Gabungan Aparat Keamanan Berjaga-jaga di Hari Pertama Setelah Prosesi Pemakaman

  • Post author:
  • Post published:November 6, 2025
  • Post category:Regional
  • Reading time:7 mins read
You are currently viewing Gabungan Aparat Keamanan Berjaga-jaga di Hari Pertama Setelah Prosesi Pemakaman
SUASANA KAMANDUNGAN : Suasana di halaman Kamandungan Lor Kamis (6/11) siang tadi, hanya tampak beberapa personel aparat keamanan gabungan melintas dan arus lalu-lintas umum juga berjalan normal. Walaupun ada sebuah kendaraan taktis (rantis) bertengger di situ, selain truk pengangkut Brimob di sisi barat. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Suasana Halaman Kamandungan Biasa, Museum Tutup dan Proyek Berhenti

SURAKARTA, iMNews.id – Hari pertama atau sehari setelah prosesi pemakaman Sinuhun PB XIII berlangsung di bagian akhir, yaitu di kompleks makam Raja-raja Mataram, Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY), Kamis (6/11), suasana di pusat kawasan “kedhaton” di dalam tembok Baluwarti kembali biasa. Tak ada aktivitas menonjol, kecuali 100-an aparat keamanan gabungan berjaga-jaga santai di beberapa sudut Kamandungan.

Lalu-lintas umum yang rutin selalu menghiasi jalan lingkar dalam Baluwarti tampak juga berjalan seperti biasa. Tetapi ada yang berbeda jika dicermati, karena sejak Minggu (2/11) layanan kunjungan Museum Art Gallery ditutup karena memasuki suasana duka, hingga Kamis (6/11)-pun belum membuka layanan kunjungan. Maka, kesibukan andong, becak dan lalu-lalang pengujung museum, tidak terlihat hingga Kamandungan.

Selain museum yang “ditutup” sampai ada pengumuman resmi kemudian, aktivitas perkantoran di dalam kantor yang dilakukan jajaran “Bebadan Kabinet 2004” yang dipimpin Gusti Moeng, juga tampak belum ada kegiatan. Perkantoran di kompleks Pendapa Magangan yang dilakukan Karti Praja, Pasiten, Mandra Budaya masih tampak pasif. Sementara, kegiatan pekerjaan proyek revitalisasi Panggung Sangga Buwana, berhenti total.

“Sejak Senin pekerjaan sudah berhenti. Tetapi pengumuman resmi liburnya sampai kapan, kami masih menunggu,” ujar Ir Suwadi, abdi-dalem bagian pengawas perencanaan proyek yang ditemui iMNews.id, Kamis (6/11) siang tadi. Hal senada juga diungkapkan Kiki, koordinator pekerja teknis revitalisasi. Dia juga menunggu pemberitahuan resmi sampai kapan pekerjaan diliburkan, karena disebutkan ada batas waktunya.

TAK ADA AKTIVITAS : Sejak Minggu (2/11) hingga Kamis (6/11) siang tadi, aktivitas pekerjaan proyek revitalisasi menara Panggung Sangga Buwana tampak sepi dari hiruk-pikuk para pekerjanya. Pekerjaan proyak dihentikan dan belum ada keterangan resmi sampai kapan dimulai lagi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kesibukan lain terlihat ada beberapa tenaga angkut yang mengusung kursi dari dalam kraton, melewati Kori Kamandungan Lor dan mengumpulkannya di “topengan” (teras) kori. Selanjutnya, kursi yang habis digunakan untuk duduk para pelayat “khusus” itu diangkut pergi dengan becak. Tidak tampak banyak kursi yang dikeluarkan dari dalam ke teras, karena para pelayat kebanyakan duduk lesehan di sekitar Sasana Sewaka.

Perkembangan situasi teknis yang mencolok di hari pertama setelah upacara pemakaman, hanya beberapa jenis di atas. Tetapi perkembangan yang berkait non-teknis, sama sekali tidak tampak. Yaitu situasi yang berkait dengan proses alih kepemimpinan di Kraton Mataram Surakarta, setelah ada figur mengumumkan nama  dan kedudukannya berubah di hari pelepasan jenazah, tetapi langsung dianulir oleh “Maha Menteri”.

