Digelar di Ajang “Sekaten Art Festival 2026” di Pendapa Sitinggil Lor
SURAKARTA, iMNews.id – Pentas seni “Sekaten Art Festival 2026” semalam kembali meneruskan kegiatannya di tengah berlangsungnya “Maleman Sekaten” dan upacara adat “Sekaten Garebeg Mulud 2026”, 5-12 Mulud Tahun Be 1960. Pergelaran tari dari sejumlah sanggar di sekitar Surakarta, termasuk Pawiyatan Beksa Kraton Mataram Surakarta, diliburkan semalam (Kamis, 20/8) dan berlanjut Jumat malam.
Sabtu malam Minggu (22/8) adalah malam ke-3 pergelaran “Sekaten Art Festival 2026”, yang masih menampakkan suasana yang tidak jauh dari situasi dan kondisi umum secara nasional, (secara ekonomi) “agak lesu”. Tetapi kelesuan itu tidak membuat lesu Sanggar Tari “Giri Alit” yang bermarkas di Wuryantoro, karena mereka justru sangat bersemangat hadir, menyajikan sendratari massal Ramayana.

Kalau sanggar-sanggar lain yang berasal dari jarak dekat dari Kota Surakarta, rata-rata menyajikan tari berperaga tunggal hingga 6 orang, walau ada yang 10 orang, tetapi Sanggar Tari “Giri Alit” sebagai “pendatang baru” di event itu, semalam butuh “pengakuan”. Padahal rombongan 50 orang itu, datang dari Kota Kecamatan Wuryantoro, jaraknya kira-kira 30an KM dari kota Kabupaten Wonogiri.
“Rombongan kami sudah tiba di kompleks Pendapa Sitinggil Lor pagi tadi. Karena, sendratari Ramayana yang kami sajikan melibatkan 31 penari, termasuk banyak, dan separo lebih masih usia anak-anak. Waktu untuk blocking panggung sangat kami butuhkan, terutama untuk penari berusia anak-anak. Selebihnya, kami butuh berias dan berdandan, karena semua mengenakan kostum wayang,” ujar KRT Wahid.

Rombongan dari satu daerah berjumlah 50-an orang, pendukung satu sanggar yang tampil di ajang panggung event “Sekaten Art Festival”, selain massal dalam sajian, juga termasuk paling banyak sebagai penonton. Karena, sejak awal event ini dimulai, Rabu (19/8) malam, jumlah pengunjung tampak menurun dibanding Sekaten 2025 yang nyaris memenuhi teras dan ruang penonton Pendapa Sitinggil Lor.
Karena pengaruh situasi dan kondisi (ekonomi) nasional, jumlah peserta stan aneka produk dan jasa menurun, yang diduga berpengaruh pada penurunan jumlah pengunjung. Tak hanya itu, animo sanggar-sanggar untuk berpartisipasipun juga tampak menurun. Bukan hanya jumlah sanggarnya, tetapi jumlah ragam (judul) tariannya berkurang, yang identik dengan pengurangan jumlah penarinya.

Dengan pengurangan jumlah penari dan judul tarian atau meniadakan jenis tarian massal, tentu akan mengurangi jumlah rombongan penyaji dan supporter sanggar. Situasi dan kondisi seperti ini yang terjadi dengan fenomena yang tampak sejak event dibuka, Rabu malam (19/8). Walau di malam pertama dan kedua rata-rata disajikan 6 tarian, tetapi banyak sajian yang disuguhkan dengan “paket hemat”.
Tetapi, Sabtu malam Minggu (22/8) semalam agak berbeda, walau disajikan lima judul (repertoar) tarian. Karena, Sanggar Tari “Giri Alit” yang dipimpin Nanik Sulistyowati SPd itu terkesan membuktikan tak terpengaruh suasana ekonomi lesu. Ia membawa rombongan 50 orang dengan dua minibus pengangkut, 31 orang di antaranya adalah penyaji tarian “kolosal”, berjudul “Kisah di Hutan Dandaka”.

Judul “Kisah di Hutan Dandaka” adalah bagian “jejeran” dari sendratari Ramayana yang menjadi “bebon” (induk) cerita wayang kulit atau seni pedalangan, selain Maha Bharata. Maka, epos Ramayana yang dalam sajian wayang kulit bisa disajikan dalam 10-an lakon (cerita) atau 10 malam itu, di event Sekaten Art Festival diringkas atau diperas Sanggar Tari “Giri Alit” menjadi sajian padat 14 menit.
“Kami terpaksa meringkas keseluruhan cerita Ramayana itu dalam sajian 14 menit. Karena, kami ingin menyajikan sendratari yang pendukungnya banyak, untuk tampil di event Sekaten Art Festival ini. Jadi, ya, mungkin ada kekurangan di sana-sini, itu maklum. Tetapi, itulah wujud partisipasi kami yang datang jauh-jauh ke kraton. Mudah-mudahan bisa menyemangati sanggar-sanggar lain,” ujar KRT Wahid.

KRT Wahid Nugroho Reksataya Ajipuro adalah pembina sanggar tari itu, yang juga anggota Pasipamarta lulusan Sanggar Pasinaon Pambiwara Kraton Mataram Surakarta, “babaran” 3-4 tahun lalu. Sedangkan Sanggar Tari “Giri Alit” yang bermarkas di Desa Gunung Bilik RT, Kecamatan Wuryantoro, berdiri tahun 2021 yang rata-rata memiliki anggota 40-an orang/pertahun, usai 6-belasan tahun.
Sanggar ini juga memiliki tokoh penasihat, yaitu KP Budayaningrat yang tak lain adalah “dwija” Sanggar Pasinaon Pambiwara. Minggu malam (23/8), kegiatan event panggung “Sekaten Art Festival 2026” tetap berlanjut. Semalam, selain dari Wonogiri ada sajian tari “Golek Srirejeki” dari Sanggar Wijaya Kusumo (Grogol-Sukoharjo), tari Batik Wastra Aditama (Sanggar Gogon) dan sajian SDIT Kauman. (won-i1)
