Pasang-Surut Eksistensi Organisasi Pakasa dari Zaman ke Zaman (seri 3- bersambung)

  • Post author:
  • Post published:December 12, 2022
  • Post category:Budaya
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:8 mins read
You are currently viewing Pasang-Surut Eksistensi Organisasi Pakasa dari Zaman ke Zaman (seri 3- bersambung)
BERBAGAI CARA : Harus melakoni menjadi pemeran Werkudara pada pentas wayang wong tiap weton selapan di kediamannya, Sanggar Seni Loka Budaya Padepokan Joglo Hadipuran, itulah bagian dari perjuangan KRA Bambang Setiawan Adiningrat untuk mengembangkan Pakasa Cabang Jepara. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Rata-rata Pengurus Pakasa Cabang Banjarnegara Bukan Keluarga Berada

IMNEWS.ID – KARENA relasi latarbelakang sejarah yang terus terawat sepanjang zaman, ditambah hampir semua daya dukungnya memadai, maka tidak aneh kalau Pakasa Cabang Kabupaten Ponorogo (Jatim) menempatkan diri sebagai cabang yang paling cepat berkembang, warganya lumayan banyak dan soliditasnya terjaga baik selama 6 tahun berdirinya sejak 2016. Pakasa Cabang Gebang Tinatar yang dipimpin KRRA MN Gendut Wreksodiningrat yang kini mencatat anggotanya sudah genap 3.000 orang ber-KTA (Kartu Tanda Anggota) itu, bahkan sudah melahirkan anak organisasi bernama Paguyuban Reog “Katon Sumirat” yang anggotanya sekitar 300 grup seni reog, serta sudah mempersiapkan generasi muda Pakasa dari kalangan santri dan sekolah setingkat SMA.

“Terutama yang dari beberapa pesantren di Ponorogo itu, sudah dilatih untuk menghafal dzikir dan tahlil shalawat Sultanagungan serta syahadat Quresh. Maka waktu kami ajak sowan saat pada upacara adat khol Sinuhun PB XII kemarin itu, banyak yang sudah hafal. Pakasa bekerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan itu. Mereka ajak ke kraton, kami perkenalkan budaya Jawa. Termasuk kalangan siswa SMK PGRI. Mereka inilah yang nanti akan menggantikan kita untuk melestarikan budaya Jawa. Kami sadar, menjadi wong Jawa harus paham dan menjalankan adat tradisi dan nilai-nilai budaya Jawa peninggalan leluhur. Biar lengkap dan imbang, antara kebutuhan religi, spiritual budaya dan ilmu pengetahuan yang mereka peroleh,” jelas KRAT Sunarso Suro Agul-agul selaku Sekretaris Pakasa Cabang yang dihubungi iMNews.id, belum lama ini.

Dalam waktu 6 tahun, Pakasa Cabang Ponorogo sudah nyaris menuntaskan keberadaan pengurus di tingkat anak cabang, ada 17 kecamatan yang sudah terbentuk dan tinggal 4 kecamatan yang diharapkan tidak lama lagi menyusul terbentuk. Perkembangan yang begitu cepat dan berangggotakan cukup banyak, ditambah ribuan simpatisan yang belum ber-KTA, selain karena beberapa faktor daya dukung (SDA, SDM dan SDK-iMNews.id, 11/12/2022) itu, ada lagi daya dukung penentu yaitu hubungan kemitraan yang sinergis dan harmonis Pakasa cabang dengan Pemkab Ponrorogo, terlebih saat Sugiri Sancoko menjabat Bupati sekarang ini.

