Setelah Tertunda 9 Bulan, Akhirnya Sinuhun PB XIV Hangabehi Jumeneng-nata (seri 4-bersambung)

  • Post author:
  • Post published:September 10, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Setelah Tertunda 9 Bulan, Akhirnya Sinuhun PB XIV Hangabehi Jumeneng-nata (seri 4-bersambung)
KETUA PAKASA : Ada Ketua Pakasa Cabang Malang 30-an ketua Cabang lain sesuai daftar hadir, bersiap di samping Bangsal Pangrawit bersama para abdi-dalem "Kanca-Kaji", sebelum tatacara ikrar Sinuhun PB XIV Hangabehi, Sabtu (5/9). (foto : iMNews.id/Dok)

Sayang, KGPH PA Tedjowulan dan Beberapa Tokoh Kerabat Penting tak Hadir

IMNEWS.ID – ACARA “njangkepi tatacara jumenengan-nata” Sinuhun PB XIV Hangabehi , yang “dibungkus” kegiatan silaturahmi raja-raja Nusantara anggota DPP MAKN dan FKIKN, Sabtu (5/9), “seharusnya” menjadi puncak penantian panjang banyak pihak. Khususnya bagi masyarakat adat elemen Pakasa cabang di berbagai daerah, yang mulai “mengenal” tetapi mendukung total tokoh pemimpin baru itu.

Elemen Pakasa cabang yang tersebar di berbagai daerah di beberapa provinsi, adalah daya dukung legitimasi paling besar bagi Kraton Mataram Surakarta, yang “diberikan” pada puncak momentum tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi tahun ini. Karena, beberapa elemen lain tidak memiliki “kanal” organisasi sampai cabang seperti Pakasa, yang rata-rata “mudah” mendapatkan anggota dalam jumlah banyak.

Elemen masyarakat adat Bebadan Kabinet 2004 misalnya, hanya ada di pusat lembaganya yaitu kraton. Meskipun, elemen ini punya “garis komando” langsung dengan para “abdi-dalem juru-kunci” sejumlah makam tokoh leluhur Dinasti Mataram, utamanya Astana Pajimatan Imogiri dan Kutha Gedhe, misalnya. Jumlah mereka sangat terbatas, karena satusnya masuk kategori “abdi-dalem garap” (pegawai).

Sedangkan elemen Putri Narpo Wandawa, selain di “pusat” hanya ada 2-3 cabang di daerah yang status keanggotaannya “overlap” dengan Pakasa cabang. Pasipamarta yang menjadi elemen penghimpun siswa lulusan Sanggar Pasinaon Pambiwara kraton, hanya punya anggota aktif sekitar 200 orang. Anggota elemen hanya muncul saat kraton punya “gawe”, karena tak punya cabang, walau lulusan sanggar ada 3 ribuan.

MENUNGGU WAKTU : KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi (Ketua Pakasa Cabang Kudus) selesai berdandan busana kebesaran upacara “sikepan ageng dodotan sampir kunca”, menunggu waktu upacara adat dimulai di kompleks Sitinggil Lor. (foto : iMNews.id/Dok)

Melihat potensi perkembangan masyarakat elemen Pakasa, kelihatannya hanya itu yang kini sangat mendominasi daya dukung kegitimasi terhadap kraton, segala kegiatan upacara adat, terlebih terhadap proses “lahirnya” pemimpin baru Sinuhun PB XIV Hangabehi sampai titik terakhir, Sabtu (5/9) itu. Karena di sekretariat Pakasa Punjer, tercatat 30-an Pakasa cabang yang “mengirim utusan”.

Bila dihitung semuanya, mungkin sudah sampai 40-an pengurus cabang Pakasa yang terbentuk di tiap daerah sesuai jumlah cabang itu. Tetapi, ada dinamika sosial, ekonomi dan sebagainya yang sangat berpengaruh terhadap stabilitas eksistensi pengurus Pakasa cabang. Sehingga “keutuhan” organisasi cabang sulit terjamin sepanjang waktu, atau bisa bertahan apalagi “aktif”, walau satu periode saja.

Dengan melihat daftar gadir yang diisi tiap-tiap pengurus Pakasa cabang, jika tiap cabang mengirim utusan rata-rata 10 orang, jumlahnya sudah 300-an abdi-dalem. Padahal, seperti Pakasa Cabang Kudus, misalnya, menurut KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro, bisa membawa anggota 40 orang plus dirinya selaku ketua cabang/pimpinan rombongan. Tetapi, yang bisa “masuk” hanya separo.

Bila mengacu pada jumlah anggota cabang, Pakasa Cabang Ponorogo dan cabang Klaten juga Boyolali dan Sragen, adalah cabang yang punya potensi mengirim utusan lebih banyak, bisa seratusan orang. Tetapi, ada banyak persoalan yang membuat potensi itu tak bisa diwujudkan apa adanya atau secara maksimal. Karena, situasi ekonomi sedang sulit dan label “jumenengan-nata” tampak abu-abu.

DI SASANA SEWAKA : KRA Joko Murdianto Bintoro Adiningrat (Ketua Pakasa Kota Bekasi), sampai di sisi Pendapa Sasana Sewaka pada bagian akhir upacara adat “njangkepi tatacara jumenengan-nata” Sinuhun PB XIV Hangabehi, Sabtu (5/9). (foto : iMNews.id/Dok)

Dua hal itulah yang secara tidak langsung maupun langsung, menjadi filter atau seleksi alami terutama menyangkut jumlah utusan Pakasa cabang. Dan “seleksi” yang dialami Pakasa Cabang Kudus itu menjadi contohnya. Bahwa tak cabang yang membawa rombongan banyak, semuanya bisa lolos sampai di Pendapa Sasana Sewaka. Karena, “seleksi” di pintu masuk ke pusat upacara Sasana Sewaka cukup ketat.

