Siapa yang Bertanggungjawab Melindungi Produk Kerajinan Khas Sekaten? (Seri 3-habis)

  • Post author:
  • Post published:August 23, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Siapa yang Bertanggungjawab Melindungi Produk Kerajinan Khas Sekaten? (Seri 3-habis)
FENOMENA PLASTIK : Sekaten tahun 2025 bahkan sebelumnya, fenomena dagang produk pabrikan berbahan plastik sudah bertebaran di arena "Maleman Sekaten" di Alun-alun Lor maupun halaman Masjid Agung. Fenomena ini ancaman serius. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Benarkah Peradaban Zaman Sudah Tidak Butuh Simbol Khas Ikonik Sekaten?

IMNEWS.ID – SETELAH pertanyaan “Siapa yang bertanggungjawab melindungi produk kerajinan khas Sekaten?” sudah terjawab (iMNews.id, 22/8), kini giliran ada pertanyaan berikut yang butuh jawaban meyakinkan. “Benarkah peradaban zaman (kini dan mendatang) sudah tidak butuh simbol ikonik Sekaten?”, sebagai pertanyaan turunan dan lanjutan yang wajib dipahami dan direnungkan “publik”.

Karena, hal esensial yang dipertanyakan itu sebenarnya bukan bagin inti dan baku upacara adat Sekaten Garebeg Mulud yang intinya wujud perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW versi Kraton Mataram Islam Surakarta. Karena hal-hal yang disebut sebagai simbol khas ikonik Sekaten itu, hanya elemen tambahan dari inti kesatuan upacara adatnya, tetapi jadi sarana penting unsur syi’arnya.

FENOMENA PERUBAHAN : Beberapa jenis mainan produk berbahan plastik dan gerobak pedagang kuliner ini, perlahan-lahan sudah menggusur bakul mainan dan kuliner yang menjadi simbol-simbol khas ikonik “Maleman Sekaten” di Masjid Agung. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena hal atau sarana penting unsur syi’ar agama itu diyakini punya kekuatan daya tarik dan pemikat secara psikologis dan sosilogis, maka simbol-simbol khas ikonik Sekaten diyakini juga menjadi bagian kesatuan inti Sekaten. Apalagi, kesatuan inti esensial upacara adat Sekaten itu, sudah teruji di lapangan dalam praktik waktu ratusan tahun sejak abad 16, melewati beberapa peradaban zaman.

Oleh sebab itu, ketika tata-rupa, tata-laksana dan tata-kelola Sekaten Garebeg Mulud berlangsung tanpa berbagai barang (menu) tradisi simbol khas ikonik itu, akan menjadi aneh wajah Sekaten secara keseluruhan. Terutama, wajah keramaian pasar malam yang disebut “maleman Sekaten” itu, jika tetap menampilkan suasana pasar, tetapi isinya bukan barang-barang dan menu khas simbol ikonik Sekaten.

PEMODAL SEDANG : Generasi baru bakul bermodal sedang yang berani merombak semua dagangannya berbahan plastik dan kuliner modern, mungkin masih bisa bertahan di “Maleman Sekaten”, karena mampu menyewa kavling 2×2,5 meter Rp 4,5 juta/bulan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Bila perubahan wajah (tata-rupa) seperti itu dianggap lumrah dan benar-benar dibiarkan terjadi, maka akan banyak muncul pertanyaan seperti subjudul dan judul di atas. Bahkan, ada pertanyaan berikut yang lebih tajam. Wajah keramaian pasar malam yang sudah berubah secara fundamental itu, apa masih bisa (tepat) disebut “Maleman Sekaten”? Bagaimana penjelasan rasional perubahan itu?.

Bahkan bukan saja menyangkut rasionalitasnya, perubahan mendasar yang terjadi dari isi esensial “Maleman Sekaten”, juga menyangkut unsur kultural, historikal , tradisional, sosiologis, psikologis, etika dan estetikanya. Ini berati, saat unsur-unsur khas simbol ikonik itu hilang dari “Maleman Sekaten”, sebenarnya   keramaian pasar pendukung Sekaten Garebeg Mulud itu sudah kehilangan “rohnya”.

TIDAK MUNGKIN : Bagi para bakul produk “gerabah” atau kuliner khas simbolik “Maleman Sekaten” tahun 2026 ini, mungkin tidak mampu menyewa kavling dagang di halaman Masjid Agung, walau hanya Rp 400 rb/bulan untuk ukuran 1×1,5 meter. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena, elemen penting yang mudah diidentifikasi sebagai “petunjuk awal” adanya tradisi “Maleman Sekaten” dan upacara adat “Sekaten Garebeg Mulud” itu, karena di antara keramaian itu masih tampak (banyak) berhias stan oprokan bakul-bakul produk kerajinan dan kuliner khas simbol ikonik itu. Tanpa gangsingan, pecut, berbagai produk gerabah dan kuliner, apa masih bisa disebut Maleman Sekaten?.

Dengan hilangnya simbol-simbol khas ikonik “Maleman Sekaten” yang menjadi ikon upacara adat Kraton Mataram Surakarta dalam merayakan hari besar Maulud Nabi Muhammad SAW itu, maka sebenarnya keramaian pasar “Maleman Sekaten” tak ada hal-hal spesifik yang membedakan dengan keramaian pasar atau pasar malam dengan tema lain di tempat lain di luar kraton. Karena, isinya sama, produk modern.

MENCOBA BERTAHAN : Bagi pedagang simbol-simbol ikonik Budaya Jawa seperti yang tampak di Maleman Sekaten, masih relevan berada di arena Sekaten, untuk sekadar bertahan hidup. Walau sebenarnya mereka bukan simbol khas ikonik Sekaten. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Situasi dan kondisi seperti ini, adalah tantangan besar dan berat bagi Kraton Mataram Surakarta yang meneruskan “negara” (monarki) Mataram Islam peninggalan Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma dan para tokoh Dinasti Mataram lainnya. Lebih spesifik lagi, ini adalah tantangan besar dan berat bagi pemimpin baru Sinuhun PB XIV Hangabehi, yang tak mungkin bisa “dipahami” dan diatasi “raja sabrang”.

Berkurangnya simbol-simbol khas ikonik “Maleman Sekaten” dalam tiga dekade ini, memang masih dalam fenomena awal proses degradasi wajah Sekaten Kraton Mataram Surakarta. Tetapi jika dibiarkan dalam beberapa dekade lagi, sangat mungkin akan hilang tanpa jejak, dan pelan-pelan semua sajian “Maleman Sekaten” akan berganti produk pabrik berbahan plastik, aneka kuliner instan dan wahana modern. (Won Poerwono-habis/i1)