LUAR BIASA : KRAT Hasta Surantara tampak ikut berhujan-hujan menenangkan anak buahnya yang intrance, adalah ciri totalitas seorang  Ketua Pakasa Cabang Trenggalek yang mengundurkan diri setelah memimpin kontingen cabangnya tampil di Hari Jadi 90 Tahun Pakasa, 2021.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Hubungan kemitraan antara Pakasa dengan Pemkab bersama jajarannya, anggota Forkopimda lain serta berbagai elemen masyarakat kabupaten, sering terwujud dalam event-event besar tingkat kabupaten seperti Grebeg Suro Hari Jadi Ponorogo dan tingkat nasional seperti peringatan HUT RI, Sumpah Pemuda, Hari Pahlawan dan sebagainya yang sudah berlalu. Hasil kemitraan yang baik dan harmonis dalam rangka pelestarian budaya Jawa yang bersumber dari kraton yang sudah berjalan dalam beberapa tahun ini, benar-benar mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat Ponorogo, misalnya usulan seni reog Ponorogo untuk diakui Unesco sebagai warisan budaya asli Indonesia yang kini tinggal menunggu pengesahannya.

Prestasi-prestasi semacam itu, memang wajar bisa diupayakan Kabupaten Ponorogo dengan mengajak warga Pakasa cabang yang jelas memiliki wadah formal organisasi pengelolaan, pemeliharaan dan pelestarian basis pengikat dan cirikhasnya, yaitu budaya Jawa, bahkan tergolong paling kuat dan solid. Proses perjalanan Pakasa Cabang Ponorogo memang sulit ditiru cabang-cabang di daerah lain, karena memiliki SDA, SDM dan SDK yang bervariasi. Tetapi, semangat pengembangan seperti itu juga dimiliki cabang-cabang lain yang usianya bahkan jauh lebih muda alias baru-baru saja lahir, dengan ketersediaan SDA, SDM dan SDK yang bervariasi pula, misalnya Pakasa Jepara, Banjarnegara, Trenggalek dan Nganjuk (Jatim).

Pengalaman KRA Bambang Setiawan Adiningrat selaku Ketua Pakasa Cabang (Kabupaten) Jepara memang sangat menarik dalam upaya memperkenalkan dan memberi pemahaman berbagai elemen masyarakat kabupaten, untuk bisa membentuk pengurus cabang dan pengurus di enam anak cabang/kecamatan dari 15 kecamatan yang ada, dalam 2 tahun berdirinya Cabang Jepara. Perjuangannya memang berat, karena termasuk daerah kabupaten yang tergolong sulit, tetapi kepengurusan yang dipimpinnya mampu “mengambil hati” masyarakat lingkungannya, hingga nyaris berbagai upacara adat spiritual religi di lingkungan desa, kecamatan dan Hari Jadi Kabupaten, mengundang Pakasa untuk “mewarnai” event-event yang digelar.

PENGURUS TERMUDA : KRAT Seviola (Bendahara Cabang) yang sementara ditugasi memimpin Pakasa Cabang Trenggalek, adalah figur pengurus sekaligus pimpinan termuda di lingkungan Pakasa, mendapat kehormatan menerima nasi tumpeng dari Gusti Moeng selaku Ketua LDA. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Pakasa Cabang Banjarnegara memang berat menghadapi tantangan untuk eksis, apalagi berkembang. Dari 11 kecamatan yang sudah terbentuk pengurus Pakasa anak cabang, hanya 6 yang eksis. Padahal, Banjarnegara punya 20 kecamatan. Rata-rata pengurus dan anggotanya yang sudah ada kepengurusan anak cabang, adalah bukan dari keluarga-keluarga yang hidupnya berkecukupan. Jadi, kendala dan tantangan besarnya untuk eksis saja, adalah pembiayaan. Ini jelas berat untuk berkembang. Walau Pakasa Cabang Banjarnegara juga baru 2 tahun. Hampir semua kegiatan adat, tradisi dan seni budaya yang diselenggarakan dan didukung Pakasa cabang, urunan dari pribadi kalangan pengurus dan anggota,” jelas KRAT Eko Budi Tirtonagoro selaku Ketua Cabang Banjarnegara, saat dihubungi iMNews.id, kemarin.