Selain ID card, ada “pin” bergambar Sinuhun PB XIV Hangabehi dibagikan kepada tiap cabang Pakasa yang mendaftar, melalui ketua atau penanggung-jawabnya. ID card dan pin wajib dipakai tiap anggota Pakasa cabang, sebagai tanda masuk pada “jam yang ditentukan”. Sedangkan kalangan pimpinan Pakasa ketua/penanggung-jawab) rombongan, terpisah karena mengenakan busana kebesaran upacara adat.

Pengetatan seleksi para abdi-dalem yang sowan mengikuti upacara adat “njangkepi tatacara jumenengan-nata”, sudah terasa di tempat upacara ikrar di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa dan Pendapa Sitinggil Lor yang dipusatkan di kompleks Sitinggil Lor. Karena, hanya rombongan yang bersama penanggung-jawab atau ketua Pakasa yang terdaftar saja, yang boleh masuk dan duduk di depan dua bangsal.  

Dalam pantauan iMNews.id, saat berlangsungnya upacara adat di Bangsal Manguntur Tangkil dan Bangsal Pangrawit itu, tidak lebih dari 2 ribu orang keseluruhan yang hadir menyaksikan. Tetapi, dari jumlah itu tak semuanya bisa sampai ke tempat pisowanan terakhir dan paling penting, yaitu Pendapa Sasana Sewaka. Walaupun, jumlah total final yang sowan tak berbeda banyak dari sebelumnya.

PEMANDANGAN LANGKA : Pemandangan langka saat para ketua Pakasa Cabang berbagai daerah dan para sentana-dalem, berbusana adat kebesaran upacara “sikepan ageng dodot sampir kunca”, menunggu “timbalan sowan” di teras Nguntarasana, Sabtu (5/9). (foto : iMNews.id/Dok)

Perihal “penyamaran” label upacara adat dalam bahasa bersayap menjadi “abu-abu” sebagai bentuk kehati-hatian untuk menghindari “penyusupan” dan “insiden”, menjadi pengalaman tersendiri bagi Pakasa Cabang Kudus yang membawa 41 anggota rombongan. Karena ada “insiden” keluar mencari sarapan dan mencari selop yang “ketelisut”, jadi terlambat sampai di Sri Manganti dan tidak diizinkan masuk.

Kalau dari 41 orang anggota Pakasa Cabang Kudus hanya 23 orang yang bisa masuk gara-gara “insiden kecil” yang dialami, tetapi beruntung bagi Pakasa Cabang Magelang. Rombongan 55 abdi-dalem Pakasa Magelang yang dipimpin KRAT Bagiyono Rumeksodiningrat (Ketua cabang) ini, bisa sampai Pendapa Sasana Sewaka 40 orang karena masuk di saat yang tepat. Sisanya tidak masuk karena berbagai alasan.

Walau harus melalui mekanisme seperti itu, tetapi keseluruhan rangkaian upacara adat “njangkepi tatacara jumenengan-nata”, Sabtu (5/9) itu bisa terwujud aman,  lengkap, berjalan lancar dan sukses. Ternyata, “strategi publikasi” penyamaran acara inti menjadi abu-abu dengan tema “njangkepi” dan silaturahmi raja-raja Nusantara, adalah cara seleksi yang jitu, untuk menghindari berbagai risiko.

“Pakasa Kota Bekasi ngaturaken puji syukur dhumateng Allah SWT, awit jumenengan-nata SISKS Pakoe Boewana XIV Hangabehi sampun kalampahan kanthi lancar, khidmat saha kebak berkah. Kula minangka Pangarsa ngaturaken raos bingah, saha sembah-bekti ingkang tanpa upami. Mugi Sinuhun tansah kaparingan kasarasan, kawicaksanan saha kekiatan anggenipun ngasta tugas lan kewajiban”.

JUGA SOWAN : Sejarawan Lokantara Pusat, Ki Dr Purwadi, juga sowan dan sempat bertemu KRAT Heru Arif Pianto (Ketua Pakasa Cabang Pacitan), sampai di bagian akhir tatacara “njangkepi jumeneng-dalem” Sinuhun PB XIV digelar, Sabtu (5/9). (foto : iMNews.id/Dok)

“Tugas lan kewajiban njagi paugeran adat, kangge ngluhuraken malih kejayaan Karaton Surakarta Hadiningrat. Sarta mujudaken kemaslahatan tumrap para warga masyarakat adat, karaton sak isinipun, bangsa lan nagari Indonesia,” demikian kesan dan harapan KRA Joko Murdianto Bintoro Adiningrat (Ketua Pakasa). Secara terpisah juga disebutkan, ia bersama 15 warganya bisa sampai di Sasana Sewaka.

Sementara itu, dari pemandangan upacara adat yang digelar di Pendapa Pagelaran hingga Sasana Sewaka, Sabtu (5/9) itu, bila dicermati ada sesuatu yang kurang. Karena ada beberapa tokoh penting yang tidak tampak di acara yang digelar mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB itu. Mereka adalah KGPH PA Tedjowulan, KGPH Puger dan GPH Suryowicaksono, yang disebut panitia semua sudah diundang. (Won Poerwono-bersambung/i1)