Sanggar Tari Amarta Karanganyar “Penyumbang” Suporter Paling Banyak
SURAKARTA, iMNews.id – Sanggar Tari Amarta (Karanganyar) “menyumbang” suporter paling banyak dan jumlah penari paling banyak pada malam penutupan event “Sekaten Art Festival (SAF 2026), yang digelar Bebadan Kabinet 2004 selama sepekan, 19-25 Agustus. Jumlah para penarinya 40-an orang belum termasuk pengurus dan instruktur sanggar serta perias, ditambah keluarga yang mengantarnya.
Namun, jumlah penari paling banyak di antara sanggar penyaji selama enam hari berlangsungnya SAF 2026 itu, terbagi dalam 7 judul (repertoar) tari yang disajikan di malam terakhir/penutupan, Selasa (25/8). Sedangkan Sanggar Tari Giri Alit dari Wuryantoro (Wonogiri) yang tampil di malam sebelumnya, membawa 50 rombongan, 31 di antaranya penari/penyaji satu sajian, Sendratari Ramayana.

“Kami membawa 40 penari lo. Itu belum termasuk pengurus sanggar, perias dan keluarga yang mengantar. Para penari/penyaji dan anggota rombongan lain dari Karanganyar itu, juga jadi suporter pentas malam itu. Mungkin sanggar kami yang terbanyak, sajian tarinya, jumlah penarinya dan anggota rombongannya. Ya, mungkin karena dari Karanganyar ke sini relatih dekat,” ujar KPP Haryo Sinawung.
Selaku pengasuh Sanggar Tari Amarta, KPP Haryo Sinawung Waluyoputro bukan tokoh asing di Kraton Mataram Surakarta dan di event Sekaten Art Festival (SAF). Karena dia adalah Wakil Pengageng Karti Praja di Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng, yang sempat banyak dikenal karena tugas “panas” sebagai penyampai “dhawuh menabuh” gamelan pada pembukaan Sekaten beberapa tahun lalu.

Dalam event SAF, dia juga tak pernah absen selalu hadir menyertai kontingen sanggar yang dikirim untuk tampil di panggung pertunjukan tari megah bersejarah Pendapa Sitinggil Lor itu. Terlebih, dalam beberapa event SAF tahun-tahun lalu, Sanggar Tari Amarta menjadi penyaji yang dominan karena lebih dari satu kali tampil dalam seminggu pentas, rata-rata menyuguhkan 5 judul tari sekali tampil.
SAF tahun 2026 ini mungkin menjadi anti-klimaks pentas seni pertunjukan tari, yang sedianya untuk memenuhi kebutuhan kebatinan para pengunjung Sekaten Garebeg Mulud, sajian Kraton Mataram Surakarta. Karena, situasi dan kondisi ekonomi nasional yang terasa sangat menekan dan membatasi gerak kegiatan upacara adat Sekaten Garebeg Mulud 2026 dan ekonomi masyarakat pengunjungnya.

“Tetapi, alhamdulilah, Sanggar Tari Giri Alit bisa sampai di sini dan tampil di panggung ini. Karena kami semua juga merasa ikut bertanggungjawab pada nasib seni budaya yang bersumber dari kraton, kami berusaha bisa tampil memeriahkan panggung Sekaten Art Festival ini. Kami datang dari jauh (Wuryantoro) menyewa dua minibus agar bisa tampil di sini,” ujar KRT Wahid Nugroho, pembina Sanggar.
Selasa malam (25/8) di hari libur nasional perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW itu, tampil 11 judul tarian dan 7 di antaranya sajian Sanggar Tari Amarta (Karanganyar). Jumlah penonton lumayan, tetapi tak sebanyak pada urutan malam yang sama pada Sekaten 2025. Baik respon langsung sajian maupun keseluruhan yang, malam itu menjadi anti-klimaks dari 5 malam dan sajian tahun sebelumnya.

Walau malam itu tak ada upacara penutupan secara khusus, tetapi secara pribadi dan atas nama kraton Gusti Moeng menyampaikan rasa terimaksihnya kepada para penyaji saat menyerahkan piagam kepada masing-masing pimpinan sanggar tari penyaji. Ucapan seperti itu selalu disampaikan saat diminta foto bersama, baik dengan grup penyaji tari maupun dengan masing-masing rombongan sanggar tari.
Malam penutupan itu menjadi anti-klimaks, karena ada beberapa malam sebelumnya yang menjadi puncak klimaks pertunjukan selama SAF 2026 digelar 6 hari, 19-25 Agustus, karena Kamis(27/8) kraton punya adat tradisi libur dari segala bentuk kegiatan seni. Tiga malam yang menjadi klimaks SAF, yaitu ketika Sanggar Giri Alit menyajikan Ramayana, sajian sendratari Sekaten dan flashmob tari “Cindai”.

Sajian sendratari Ramayana dari Sanggar Giri Alit (Wonogiri), memberi kesan kolosal dibanding sajian-sajian SAF lainnya yang tiap sajian lain di enam malam itu menampilan satu hingga delapan penari. Sanggar tari Giri Alit menghadirkan 31 penari untuk sendratari Ramayana berdurasi 15-an menit, walau sajian kolosal di panggung Ramayana Prambanan (Klaten) misalnya, melibatkan sampai 100-an orang.
Berikut, sajian sendratari Sekaten yang mengangkat prosesi Gunungan ritual Garebeg Mulud 2026, adalah gagasan ekspresi seni luar biasa yang jadi kilmaks. Walau hanya 8 penari SMPN 24 Surakarta yang tampil, tetapi sajiannya sangat menarik, fenomenal dab inspiratif. Berikut, gagasan mengajak semua penyaji dan Gusti Moeng menari bersama “flas-mob” tari/lagu “Cindai”, juga jadi klimaks SAF. (won-i1)
