Ki Dr Bambang Suwarno SKar Dipercaya Ditetapkan Sebagai Ketua Sanggar
SURAKARTA, iMNews.id – Elemen lembaga kesenian di bawah kantor Pengageng Mandra Budaya yang bermarkas di “Bale Agung” Alun-alun Lor, Kraton Mataram Surakarta, akan segera diaktifkan lagi. Bangunan dan kegiatan seni pedalangan khas kraton “gagrag” (gaya) Surakarta yang menjadi organ ciri kehidupan kraton, akan segera bangkit dan beraktivitas lagi setelah “mati suri” lebih lima tahun sejak 2017.
GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Lembaga Dewan Adat, saat dijumpai iMNews.id di teras Nguntarasana, Kamis (14/5) lalu menegaskan hal di atas. Bahkan saat itu, Gusti Moeng berpamitan akan ke rumah Ki Dr Bambang Suwarno SKar, untuk menyampaikan permintaan kraton kepadanya yang ditetapkan sebagai pengasuh (Ketua) Sanggar Pasinaon Pedalangan Kraton Mataram Surakarta.

“Ini saya akan ke rumah mas Bambang Suwarno. Karena, beliau yang akan dipasrahi untuk mengurus dan menghidupkan lagi Sanggar Pasinaon Pedalangan Kraton Mataram Surakarta. Saya sudah janjian mau ke rumah, sekarang ini. Sanggar pedalangan kraton perlu diaktifkan lagi, agar kegiatan pedalangan khas kraton bangkit lagi dan Bale Agung tampak hidup lagi. Dari pada jadi markas organisasi ora nggenah”.
“Nanti, yang akan mengurus sanggar mas Bambang Suwarno dan mas Rudy Wiratama”, tegas Gusti Moeng yang bergegas meninggalkan teras Nguntarasana, untuk segera menuju rumah Ki KRT Dr Bambang Suwarno SKar. Kediaman mantan dosen jurusan seni pedalangan ISI Surakarta ini, di usianya lebih 70 tahun masih aktif beraktivitas di seni pedalangan “gagrag” Surakarta, di kediamannya Ngepung, Semanggi Lor.

Ki KRT Dr Bambang Suwarno adalah salah seorang dalang lulusan Jurusan Pedalangan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Surakarta, ketika kampusnya masih pinjam kraton di kompleks Pendapa Sasana Mulya sejak tahun 1970-an. Namun, Ki Bambang Suwarno banyak berkonsentrasi sebagai tenaga pengajar di kampus, walau masih bisa mengembangkan kemampuannya di bidang tatah-sungging wayang berkarakter fenomenal.
Selain itu, Ki Dr Bambang Suwarno punya kemampuan menguasai seni pedalangan Wayang Madya atau “gedhog” yang sangat jarang diminati kalangan dalang seusia, apalagi dikuasai kalangan generasi dalang di bawahnya. Karena kecintaan dan komitmennya pada seni pedalangan gaya kraton khususnya Wayang Gedhog, dalam beberapa tahun sejak awal Bebadan Kabinet 2004 eksis, ia suwita di kraton.

Ki Bambang menjadi dalang akademis yang paling senior di lingkungan abdi-dalem garap di bawah Kantor Pengageng Mandra Budaya di kraton. Ia memiliki beberapa pengikut yunior yang meneladani gaya pedalangannya, yaitu Ki Dr Rudy Wiratama. Selain itu ada beberapa dalang akademis dari ISI Surakarta yang aktif suwita di kraton, yaitu mengurus ritual “Ngisis Ringgit” tiap datang weton Anggara Kasih.
Selama Sanggar Pasinaon Pedalangan Bale Agung statusnya masih dikelola KRT Sunarno (alm), sejumlah dalang ini hanya aktif saat ritual “ngisis ringgit” dan pendataan ulang seluruh aset wayang yang dimiliki kraton tahun 2015-2016. Sanggar Bale Agung masih sering menggelar kegiatan tiap weton Minggu Pahing, berupa pentas “live” oleh para dalang dari luar kraton yang diasuh KRT Sunarno.

Sanggar Pasinaon pedalangan benar-benar vakum ketika abdi-dalem keparak Mandra Budaya, KRT Sunarno SKar sudah tak bisa aktif karena ikut “dilumpuhkan” oleh “Insiden MOM” mulai tahun 2017. Karena Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng menghadapi situasi serba “terbatas” di luar kraton, membuat Sanggar Bale Agung semakin tak terurus. Situasi dan kondisinya diperparah oleh pandemi Corona.
Begitu masa pandemi mulai longgar, Bebadan Kabinet 2004 membidani lahirnya Sanggar Paes Tata-Busana Pengantin Jawa “gagrag” Surakarta, untuk memenuhi animo masyarakat yang begitu besar. Sekaligus, untuk bisa mengembalikan “kehidupan” di Sanggar Pasinaon Pedalangan di “Bale Agung” yang sudah puluhan tahun beroperasi. Tetapi faktor pimpinan sanggar tak bisa menunjukkan etikat baik dalam memimpin.

Akhirnya Gusti Moeng selaku pimpinan Bebadan Kabinet 2004 menyerahkan kepada GKR Ayu Koes Indriyah untuk memimpin Sanggar Paes dan Tata-Busana Pengantin Jawa gagrag Surakarta. Bersamaan kembali aktifnya kegiatan belajar-mengajar Sanggar Paes Tata-Busana setelah “macet” beberapa saat di Bale Agung, Gusti Moeng memutuskan kegiatan belajar-mengajar dipindah ke Bangsal Marcukunda, hingga kini.
Kegiatan Sanggar Paes Tata-Busana terus berjalan lancar dan kini sudah berada di tahun ke-5 perjalanannya, walau lulusan yang dihadikan tiap babaran hanya sekitar 15 orang. Bale Agung yang ditinggal Sanggar Paes Tata-Busana, kosong dan makin rusak. Apalagi, belum lama ini malah digunakan untuk markas anggota organisasi dari “luar kota”, yang sama sekali tak punya hubungan “ideal” dengan kraton.

“Ya, sebenarnya ada dua pihak yang meminta untuk mengurus Sanggar Pasinaon Pedalangan Bale Agung. Tetapi biar mas Bambang Suwarno dan kawan-kawan saja yang mengurus. Kemarin itu saya sudah ketemu, beliau dan teman-teman sudah bersedia. Nanti akan segera kami serahkan surat ‘tetepan’ sebagai Ketua (Pengurus) sanggar. Tetapi, perlu dibenahi dulu. Karena, kondisinya rusak parah,” ujar Gusti Moeng.
Kraton Mataram Surakarta adalah salah satu kiblat seni pedalangan di Tanah Air, karena punya produk cerita atau lakon yang antara lain diadaptasi dari ephos Maha Bharata dan Ramayana. Semua lokon itu disusun ulang para “Pujangga Surakarta” dan “empu” sebagai dokumen manuskrip seni pedalangan “gagrag” (gaya Surakarta), dan diberi nama “Serat Pustaka Raja Purwa, “Serat Pustaka Raja Madya” dan sebagainya. (won-i1)
