Nyaris tak Ada Keturunan Langsung yang Jumeneng KGPAA Mangkunagoro
SOLO, iMNews.id – Hingga kini, diperhitungkan sudah genap atau bahkan lebih dari 100 hari hitungan meninggalnya Pengageng Pura KGPAA Mangkunagoro IX pada Jumat dini hari, tanggal 13 Agustus lalu (iMNews.id, 13/8). Namun, keluarga besar inti maupun masyarakat adat yang terwadahi dalam Himpunan Kerabat Mangkunegaran (HKMN), tidak terlihat sedang mempersiapkan figur calon pengganti yang akan jumeneng sebagai KGPAA Mangkunagoro X.
‘’Saya hanya memantau dari luar tembok, jadi tidak bisa mendengar semua hasil pembicaraan tentang persiapan calon pengganti almarhum Sri Paduka (MN IX-Red). Tetapi, jelas ada pembahasan yang intensif tentang itu. Hanya saja, keluarga dan HKMN menutup rapat semua informasi itu, hingga nyaris tidak terdengar dari luar,’’ ujar seorang yang mengaku memiliki jalur komunikasi ke dalam Pura Mangkunegaran, menjawab pertanyaan iMNews.id, kemarin.
Sumber itu mengaku mendengar sepotong-sepotong perbincangan soal pembahasan calon pengganti KGPAA MN IX, karena pekerjaannya sehari-hari sebagai bagian dari sebuah lembaga pendidikan milik Pura Mangkunegaran yang juga milik Yayasan Suryosumirat. Namun diakui, dirinya bukan pihak yang menjadi bagian dari panitia persiapan proses suksesi dan jumenengan nata KGPAA MN X.
Sementara itu di tempat terpisah, seorang kerabat yang memiliki trah darahdalem Sinuhun PB II yang juga punya trah darahdalem KGPAA MN III dan IV bernama KP Probo Adinagoro yang dimintai pandangannya soal proses alih suksesi di Pura Mangkunegaran, menjelaskan bahwa antara Pura Mangkunegaran dan Keraton Mataram Surakarta memang sama-sama punya leluhur berasal dari Keraton Mataram sebelum beribukota di Kartasura. Namun dalam perjalanan kemudian yaitu sejak ‘’nagari’’ Mataram pindah ke Surakarta tahun 1745 dan RM Said bertahta sebagai Adipati di Pura Mangkunegaran bergelar KGPAA Mangkunagoro I tahun 1757, masing-masing memiliki sejarah perjalanan sedikit berbeda, misalnya dalam proses alih kepemimpinan.
Contoh-contoh Sudah Ada
‘’Berdasar fakta yang ada, dari (KGPAA) MN I (kepemimpinannya) bukan jatuh ke anaknya, tetapi cucunya yang kemudian jumeneng MN II. Ketika berganti ke tangan MN III, itu juga wayah (cucu). Bahkan, MN IV sebagai pengganti MN III, posisinya adalah menantu. Baru yang jumeneng MN V, itu adalah putra MN IV. Tetapi, dari MN V ke MN VI, bukan dari ayah kepada anaknya, tetapi adiknya. Jadi, sudah sejak awal tidak langsung beralih dari sang ayah ke anaknya. Itu semua, yang menentukan hasil musyawarah. Bahkan, unsur musyawarah itu yang dominan,’’ tegas KP Probo Adinagoro yang memiliki istri dari cucu Sinuhun PB IX, menjawab pertanyaan iMNews.id, kemarin.
Sentanadalem Keraton Mataram Surakarta yang memilih bergabung dengan GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng dalam wadah Lembaga Dewan Adat (LDA) itu menyebut, setelah MN VI diganti MN VII, juga bukan dari ayah kepada anaknya, tetapi keponakan. Dari MN VII ke MN VIII, baru terulang keturunan tegak lurus dari ayah ke anak. Begitu pula, dari MN VIII ke MN IX yang wafat sekitar 100 hari lalu, meskipun sebenarnya yang punya hak tahta kakak sulungnya yang bernama GPH Radityo Kusumo, tetapi meninggal karena kecelakaan di tahun 1970-an.
Berdasar contoh-contoh itu, proses alih kepemimpinan di ‘’Kadipaten’’ Mangkunegaran jelas lebih dominan hasil musyawarah alias lebih sedikit yang tegak lurus dari keturunan langsung. Menurut KP Probo, contoh-contoh seperti itu bisa menjadi pertimbangan ketika akan menentukan figur calon pengganti MN IX, yang kini ada nama GPH Paundra Karna anak lelaki dari (eks) istri Sukmawati Soekarnoputri dan GPH Bhre Wira Hutama anak lelaki dari istri GK Putri Mangkunagoro yang sudah berstatus permaisuri atau garwa prameswari.
‘’Saya berharap tetap mengedepankan musyawarah. Sebaiknya menghindari kehebohan. Karena, Mangkunegaran memang sudah berbeda dengan keraton (Mataram Surakarta-Red). Dan untuk membahas itu, tak perlu buru-buru. Karena tidak ada paugeran soal batas waktu harus menentukan figur pengganti yang jumeneng nata. Dimusyawarahkan dengan baik-baik, dengan kepala dingin, penuh kesabaran. Itu yang terbaik,’’ harap KP Probo. (won)