Para Pengurus Pakasa Cabang Memandang, KGPH Hangabehi “Lebih Layak” (seri 5 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:November 28, 2025
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Para Pengurus Pakasa Cabang Memandang, KGPH Hangabehi “Lebih Layak” (seri 5 – bersambung)
"BERGANDENG MESRA" : Selepas shalat Jumat ketiga (28/11) siang tadi, ada pemandangan yang menyejukkan sekaligus membanggakan. Saat turun tangga dari pendapa Masjid Agung menuju "topengan", KGPH Hangabehi "bergandengan mesra" dengan KRT Muhtarom Tafsir Anom (Pimpinan Takmir Masjid Agung). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Cabang Kudus Selipkan Harapan Bersamaan Peringatan HUT ke-94 Pakasa

IMNEWS.ID – SABTU Kliwon besok, tepat tanggal 29 November yang menunju waktu genap 94 tahun usia organisasi Paguyuban Kawula Karaton (Mataram) Surakarta atau “Pakasa”. Organisasi yang pernah didirikan Sinuhun PB X (1893-1939) pada 29 November 1931 itu, kembali eksis di saat-saat terakhir jumenengnya Sinuhun PB XII (1945-2004) dan mengalami transformasi salama 21 tahun Sinuhun PB XIII bertahta.

Organisasi Pakasa yang kembali eksis menjelang jumenengnya Sinuhun PB XIII (2004-2025), dipimpin KPH Edy Wirabhumi selaku Pangarsa Punjer. Selama 20 tahun berproses menjadi “new Pakasa” hingga kini, Pakasa semakin eksis menjadi elemen masyarakat adat yang memiliki posisi penting di Kraton Mataram Surakarta. Bahkan, Lembaga Dewan Adat (LDA) juga mampu mengaktifkan kembali organisasi wanita-nya.

Organisasi wanita yang juga dilahitkan pada zaman Sinuhun PB X adalah, Putri Narpa Wandawa yang usianya juga 94 tahun karena lahir pada 5 Juni 1931. Organisasi ini memang belum berkembang meluas di tiap daerah (kabupaten/kota), tetapi pelan-pelan mampu menempatkan posisinya sebagai elemen penting bagi LDA. Dia memiliki daya dukung legitimatif untuk pelestarian Budaya Jawa dan menjaga kelangsungan kraton.

Namun, sampai sehari menjelang tanggal 29 November atau menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Pakasa, belum terdengar kabar dari Punjer (pusat) soal rencana kegiatan peringatan secara khusus. Karena, sejak rapat para “pangarsa” cabang digelar di kraton beberapa hari sebelum 2 November 2025 (Sinuhun PB XIII wafat-Red), hingga kini tidak ada rencana kegiatan, meskipun pernah dirancang HUT antara 25-26/12.

PROTOKOL ISTANA : Walau berjalan di tempat umum selepas shalat Jumat siang tadi, istana atau kraton punya protokol baku untuk seorang pemimpin. Maka, KPP Angga tampak “harus” diminta KGPH Hangabehi untuk maju agar bisa berjalan beriringan di dekatnya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Secara sekilas KPH Edy Wirabhumi (Pangarsa Pakasa Punjer) saat memimpin rapat koordinasi (rakor) pangarsa Pakasa cabang saat itu hanya menyinggung, pelaksanaan HUT ke-94 Pakasa diperkirakan antara tanggal 25-26 Desember. Namun, seandainya selama beberapa hari ini ada “kabar duka” dari kraton, soal waktu bisa dijadwal ulang, mengingat Sinuhun PB XIII dirawat di rumah sakit dan salam kondisi serius.

Karena memang sudah takdir, hal yang beberapa hari sebelumnya disinggung dalam rapat itu benar-benar terjadi, Minggu Pon pagi, 2 November 2025 Sinuhun PB XIII mengehmbuskan nafas terakhir di RS Indriati Solo Baru. Karena sinyal sudah diberikan, maka semua konsentrasi dan energi tertuju pada proses pemakaman yang segera disambung dengan deklarasi penobatan penerus diserta “ontran-ontran”.

Kini, konsentrasi dan energi itu masih tertuju pada “ontran-ontran Matahari Kembar” yang salah satunya “mulai redup”, yang terjadi sehari menjelang 29 November 2025 yang tepat sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) ke-94 Pakasa. Antara keduanya tidak ada hubungan apapun, tetapi waktu dan manusianya (warga Pakasa-Red), secara tidak langsung terbawa ke dalam suasana HUT yang sudah direncanakan.

“Meredupnya” informasi mengenai aktivitas salah satu kandidat yang bersaing dan terbungkus dalam tema (faktual) “ontran-ontran” itu di satu sisi, tetapi ada proses yang terus bergerak dinamis di sisi lain. Yang secara bersamaan, terjadi setelah media ini melakukan jajak-pendapat terhadap 11 pengurus Pakasa cabang (iMNews.id, 24/11), ada gejala pergerakan di penghujung akhir serial artikel ini.

