Kegiatan Pekerjaan Revitalisasipun Jadi Materi “Pandu-Wisata”
SURAKARTA, iMNews.id – Sabtu (7/11) siang tadi menjadi hari yang istimewa bagi Kraton Mataram Surakarta. Sejak pukul 09.30 WIB hingga pukul 15.00 WIB, terasa begitu berbeda suasananya dibanding sebelum ada perubahan mencolok sekitar setengah bulan lalu. Karena, begitu pekerjaan fisik revitalisasi di sejumlah titik mulai berlangsung, ada pemandangan yang berubah “drastis” dari biasanya.
Pemandangan itu, tampak di samping kanan “topengan” Kori Kamandungan, ada sejumlah orang bergerombol dan antre ke dua pintu “Bale Rata” (kandang kereta), yang dibuka untuk melayani wisatawan. Di bawah papan nama “Loket” pengunjung kraton itu, ada kesibukan antre membeli tiket masuk bagi para wisatawan untuk berkunjung ke kraton. Di dalam loket, ada beberapa petugas yang melayaninya.

Dari pemandangan yang baru terjadi sekitar setengah bulan sejak pekerjaan fisik revitalisasi itu dimulai, ada kelompok-kelompok yang berjalan mengalir masuk ke keraton melalui pintu timur Kori Kamandungan. Pintu masuk yang biasanya digunakan untuk akses keluar-masuk kalangan internal kerabat di kraton, sejak setengah bulan ini digunakan untuk akses masuk ke objek wisata di dalam kraton.
Sebagai ganti, pintu barat Kori Kamandungan yang biasanya selalu ditutup, sejak ada kegiatan revitalisasi dibuka untuk akses keluar-masuk kegiatan rutin keseharian para kerabat dan jajaran Bebadan Kabinet 2004. Halaman yang dibatasi Bangsal Smarakata di barat, Panggung Sangga Buwana di selatan dan Bangsal Marcukunda di timur, ada karpet dan pembatas untuk rute khusus para wisatawan.

Ketika tiba di halaman yang berbatas beberapa bangunan penting dan fungsional di kraton itu, ketika menoleh ke kiri (Bangsal Marcukunda) para wisatawan langsung bisa menyaksikan konser gamelan “Cara-Balen”. Begitu menoleh ke kanan (Bangsal Smarakata), di situ ada belasan abdi-dalem penari Sanggar Pawiyatan Beksa Kraton Mataram Surakarta sedang “gladen” tari yang ditunggui Gusti Moeng.
“Gladen beksa” (latihan tari) yang dipandu RAy Lina selaku instruktur itu, selama lebih dua jam dalam dua sesi sedang berlatih tari “Bedhaya Anglir Mendung”. Tidak hanya dua sajian seni yang benar-benar membuat satu sisi di kraton itu tampak hidup dan ada kehidupan yang sedang “menggema” indah. Karena, di sisi timur Kori Sri Manganti Lor, ada sajian “live klenengan nyamleng”.

Gema indah kehidupan yang terjadi di Sabtu siang (7/11) itu, sungguh memanjakan dan mengistimewakan para wisatawan yang kebetulan berkunjung. Karena menurut Gusti Moeng, jadwal “gladen” tari di Bangsal Smarakata memang tiap Sabtu siang (seminggu sekali). Dan menurut KRT Dr Joko Daryanto, abdi-dalem karawitan Keparak Mandra Budaya, sejak dua minggu ini, gladen gamelan Cara Balen dimulai.
“Inisiatif Sinuhun PB XIV ini sangat tepat. Karena kraton makin tampak hidup. Setiap hari Sabtu (seminggu sekali), di Bangsal Marcukunda ada latihan gamelan Cara-Balen. Di hari yang sama, di Kori Sri Manganti juga disajikan klenengan nyamleng sejak pagi tadi. Di Bangsal Smarakata, ini ada latihan tari, sebentar lagi diteruskan latihan pentas wayang kulit,” ujar KRT Dr Joko Daryanto.

Latihan seni pedalangan yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB, akan dilakukan abdi-dalem dalang Ki MNg Willy Dwi Harianggi. Karena, Minggu (8/11) besok malam, akan tampil pentas di tempat yang sama dengan penonton terbatas. “Mulai Minggu besok, tradisi wayangan seminggu sekali dimulai atas inisiatif Sinuhun PB XIV Hangabehi. Kraton biar berganti suasananya,” ujar Gusti Moeng.
Menjawab pertanyaan iMNews.id, Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA) juga membenarkan, bahwa tingkat kunjungan wisatawan sejak rute kunjungan pindah karena ada keperluan revitalisasi, malah meningkat. Rute berubah karena koleksi museum dipajang di Kori Sri Manganti, dan pengunjung bisa menikmati pemandangan bangunan yang sedang direvitalisasi, sebelum keluar lewat “pintu masuk” museum. (won-i1)
