Baliho Sinuhun PB XIV Hangabehi Sosialisasikan “Tri Prasetya” Kehidupan
SURAKARTA, iMNews.id – Upacara adat “khol” (haul) peringatan wafat yang ke-393 (tahun kalender Jawa) Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, digelar Bebadan Kabinet 2004 Kraton Mataram Surakarta, Sabtu (18/7). Ritual yang dipimpin GKR Wandansari Koes Moertiyah (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA) itu, digelar di Pendapa Sitinggil Lor yang didahului dengan prosesi membawa uba-rampe dari dalam.
Ritual peringatan 380 tahun (Masehi) meninggalnya Raja ke-3 Kraton Mataram Islam itu, sudah beberapa kali dilakukan Bebadan Kabinet 2004. Lokasi upacara adat khol tokoh deklarator Kraton Mataram sebagai Kraton Islam itu, berganti-ganti tempat yang digunakan. Selama 20-an tahun ini, Sasana Handrawina, Pendapa Sitinggil Lor, Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa dan Masjid Agung pernah menjadi lokasi ritual itu.

“Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma adalah raja yang menyatukan antara kalender Jawa dan Islam. Beliau yang mendeklarasikan Kraton Mataram sebagai kraton Islam, yang dilestarikan hingga sekarang. Selama jumenengnya Eyang (161-1646) telah mendaklarasikan ciri kraton dan kalender yang hingga kini dimenjadi pedoman masyarakat luas itu. Kraton Mataram Surakarta, melestarikan pedoman itu”.
“Sinuhun Sultan Agung juga punya karya yang luar biasa, yaitu serat Sastra Gendhing. Karya sastra ini adalah rangkuman pengetahuan tasawuf, yang disarikan dari Alqur’an tentang kewajiban manusia menjaga jagad gede dan cilik. Karya terangkum dalam judul Tri Prasetya. Isinya, ‘Memayu-hayuning bawana; Mangisis eseming budi; Memasuh memalaning jagad’,” tandas Gusti Moeng dalam sambutannya.

Sambutan tunggal GKR Wandansari Koes Moertiyah dalam Bahasa Jawa “krama inggil” itu, menjadi salah satu ruang pembelajaran yang tepat dan ideal bagi berbagai elemen masyarakat adat. Karena faktanya, kraton tak bisa mencukupi kebutuhan ruang edukasi nilai-nilai kearifan lokal Budaya Jawa, sejarah dan sebagainya. Sementara luar kraton, sama sekali tidak menyediakan kebutuhan edukasi soal itu.
Dengan gaya mengajukan beberapa pertanyaan, Gusti Moeng menjalankan cara edukasi yang halus, tanpa berkesan “menggurui”. Menularkan pengetahuan dengan cara itu juga sangat tepat, karena pertanyaan yang diajukan disertai jawaban yang bisa disimpan sebagai referensi semua peserta yang hadir dalam “pisowanan” ritual khol Sultan Agung. Khususnya tentang nilai-nilai kearifan lokal budaya, berupa karya sastra.

“Karena kuliah saya dulu di Fakultas Sastra, saya harus bisa membaca naskah-naskah yang beraksara Jawa. Maka, saya bisa menjelaskan tentang naskah Sastra Gendhing ini. Memayu-hayuning bawana itu apa? Kita manusia wajib selalu menjaga alam dan harmoni kehidupan. Mangisis eseming budi maknanya apa? Kita wajib menjaga hubungan pergaulan dalam damai. Yang terakhir, Memasuh memalaning jagad”.
“Yaitu, manusia wajib menghindari kerusakan alam. Bahkan sedapat mungkin ikut menghadapi upaya perusakan dan ketidak-harmonisan kehidupan. Nanti biar Kanjeng Pangeran KP Siswanto (KP Siswantodiningrat-Wakil Pengageng Sasana Wilapa) menembangkan satu dari lima pupuh tembang Macapat dari Sastra Gendhing ini. Dan saat ada Macapatan pas tugur, tolong diisi dengan Sastra Gendhing,” pintanya.

Gusti Moeng juga menyinggung masalah perkembangan situasi dan kondisi terakhir di kraton, baik mengenai kegiatan “perlawanan” phak sebelah, rencana jumenengan-nata Sinuhun PB XIV Hangabehi maupun sosialisasi bantuan revitalisasi pemerintah di forum terbuka dan lengkap, Jumat (17/7) kemarin. Beberapa lokasi yang akan direvitalisasi disebutkan, termasuk rencana Presiden RI yang akan “meresmikan”.
Sementara itu, dalam wawancara dengan para wartawan KPH Edy Wirabhumi menjawab pertanyaan menjelaskan mengenai makna “Tri Prasetya”. Karena, piwulang luhur Sultan Agung ini tertulis pada baliho baru Sinuhun PB XIV Hangabehi, untuk mengganti yang sebelumnya bertema tentang bulan Sura. Semua baliho Sinuhun yang terpasang di beberapa titik, akan berganti tema dan pesan-pesan moral di dalamnya.

Menjawab pertanyaan iMNews.id, perubahan pintu-masuk ke dalam museum kraton seperti disebut dalam sosialisasi perencanaan revitalisasi kemarin, menurutnya sudah dibicarakan dengan pihak otoritas di kraton. Jawaban serupa juga diucapkan Gusti Moeng yang ditanya saat berjalan kembali ke kraton dari Pendapa Sitinggil Lor, siang tadi. Dia menambahkan, wilujengan dimulainya revitalisasi terpaksa maju.
“Iya, karena rencana Jumat (24/7) itu waktunya sangat pendek, dari Kemenbud RI minta maju. Maka, kami ajukan Selasa (21/7). Perubahan ini sudah kami kebarkan ke Kemenbud RI. Jadi, setelah wilujengan, semua pekerja akan langsung bekerja. Karena, waktunya hanya 4 bulan, Desember harus jadi,” ujar Gusti Moeng. “Ada 300-an pekerja yang akan nggarap 24 jam, agar Desember bisa selesai,” tutur KP Edy. (won-i1)