Sampai hari pertama Kamis (6/11) tadi, tidak terlihat sama sekali perkembangan non-teknis yang berkait dengan pernyataan tegas Maha Menteri (Perdana Menteri-Red) KGPH Tedjowulan melalui siaran persnya yang disebar luas, kemarin. Ia menegaskan “mengambil-alih” kekosongan pemimpin (Sinuhun-Red) yang di kraton, dan “menganggap” tidak pernah ada proses adat yang menghasilkan pemimpin definitif sebagai PB XIV.

Sebagai Maha Menteri atau “Plt”, dia akan menjalankan tugas dan fungsi Sinuhun sampai terpilihnya secara definitif seorang pemimpin pengganti yaitu Sinuhun PB XIV. Atas pernyataan tegas itu, KP Budayaningrat (dwija Sanggar Pasinaon Pambiwara) menyatakan setuju dan mendukung agar semata-mata tidak terjadi proses alih kepemimpinan yang liar versi “jalanan”, yang dianggap menjatuhkan nama besar kraton.

SEDANG MENUNGGU : Suasana berbeda pada Rabu pagi (5/11) di halaman Pendapa Magangan, kereta jenazah berkuda 8 ekor Kanjeng Kiai (KK) Natapralaya sudah menunggu di depan Pendapa Magangan, sebelum ditumpangi peti jenasah Sinuhun PB XIII untuk melanjutkan perjalanan proses pemakamam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Saat dimintai konfirmasi iMNews.id, KP Budayaningrat menyatakan sangat menyayangkan cara-cara “urakan” itu justru terjadi kraton. Karena seharusnya, dalam suasana dukacita digunakan untuk menjaga kesejukan agar semua yang hadir di situ, terutama keluarga besar, lebih mengedepankan empatinya untuk saling menguatkan dan mengeratkan tali persauraannya. Bukan dihiasi pertunjukan yang sama sekali tak beretika.

Sementara itu, KPP Haryo Sinawung Haryoputro yang dihubungi terpisah semalam juga mengecam peristiwa tersebut yang dinilainya sudah tidak mencerminkan ciri-ciri figur seorang kerabat keraton. Karena, suasananya sedang berkabung, dan persoalan proses alih kepemimpinan ditegaskan ada waktu dan ruang sendiri yang terpisah. Apalagi paugeran adatnya sudah menegaskan, itu baru dilakukan setelah 100 hari.

Di bagian lain disebutkan Wakil Pengageng Karti Praja itu, semua jajaran Bebadan Kabinet 2004 sangat mengapresiasi kerja KPH Bimo Djoyo Adilogo sebagai Bupati Juru-Kunci Astana Pajimatan Imogiri. Putra GKR Galuh Kencono dan KPH Satryo Hadinagoro itu, dianggap bisa mengatasi potensi terjadinya “chaos” saat serah-terimaa jenazah Sinuhun PB XIII, dari Senapati Lampah kepada dirinya selaku pimpinan Astana.

“Saya pribadi, terus teruang mengapresiasi itu. Karena, semula saya mengkhawatirkannya. Tetapi beliau bisa mengatasi itu dan berjalan lancar. Mengenai perkembangan situasi non-teknis khususnya yang menyangkut proses alih kepemimpinan, saya belum mendapat petunjuk lebih lanjut. Posisinya masih menunggu perintiah lebih lanjut atas kabar siaran pers yang beredar itu,” ujar KPP Haryo Sinawung menjelaskan.

SUDAH 20 TAHUN : Lantai Pendapa Magangan yang berhias tiang bambu sebagai penyangga konstruksi atap dan plafon yang sudah mulai keropos dan lepas, sudah 20 tahun sejak wafat Sinuhun PB XII tahun 2004, baru dilewati prosesi pemakaman jenazah saat Sinuhun PB XIII, Rabu (5/11/2025) kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Hingga Kamis siang tadi, baik Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa maupun Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), belum memberi pernyataan apapun mengenai perkembangan situasi pasca-pengumuman pergantian nama dan kedudukan seorang figur yang pernah viral atas pernyataannya “Nyesel Gabung Republik”, beberapa waktu lalu. Begitu pula pihak-pihak lain seperti KPH Edy Wirabhumi, juga diam menunggu perkembangan.

