Menbud Fadli Zon di Museum Kraton, Kunjungan “Membangkitkan” Kenangan (seri 2 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:April 5, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Menbud Fadli Zon di Museum Kraton, Kunjungan “Membangkitkan” Kenangan (seri 2 – bersambung)
EKSPRESI BERBEDA : Patung "Canthik Rajamala" yang ini, ada di ruang pamer bagian barat museum kraton. Ekspresinya berbeda lagi dibanding koleksi di ruang lain yang dijelaskan Gusti Moeng kepada Menbud RI Fadli Zon, Kamis (26/3) lalu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Andai Alur Bengawan Solo Dibendung, Bisa Jadi Objek Wisata Air

IMNEWS.ID – USULAN Gusti Moeng yang terbungkus dalam kalimat “dulu pernah ada yang mengusulkan, aliran Bengawan Solo di dekat Taman Jurug agar dibendung.  Karena, bisa menjadi ajang wisata air selain event pariwisata kirab gethek-perahu Jaka Tingkir yang digelar Pekan Syawalan, Taman Jurug”. Kalimat yang terucap dari Gusti Moeng kira-kira seperti itu, saat berdialog dengan Menbud RI Fadli Zon.

Walau dalam dialog sambil berjalan pada kunjungan siang itu (iMNews.id, 26/3) tidak langsung ditanggapi Menbud Fadli Zon, tetapi pasti ada memori baru yang ditangkap. Karena, informasi ini berkait dengan upaya mengoptimalkan potensi alam, objek fasilitas dan potensi seni budaya tradisi menjadi komoditas yang bisa menghasilkan pemasukan. Terlebih, hal yang diusulkan berkait dengan “ikon kota”.

Pengembangan objek wisata berbasis seni, budaya dan tradisi yang menjadi potensi luar biasa dimiliki Kota Surakarta, adalah peluang besar yang sangat terbuka untuk digarap dan dikembangkan, kini dan ke depan. Teknologi modern digital dan pasar modern global, bisa menjadi arah yang baik dan menjanjikan. Kurang lebih itulah yang menjadi fokus dan komitmen Menbud Fadli Zon “menggarap” kraton.

Dan ketika ada yang bersentuhan dengan potensi di luar kraton, itu adalah multi player effect yang diharapkan, karena pengembangan objek wisata harus memberi manfaat bagi masyarakat secara luas. Tetapi, kraton yang memiliki potensi modal basis seni, budaya, tradisi dan berbagai jenis situs bangunan fisik pendukungnya, harus menjadi berdaya dan bisa mendapat keuntungan untuk berswadaya mandiri.

REPLIKA RAJAMALA : Patung replika “Canthik Rajamala” yang berada di belakang Gusti Moeng dan beberapa pembicara sarasehan Soal UU Cagar Budaya No 11/2010 di Pesanggrahan Langenharjo beberapa waktu lalu, buatan terbaru, tahun 2004. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Hal yang disinggung Gusti Moeng tentang Canthik Perahu Rajamala dan aliran Bengawan Solo perlu dibendung untuk ajang wisata air, tentu pernah menjadi cita-cita Gembong Supriyanto. Karena, ketika gencar-gencarnya menggelar kirab gethek-perahu Jaka Tingkir di alur Bengawan Solo yang dekat lokasi gelar Pekan Syawalan, yaitu Taman Jurug, selalu menghadapi kendala ketersediaan air untuk “kirab”.

Di saat Gembong Supriyanto (iMNews.id, 4/4) aktif menggelar Pekan Syawalan dan kirab sesaji ketupat dengan tokoh ikon Jaka Tingkir bila selepas Lebaran di Taman Jurug, kondisi aliran air di Bengawan Solo menjadi pertimbangan tersendiri. Saat Lebaran berada di musim penghujan seperti sekarang ini, urusan “kirab” gethek tak menjadi kerisauan, tetapi bila Lebaran di saat kemarau menjadi pemikiran serius.

Pengalaman iMNews.id ketika masih bergabung dengan Harian Suara Merdeka, sering mengikuti sepak-terjang Gembong Supriyanto (alm) saat menangani event kirab gethek-perahu ini. Dalam kurun waktu sekitar 20-an tahun dari menjelang 1990 hingga lepas 2004, datangnya Lebaran pernah memasuki musim penghujang atau “rendheng”. Begitu pula, beberapa kali berada di musim kemarau yang “kekeringan”.

Ketika berada di musim “rendheng” seperti sekarang, apalagi ada cuaca ekstrem, kebutuhan air yang menggenangi aliran Bengawan Solo jelas lebih dari memadai, yang membuat kirab gethek-perahu bisa lancar. Tetapi saat memasuki musim kemarau, apalagi di puncak kekeringan bulan Agustus-September, kirab gethek-perahu di Bengawan Solo “bisa” menjadi “mustahil” bagi Gembong dan panitia Pekan Syawalan.

