“Pembekalan” Pusaka untuk Para Abdi-dalem Juru-kunci Makam/Astana
Surakarta, IiMNews.id – Kraton Mataran Surakarta “membekali” setiap abdi-dalem juru-kunci di berbagai makam/astana para leluhur Dinasti Mataram, dengan pusaka yang rata-rata berupa tombak dengan “landeyan” (tangkai) pendek. Di sela-sela rakor agenda “Methik Sekar” Wijaya Kusuma di Bangsal Smarakata, Sabtu (11/4), Gusti Moeng membagikan pusaka itu kepada para juru-kunci warga Pakasa Ponorogo.

Didampingi KP Bambang S Adiningrat (Ketua Pakasa Cabang Jepara) dan KP MN Gendut Wreksodiningrat (Ketua Pakasa Cabang Ponorogo), Gusti Moeng membagikan pusaka tombak masing-masing sebilah kepada 13 abdi-dalem juru-kunci astana/makam yang ada di wilayah Pakasa Cabang Ponorogo. Ada 3 lokasi makam/astana leluhur Dinasti Mataram yang ada di kompleks Batahara Katong, Kiai M Besari dan Djayengrono.

“Membekali” pusaka kepada setiap abdi-dalem juru-kunci yang sudah ditetapkan Kraton Mataram Surakarta dengan SK atau “kekancingan”, disebut meneruskan tradisi yang sudah dimulai para leluhur sejak awal zaman Mataram, bahkan sebelumnya. Diharapkan, penetapan abdi-dalem juru-kunci di semua makam leluhur Dinasti Mataram, akan ada figur yang bertanggung-jawab secara jelas merawat makam.

Gusti Moeng selaku pimpinan Bebadan Kabinet 2004 sudah beberapa kali membagikan pusaka kepada para abdi-dalem juru-kunci, terutama dari makam/astana yang ada di wilayah Pakasa Cabang Ponorogo. Dalam sambutannya, KPH Edy Wirabhumi (Pangarsa Pakasa Punjer/Ketua DPP MAKN) menegaskan, tradisi yang dilakukan di kraton ini sangat positif, akan ditularkan kepada kraton-kraton se-Nusantara.

“Pembekalan pusaka kepada para abdi-dalem juru-kunci ini, selama 200 tahun Mataram Surakarta zaman memang sudah menjadi kewajiban bagi ‘negara’ Mataram. Sekarang, kita rintis lagi untuk melengkapi tanggung-jawab bagi para abdi-dalem juru-kunci. Yaitu, membekali dengan pusaka. Contoh-contoh positif ini akan saya tularkan ke kraton-kraton se-Nusantara anggota DPP MAKN,” tutur KP Edy Wirabhumi.

Seperti diketahui, banyak sekali lokasi makam yang berkait dengan sejarah para leluhur Diasti Mataram dan perjalanan Kraton Mataram Surakarta, “lenyap” begitu saja dalam perjalanan waktu, terutama setelah kraton berada di aral republik mulai tahun 1945. Banyak faktor penyebabnya, tetapi salah satunya karena abdi-dalem juru-kunci “petugas negara” (monarki) turun-temurun itu sudah “putus”.

Karena “para petugas negara” dianggap sudah tidak ada karena berada di alam republik atau dianggap sudah tidak ada penerusnya, ini yang menyebabkan lahirnya berbagai penyimpangan. Dari pengamatan iMNews.id di lapangan, ada makam/astana yang statusnya jadi tidak jelas, sisa tanah makam lalu dibagi-bagikan para ahli-warisnya, tetapi banyak yang “dicaplok” (dikomplain) menjadi milik pihak lain.

Beruntung Pakasa Cabang Ponorogo, yang bersikap tanggap dan bertindak cepat menyelamatkannya. Karena, ada contoh makam/astana Pangeran Puger di Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus, kini terancam “dicaplok” pamong desa untuk dijadikan aset desa. Yuli Setiawan (Ketua Yayasan Pangeran Puger) menyebutkan, pihaknya ingin segera mendapatkan surat penegasan dari kraton, untuk menyelamatkan tanah makam.

Walau tanah makam punya potensi ancaman “penyerobotan”, tetapi Pakasa Cabang Kudus juga termasuk sigap menegambil langkah “penyelamatan”. Yaitu, dengan menyerahkan songsong dan tombak untuk dipasang di dalam cungkup makam Pangeran Puger, setahun lalu. Hal serupa dilakukan KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Kudus) di makam Kiai Glongsor, di luar trah Dinasti Mataram. (won-i1)