Pakasa Cabang Banjarnegara memang termasuk potensial terutama daya dukung jumlah SDMnya, karena di kabupaten itu punya sejumlah petilasan/pesanggrahan/makam leluhur Dinasti Mataram dan kaya dengan upacara adat, lengkap dengan balutan nuasan spiritual religinya, di antaranya kirab budaya ritual Nyadran Gede di kompleks Astana Pajimatan Adisara, makam Sunan Kalijaga. Tetapi perjuangan para pengurus untuk berkembang sangat berat, karena SDA-nya kurang mendukung terwujudnya ketersediaan SDK yang memadai.

Dengan segala kesulitannya berjuang untuk eksis dan berkembang, pengurus Pakasa Cabang Banjarnegara sampai posisi sekarang sebenarnya mudah diterima berbagai elemen masyarakat kabupaten, termasuk kalangan instansi anggota Forkopimda dan jajarannya. Termasuk pula organisasi Paguyuban Tosan Aji Kudi Mas Banjarnegara dengan berbagai kegiatan yang dilakukan, antara lain pameran dan dialog lintas agama sebulan sekali dengan berbagai kalangan, tokoh lintas agama, Forkopimda dan sebagainya dalam acara “Ngobrol Perkara Iman” (Ngopi).

DARI JAUH : Pengurus dan warga Pakasa Cabang Banjarnegara, datang berombongan dari tempat yang jauh hanya untuk menunjukkan kesetiaannya melestarikan budaya Jawa yang bersumber dari Kraton Mataram Surakarta, melalui ajang Hari Jadi 90 Tahun Pakasa, 2021.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Dengan peringatan Hari Jadi 91 Tahun Pakasa tahun ini, kami pengurus Pakasa Cabang Banjarnegara berharap agar Pakasa dan MAKN bisa memberi dorongan dan dukungan agar budaya Nusantara, di antaranya budaya Jawa, semakin mendapat tempat di hati masyarakat bangsa Indonesia. Kita punya karya keris, batik, wayang, gamelan dan reog yang sudah diakui Unesco. Seandainya pemerintah RI menetapkan adanya Hari Budaya Nasional, setiap peringatan dilakukan, bisa menampilkan bersama-sama sejumlah potensi budaya itu. Di wilayah etnik lain di luar Jawa, juga bisa menampilkan kekayaan budayanya di masing-masing tempat dan bisa di Ibu Kota,” harap KRAT Eko.

Perjuangan berat juga dialami pengurus Pakasa Cabang Kabupaten Trenggalek (Jatim), karena dalam sekitar 2 tahun kelahiran cabang hingga kini baru akan terbentuk pengurus anak cabang di 3 kecamatan, yaitu Tugu, Gandusari dan Kecamatan Kampak dari sekitar 20 kecamatan se-kabupaten. Tantangan berat yang dihadapi, adalah figur Ketua Pakasa Cabang KRAT Hasta Surantara yang jatuh sakit beberapa saat setelah bersama kontingen cabangnya ikut menyukseskan hari jadi 90 Tahun Pakasa, 2021, hingga akhirnya menyatakan tidak sanggup melanjutkan menjalankan tugas, dan mengundurkan diri dari jabatan ketua.

“Dalam rangka mengikuti peringatan Hari Jadi 91 Tahun Pakasa akhir Desember ini, kami akan minta penetapan untuk kepengurusan Pakasa di tiga anak cabang tersebut. Dalam beberapa waktu, ketua kami tidak bisa aktif karena sakit. Itu menjadi keprihatinan dan tantangan berat kami. Selain itu, dukungan Bupati Trenggalek nyaris tidak ada. Intinya kami mendambakan hubungan kemitraan seperti yang dialami Pakasa Cabang Ponorogo. Tetapi, itu sulit terjadi di Trenggalek. Kelihatannya, kami masih harus bersabar untuk menunggu tampilnya figur Bupati baru, penggantinya nanti,” ujar KRAT Seviola, Bendahara Cabang yang “dipaksa keadaan” untuk sementara menggantikan kepemimpinan Pakasa Cabang Trenggalek. (Won Poerwono-bersambung/i1)

Leave a Reply