Kamis, 2 Desember 2021
Budaya Suara Atap Seng Tertimpa Hujan Deras, Mengiringi Wisudan KGPH Mangkubumi Dapat Tugas...

Suara Atap Seng Tertimpa Hujan Deras, Mengiringi Wisudan KGPH Mangkubumi Dapat Tugas Kalungkan Samir

Baca Juga

Seakan tak Mengenal Lelah, Terus Bergerak Memimpin Upaya Pelestarian Budaya

Belum Selesai Menggelar Hari Jadi Pakasa, Sudah Diselingi Ritual Mahesa Lawung SOLO, iMNews.id – Seakan tak mengenal lelah, belum selesai...

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

Wakil Wali Kota : “Kalau Tidak Mau Dihormati, ya………..”

Sumbang Rp 5 Juta untuk Pekan Seni 90 Tahun Pakasa SOLO, iMNews.id – Pembukaan Pekan Seni dan Ekraf (Ekonomi Kreatif)...
~Pariwara~

KLATEN – smnusantara.com – Hujan deras yang jatuh merata luas sampai jauh di luar Kabupaten Klaten mulai sekitar pukul 13.00 WIB, Jumat siang (11/12), seakan menambah khidmat suasana hajadan kecil yang digelar di rumah mbah Lurah Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Klaten. 

Derasnya hujan yang menimpa atap seng aula yang digunakan untuk upacara wisuda abdidalem warga Pakasa dan pelantikan pengurus Pakasa anak cabang Delanggu, siang itu, tetap berjalan lancar walau petugas jurupranatacara (MC) terpaksa agak berteriak untuk memanggil para siwudawan tampil ke depan.

Seperti biasa terjadi dalam upacara wisuda abdidalem yang menerima paringdalem gelar sesebutan, baik dilakukan di lingkungan Keraton Mataram Surakarta maupun di manapun di luar keraton, upacara semacam itu selalu dipandu oleh juru pranatacara.

Kebetulan, upacara di Desa Pokak, Ceper, Klaten siang itu, yang bertugas sebagai MC berbahasa Jawa KRRA Handoyodiningrat. Karena suara seng tertimpa hujan lebih mendominasi, maka abdidalem sentana yang bertugas di kantor Pengageng Kusuma Wandawa ini  terpaksa sedikit berteriak, untuk memanggil 25 nama yang diwisuda, maupun memanggil para pengurus Pakasa Anak Cabang Delanggu yang dilantik.

”Wah, tenggorokan saya jadi gatel, karena harus berteriak. Kalau tidak berteriak, para wisudawan yang saya sebut namanya tidak mendengar. Karena, kalah dengan suara seng yang tertimpa hujan deras. Masya Allah, deras sekali,” ujar KRRA Handoyo seusai menjalankan tugas yang lancar bersamaan dengan berakhirnya seluruh acara siang itu, ketika menjawab pertanyaan smnusantara.com.

Upacara wisuda paringdalem gelar sesebutan kepada 25 warga PakasaKecamatan Ceper, Klaten, siang itu, diawali dengan penyerahan partisara kekancingan oleh Gusti Moeng selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) maupun Pengageng Sasana Wilapa. Simbol wisuda, juga diwujudkan dengan pengalungan samir yang dilakukan calon putra mahkota Keraton Mataram Surakarta, KGPH Mangkubumi kepada semua wisudawan.

Sehabis semua wisudawan menerima partisara kekancingan dan kalungan samir, giliran kemudian dilakukan pelantikan pengurus Pakasa Anak Cabang Delanggu oleh Pangarsa Punjer (Pimpinan Pusat) Pakasa, KPH Edy Wirabhumi. Warga Pakasa Ceper yang diwisuda, langsung menjadi bagian dari keluarga Pakasa Anak Cabang (Kecamatan) Delanggu, Karene Kecamatan Ceper belum mandiri sebagai anak cabang, tetapi masih menginduk ke Anak Cabang Delanggu.

”Dari 26 kecamatan se wilayah Cabang (Kabupaten) Klaten, tinggal 10 kecamatan yang belum memiliki pengurus anak cabang. Tetapi, warga Pakasa Cabang Klaten, jumlahnya sudah lebih dari 5 ribu abdidalem yang setia mengikuti jejak Gusti Moeng sebagai Ketua LDA Keraton Mataram Surakarta,” tegas KRAT Probonagoro selaku Ketua Pakasa Cabang Klaten.
Dalam kesempatan itu, Gusti Moeng selaku Ketua LDA maupun Pengageng Sasana Wilapa menegaskan dalam sambutannya, bahwa suwita (mengabdi) di keraton, bukan mengabdi kepada dirinya atau pribadi Sinuhun, melainkan mengabdikan diri kepada kagungandalem Keraton Mataram Surakarta dalam rangka ikut ”nyengkuyung” pelestarian budaya Jawa yang bersumber dari keraton.

Sementara itu, KPH Edy Wirabhumi seusai melantik dan menerima susunan kepengurusan anak cabang Delanggu, juga berpesan kepada semua warga Pakasa. Selain terlibat aktif dalam upaya pelestarian budaya, menjadi warga Pakasa juga harus menjaga tetap tegaknya NKRI, keutuhan bangsa, UUD 45 dan Pancasila, termasuk menaati segala peraturan pmerintah termasuk protokol Covid 19. (won) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Seakan tak Mengenal Lelah, Terus Bergerak Memimpin Upaya Pelestarian Budaya

Belum Selesai Menggelar Hari Jadi Pakasa, Sudah Diselingi Ritual Mahesa Lawung SOLO, iMNews.id – Seakan tak mengenal lelah, belum selesai...

More Articles Like This