Karena perkembangan situasinya seperti “hening” sejak Maha Menteri bertindak sebagai “Plt” dan “mengambilalih” kepemimpinan mengisi kekosongan, bisa dimaknai “bola liar” yang dikhawatirkan akan memanas dalam persaingan kandidasi pemimpin pengganti Sinuhun PB XIII, dengan sendirinya tak terbukti. Pernyataan tegas KGPH Tedjowulan itu jelas menyingkirkan berbagai spekulasi yang sudah dan akan muncul.

Pernyataan tegas itu, oleh beberapa tokoh di ienternal kraton, salah satu nilai manfaatnya dianggap sebagai jaminan keamanan jelannya aktivitas kerja-kerja adat bagi jajaran Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng, tetap berjalan lancar. Kerja-kerja adat itu yang justru dijamin tetap mengalir biasa, karena ada pekerjaan besar dalam megurus tatacara adat tahapan peringatan yang harus dilakukan.

Tatacara adat itu, adalah kewajiban bagi keluarga yang ditinggalkan untuk menjalankan ritual-ritual seperti yang sudah diajarkan para leluhur dalam adat dan Budaya Jawa. Di situ ada doa tahlil dan sebagainya pada hari ke tujuh atau “pitung-dinanan”, “patangpuluh dinanan” (40 hari) dan “satus-dinanan” (100 hari). Di kraton, tahapan-tahapan ini menjadi pedoman untuk menjalankan “proses persiapan”.

PARA SENTANA : KPP Wijoyo Adiningrat dan KPP Haryo Sinawung Waluyoputro bersama para sentana trah darah-dalem lainnya yang menyatu menjalankan tugas dalam “lampah-lampah” tatacara adat proses pemakaman Sinuhun PB XIII, Rabu (5/11/2025) kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Seperti yang terjadi pada saat KGPH Hangabehi hendak naik tahta didukung semua trah darah-dalem yang berhimpun di Lembaga Dewan Adat (LDA) pimpinan Gusti Moeng, tahapan proses persiapan calon pemimpin dijalaninya semua sesuai paugeran adat. Dan gelar “Adipati Anom”, didapat dalam sebuah upacara setelah 100 hari wafat ayahandanya (Sinuhun PB XII), yang kemudian berlanjut ke upacara adat jumenengan nata.

Sesuai “lampah-lampah jemengan nata” yang disusun KRT Darpo Arwantodipuro dan KRT Ebit Pramudijanto di tahun 2004, antara lain menyebutkan tahapan-tahapan tersebut. “Lampah-lampah” itu disusun dalam bahasa Jawa, aksara latin, sebagai hasil menggali naskah yang tersimpan di Sasana Pustaka. Di perpustakaan kraton itu, semua tahapan tatacara adat jumenengan nata, dari calon menjadi raja, dijelaskan lengkap.

MENGURUS GUSTI BEHI : KP Atmo dan beberapa sentana-dalem berdialog dengan Gusti Moeng, saat Gusti Behi (KGPH Hangabehi) kelelahan dan sedang istirahat di sisi Pendapa Magangan. Dia lemas menjelang kereta KK Natapralaya bergerak keluar kraton, membawa jenazah Sinihun PB XIII mengikuti rute prosesi pemakaman. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena ada “prosedur tetap” (protap) dan protokolernya secara lengkap baik teknis dan non-teknis dalam masalah persiapan seorang calon menjadi raja itu, maka tidak aneh jika KP Budayaningrat menyebut peristiwa di sela-sela pemberangkatan jenazah itu sebagai tingkah tak berdasar yang berkesan “urakan”. Di sisi lain, figur yang bersangkutan bisa hanya sebagai korban atas “dorongan” oknum/pihak lain.

“Mungkin karena tidak tahu soal proses itu, sehingga dia mau melakukan itu dengan PD-nya. Padahal hanya dimanfaatkan oleh pihak/oknum, demi materi. Jadi, semua yang dilakukan itu jelas tidak dipahami bocah itu. Tetapi memang, di beberapa kasus, anak ini memang sombong, arogan. Dan semua itu tentu bisa dirunut dari mana asal-usulnya, siapa kelompoknya, bagaimana track-recordnya?, ujar seorang pemerhati kraton. (won-i1)