Serahkan Kur’an Jawi Kepada Seorang Trah Sunan Ampel
SURAKARTA, iMNews.id – Sejak memasuki bulan puasa atau Pasa tahun Ehe 1956 atau Ramadhan tahun 1444 Hijriyah ini, baru Kamis (30/3) ini Kraton Mataram Surakarta kembali menggelar acara keagamaan di dalam lingkungan kraton setelah 7 kali acara khataman Alqur’an diadakan selama bulan Januari-Februari lalu. Kembali bertempat di Bangsal Smarakata, mulai sore sekitar pukul 16.00 WIB tadi ada sekitar 30-an santri dari Pesantren Al Mustaqim Salatiga, mengikuti khataman Alqur’an yang dipandu KRA Madyahadinagoro selaku abdidalem Ketib dari kagungandalem Masjid Agung Kraton Mataram Surakarta.
Seperti biasa, Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa memberi dhawuh kepada abdidalem KRA Madyahadinagoro untuk memimpin khataman Alqur’an yang juga diikuti sekitar 100-an orang dari berbagai perwakilan elemen kraton dan Lembaga Dewan Adat (LDA) itu. Khataman berakhir saat terdengar adzan tanda berbuka puasa, dan tak lama kemudian semua mengikuti shalat magrib di Bangsal Smarakata yang juga dipimpin KRA Madyahadinagoro selaku imam.

kegiatan spiritual religi yang sudah mulai terbiasa di dalam kraton dan dilakukan di Bangsal Smarakata, memberikan kesempatan para santri dari warga Pakasa Cabang berbagai daerah untuk datang bergiliran pada setiap ada agenda khataman Alqu’ran. Pada 7 kali khataman di bulan Januari dan Februaim secara bergiliran banyak diisi para santri warga Pakasa Cabang Boyolali, Sukoharjo, Ponorogo (Jatim) dan sore tadi dari Pakasa cabang Salatiga, yang dipimpin KRA Madyahadinagoro selaku abdidalem Ketib dari kagungandalem Masjid Agung Kraton Mataram Surakarta.
Dalam suasana khataman tadi, Gusti Moeng didampingi GKR Timoer, GRAy Devi Lelyana Dewi dan sejumlah pejabat bebadan “Kabinet 2023”. Pimpinan pengurus Pakasa Pusat atau Pangarsa Pakasa Punjer yang juga Pimpinan Lembaga Hukum Kraton Surakarta (LHKS), KPH Edy Wirabhumi juga tampak hadir setelah mengajak bergabung Abu Bakar bin R Ubaidilah di Bangsal Smarakata, yaitu salah seorang trah keturunan Sunan Ampel (Surabaya) yang datang memenuhi undangan kraton pada acara khataman Alqur’an itu.

Begitu terdengar adzan berbuka puasa, khataman ditutup KRA Madyahadinagoro dan Gusti Moeng mempersilakan membatalkan puasa dengan hidangan ringan yang sudah disiapkan. Gusti Moeng lalu melanjutkan sambutan singkatnya, bahwa selesai khataman dan membatalkan puasa, akan dilanjutkan dengan shalat magrib bersama di Bangsal Smarakata. Setelah itu, dilanjutkan dengan penyerahan Alqur’an berbahasa Jawa yang diberi nama “Kur’an Jawi” yang dilakukan Gusti Moeng kepada salah seorang trah keturunan Sunan Ampel bernama Abu Bakar bin R Ubaidilah yang disaksikan GKR Timoer, GRAy Devi dan KPH Edy Wirabhumi.
“Setelah ini, nanti makan bersama atau berbuka puasa bersama di dalam (di eks kantor Sinuhun PB XI-Red). Habis itu, ke sini lagi dan shalat tarawih bersama. Sekaligus saya sampaikan, bahwa sebelum ini khataman Alqur’an di dalam kraton sudah bisa terwujud sebanyak 7 kali berturut-turut. Setelah itu, memasuki bulan puasa, baru mulai saat ini. Sekalian bisa shalat bersama di sini. Juga ada penyerahan Kur’an Jawi kepada salah seorang trah Sunan Ampel. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada para santri dari Pakasa cabang berbagai daerah yang ikut berpartisipasi dalam acara khataman Alqur’an di sini,” sebut Gusti Moeng sebelum shalat magrib dimulai.

Sehabis shalat magrib, semua diajak menuju eks kantor Sinuhun PB XI yang sudah dijadikan ruang pertemuan khusus dalam jumlah yang tidak begitu banyak. Di tempat itu, tadi dilakukan makan ata berbuka puasa bersama, termasuk menjamu tamu dari pengurus makam Sunan Ampel, yaitu salah seorang trah keturunan salah satu tokoh Wali Sanga di Surabaya, yang sebelumnya menerima cinderamata Kur’an Jawi dari Gusti Moeng. Kompleks makam Sunan Ampel, baru di tahun ini sempat diziarahi rombongan dari Kraton Mataram Surakarta, yang dipimpin GKR Timoer, di akhir bulan Ruwah lalu.
Sehabis rangkaian beberapa acara ini, kraton mempersiapkan upacara adat yang menjadi tradisi di bulan Ramadhan, yaitu
ritual Malem Selikuran yang diagendakan akan digelar pada Selasa malam (11/4). Ritual menyambut turunnya Wahyu Illahi atau “Lailathul Qadar”, seperti biasanya akan diwujudkan dengan kirab obor dan “ting” atau lentera mengelilingi lingkar dalam Baluwarti, kemudian menuju kagungandalem Masjid Agung untuk melakukan doa wilujengan di sana. (won-i1)