlu Dipertentangkan, Tapi Menambah Pengetahuan Sangat Perlu
SURAKARTA, iMNews.id – Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Kraton Mataram Surakarta menggelar “Seminar dan Talkshow Rabi Tigas (Pernikahan Perjaka dan Perawan)” di “habitatnya”, Bangsal Smarakata, Rabu malam (7/1/2025), semalam. Ada 70-an peserta dari berbagai daerah, mendapat edukasi dan peragaan tata-busana.
Suasana yang agak heboh, menarik dan mendidik di bangsal Smarakata, Rabu semalam, seakan menjadi kelanjutan sekaligus jawaban atas berbagai insiden heboh sekitar pergantian kepemimpinan yang diawali wafatnya Sinuhun PB XIII, 2 November 2025. Heboh lanjutan yang begitu estetik dan memberi pencerahan, seakan merubah suasana.

Di bangunan karya Sinuhun PB IV (1788-1820) yang selama ini menjadi pusat berbagai kegiatan adat dan seni budaya khas kraton itu, Bebadan Kabinet 2004 menyulap tempat itu menjadi ajang “Seminar dan Talkshow”. Kali ini digelar tema “Rabi Tigas” (Pernikahan Perjaka dan Perawan), berkait wisuda lulusan “pawiyatan”.
Pada tahun kelima berjalan ini, Pawiyatan Tata-Busana saha Paes Temanten Jawa gagrag Surakarta yang dipimpin GKR Ayu Koes Indriyah selaku “pangarsa” (ketua), mewisuda siswa lulusannya sebanyak 13 orang. Lulusan “Babaran V” tahun 2025 itu, diwisuda di tempat itu sore sebelum seminar dimulai.

Dalam seminar, tampil sebagai narasumber/pembicara adalah GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng) dalam sejumlah jabatan dan prestasi sesuai kapasitas kemampuan di bidangnya. Dia mengisahkan pengalamannya menjalani berbagai tatacara adat sebagai pengantin wanita kraton 30-an tahun lalu, ketika dipinang KPH Edy.
Yang dicontohkannya adalah tatacara pemakaian atau tata-busana adat dodot basahan seperti yang dikenakan para penari Bedhaya Ketawang, tarian pusaka milik Kraton mataram Surakarta. Dodot basahan itu, adalah busana khas simbolik yang dikenakan Kanjeng Ratu Kencanasari saat bertemu dengan Sinuhun Panembahan Senapati.

“Jadi, busana dodot-basahan yang kini sudah menjadi milik masyarakat luas sebagai pilihan favorit busana adat pengantin Jawa gagrag Surakarta, asalnya dari sana. Saya sudah merasakan sendiri, karena mengalami saat menjadi pengantin, 30-an tahun lalu. Tetapi, ada rangkaian yang berbeda, karena ada aturan khusus di kraton”.
“Jadi, tidak mungkin bisa sama antara yang digunakan di luar dan di dalam kraton. Ya, nggak apa-apa. Biarkan saja. Karena, masing-masing ada aturannya,” ujar gusti Moeng tandas. KP Budayaningrat selaku narasumber berikut menandaskan, hal yang beda tak perlu dipertentangkan. Karena, “negara mawa tata, desa mawa cara”.

Sementara, GKR Ayu Koes Indriyah (Ketua Pawiyatan) juga mengisahkan dirinya yang mendapat tugas Sinuhun PB XII untuk menjadi juru-paes kraton. Karena, para istri raja yang sudah sepuh sebagai juru-rias kraton, sudah habis, wafat. Menurut KP Budayangingrat, ada rangkaian tata-busana yang sulit dilakukan di luar kraton.
“Tatacara dan tata-busananya jangan ditandingkan antara yang di luar dengan di dalam kraton. Masing-masing punya aturan sendiri. Yang berkembang di masyarakat, sudah menjadi kearifan lokal. Salah satu hal beda, adalah siraman. Di luar ‘kan jadi tontonan publik. Padahal di kraton sangat tertutup,” tandas KP Budayaningrat. (won-i1)