LALU DIGANDENG : Setelah diminta maju ke dekatnya, tangan KPP Angga lalu digandeng KGPH Hangabehi untuk meneruskan jalan kaki bersama menuju kraton. Protokol seperti ini harus dipahamni semua kerabat dan abdi-dalem, berjalan di belakang pimpinan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Berbagai saran, usul dan sumbangan pemikiran yang bervariasi diberikan 10 pimpinan Pakasa cabang. Bahkan, di luar pertanyaan ada pernyataan sikap yang kesimpulannya mendukung KGPH Hangabehi untuk terus melangkah menuju tahta. Mereka bahkan menilai pribadi KGPH Hangabehi yang dikenal langsung selama bergaul dalam satu dekade terakhir, bahwa dirinya sangat layak “jumeneng nata” sebagai Sinuhun PB XIV.

Jajak-pendapat sederhana sudah berakhir dengan menurunkan kesimpulan-kesimpulan sementara atas beberapa hal yang diungkapkan. Meskipun, masih ada beberapa hal yang spesifik diungkapkan pimpinan Pakasa, misalnya oleh KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus). Pernyataannya bisa menjadi bahasan lanjutan terpisah, setelah konsentrasi tertuju pada HUT Pakasa.

Dinamika memang terus terjadi di sisi lain beberapa peristiwa yang telah terjadi di kraton, selain persoalan yang secara khusus diangkat iMNews.id sebagai tema bahasan. Situasi dan kondisi yang sebenarnya berada di dalam masa berkabung sampai 40 hari sejak 2 November 2025, bahkan 100 hari kemudian, juga terus bergerak dan berumnculan peristiwanya dalam beberapa hari terakhir ini.

Sebut saja “ndilalah” ada peristiwa pembongkaran pagar tembok bangunan kompleks Pesanggrahan Tegalganda yang masuk wilayah Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Gusti Moeng dan jajaran Bebadan Kabinet 2004 sudah meninjau insiden “tindakan ngawur” akibat kebijakan yang dikeluarkan “pamong desa” setempat, yang membongkar pagar bangunan pesanggrahan yang sudah masuk kawasan situs cagar budaya itu.

SIMBOL KAWICAKSANAN : KGPH Hangabehi saat mengumpulkan ceceran tanah untuk kembali menguruk tanaman kembang Wijayakusuma simbol “kawicaksanan” itu. Bunga itu ditanam di samping “sungkup” makam Sinuhun Amangkurat Agung di Astana Pajimatan Tegalarum. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena dinilai “ngawur” dan berpotensi merusak situs cagar budaya peninggalan Mataram kartasura, pekerjaan pembongkaran pagar untuk keperluan pembangunan koperasi desa itu dihentikan. Dari berbagai pemberitaan yang di dalamnya terdapat beberapa pihak berpendapat dan berdalih, sangat kelihatan pembangunan itu tanpa didahului dengan perencanaan yang baik, yang salah satunya mencari dasar alasan.

Dasar alasan bisa didapat dari lembaga yang berkait dengan kawasan situs cagar budaya, setidaknya informasi mengenai latar belakang, status dan posisi lokasi lahan yang pasti dimiliki lembaga kecamatan. Tetapi sangat disayangkan, pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan pembangunan koperasi itu hanya berdasar pada informasi bahwa sisa bangunan kawasan situs itu sudah tak terpakai.

Jika hanya berdasar karena bangunan peninggalan Pesanggrahan Tegalganda tidak terpakai lalu dibongkar, keputusan itu sungguh menyesatkan dan berbahaya bagi kehidupan bangsa yang berbudaya. Karena, situs Pesanggrahan Tegalganda adalah bagian penting dari eksistensi Kraton Mataram Islam Kartasura (1645-1745). Dari kajian sejarah Ki Dr Purwadi menyebut, di situlah Sinuhun PB II dilahirkan.

Sinuhun PB II (1727-1749) adalah Raja ke-9 Kraton Mataram Islam yang sudah berada di Ibu Kota Kartasura. Ia dilahirkan dari ayah, Sinuhun Amangkurat IV (Jawi) dan ibu (prameswari) Kanjeng Ratu Kentjana Kudus. Kraton Mataram Kartasura selama kurang lebih 100 tahun, mampu membangun Pesanggrahan Tegalganda dan Pesanggrahan Kandang Menjangan yang kini masih eksis karena dirawat TNI AD Grup 2 Kopassus.

“KAWULA LAN GUSTI” : Upacara penyerahan kekancingan untuk abdi-dalem juru-kunci Astana Pajimatan Tegalarum, Slawi/Tegal, adalah simbol pergaulan antara “kawula” dan “gusti”, termasuk abdi-dalem “Kanca Kaji” Pakasa Jepara yang saat itu “sowan”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selain itu, perkembangan situasi dan kondisi selama masa berkabung, masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta juga kembali berduka dengan wafatnya salah seorang putra Sinuhun PB XII, yaitu GPH Suryo Sarosa, Kamis (27/11). Bila diurutkan, almarhum adalah kakak (beda ibu) Gusti Moeng, yang masih seibu dengan GPH Nur Cahyaningrat (alm) yang lahir dari ibu KRAy Pujaningrum.  

Wafatnya satu lagi di antara 35 putra/putri-dalem Sinuhun PB XII ini, menjadi tugas jajaran Bebadan Kabinet 2004 pimpinan Gusti Moeng untuk mengurus pemakamannya hingga tuntas. Almarhum dimakamkan di Astana Pajimatan Ki Ageng Henis, Laweyan, Surakarta dan semua kerabat jajaran bebadan kabinet melayat. Tak ketinggalan, KGPH Hangabehi juga ikut melayat salah seorang “pamannya” itu. (Won Poerwono – bersambung/i1)