JIKA DIBENDUNG : Jika aliran Bengawan Solo yang dekat Taman Jurug atau di lokasi yang digunakan sebagai start dan finish kirab gethek Jaka Tingkir bisa dibendung, objek wisata air menjadi destinasi baru dan Pekan Syawalan pasti lebih meriah. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Tetapi, mantan kreator track sirkuit “Moto Cross” yang 10-an tahun memimpin EO “Pekan Syawalan” (1994-004) dengan maskot tokoh Jaka Tingkir itu, tak hilang akal jika Pekan Syawalan menghadapi musim kemarau kering. Untuk menjaga kredibilitas agar pertunjukan kirab gethek-perahu sebagai ikon event tetap tersaji, pengelola Waduk Gajah Mungkur (Wonogiri) diajak berkoordinasi untuk menggelontorkan air.

Berbekal alat komunikasi yang dipercayakan kepada petugas/penitia, penjaga pintu waduk diberi aba-aba untuk membuka pintu air, agar gelontorannya mengalir di Bengawan Solo dan melancarkan kirab gethek-perahu Jaka Tingkir. Waktu pergerakan air untuk sampai di lokasi start kirab, secara teknis tentu mereka diskusikan. Karena, kirab itu bisa tersaji di saat puncak akumulasi pengunjung di siang hari.

Namun, mungkin saja Gembong Supriyanto punya gagasan sebuah kreasi dan inovasi lebih baru/berkembang dari yang biasa disajikan setiap Pekan Syawalan. Karena, dalam berdiskusi dengan kalangan wartawan, dia pernah punya niat usul kepada pemerintah, agar membendung aliran Bengawan Solo di dekat Taman Jurug. Gagasan itu pernah disampaikan Gembong kepada Gusti Moeng, menjelang Pekan Syawalan tiba.

Gembong mulai sering datang ke Kraton Mataram Surakarta dan juga Mangkunegaran, ketika ingin mengaktualisasi tokoh pemeran Jaka Tingkir. Begitu memasuki awal era reformasi, perubahan pilihan itu mulai sering dilakukan, apalagi Gusti Moeng sempat tampil berorasi bersama para aktivis dalam demo anti rezim Orba, medio Mei tahun 1988. Gembong makin serius “melibatkan” kraton untuk memperkuat eventnya.

JADI MASKOT : Pencipta lagu “Bengawan Solo”, Gesang Martodihardjo semasa hidupnya pernah menjadi maskot “Pekan Syawalan” di Taman Jurug awal tahun 1990-an, karena asumsi dasarnya masih sebatas untuk memaknai sungai Bengawan Solo. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Memang, sejak awal Pekan Syawalan dicetuskan bersama kirab gethek dengan maskot tokoh sentral Jaka Tingkir, Gembong punya asumsi dasar yang fundamental berupa keramaian pasar, berbasis tradisi dan Budaya Jawa, di saat libur Lebaran, Bengawan Solo, Sanggar Gesang, ketupat Syawalan, gethek (perahu), makam Ki Ageng Butuh dan memori tentang bangunan mirip tugu petilasan Pujangga Ranggawartita.

Karena berbasis Budaya Jawa dan memori tentang upacara adat Gunungan dari beberapa hajad-dalem Garebeg di kraton, jelas menginspirasi Gembong sering datang ke kraton ketika hendak menggelar Pekan Syawalan. Sampai akhirnya di awal era reformasi bisa bertemu langsung dan berkonsultasi dengan Gusti Moeng, mendapat masukan soal kirab berbusana adat dan hadirnya tokoh pemeran Jaka Tingkir.

Selain muncul ke ruang publik secara terbuka karena tampil pada aksi demo anti rezim Orde Baru, Gusti Moeng menjadi sering didatangi Gembong karena juga dikenal sebagai anggota DPR RI dua periode, 1999-2004 dan 2009-2014. Sangat mungkin usulan soal “bendungan” di aliran “Bengawan Solo” disampaikan Gusti Moeng saat menjadi anggota Komisi III, yang tidak tepat suasana, waktu dan bidangnya.  

Namun, usulan itu ternyata dianggap rasional dan sempat disampaikan kepada Menbud RI Fadli Zon di museum kraton, Kamis (26/3) itu. Karena belum ditanggapi, mungkin belum sampai pada pemikiran lanjut dan pembahasan di internal Kemenbud atau kementerian lain yang membidangi. Terlepas dari tepat atau tidak gagasan itu diwujudkan, yang jelas ada pemikiran rasional untuk pengembangan objek wisata.

POTONGAN DAYUNG : Di kompleks Astana Pajimatan Butuh, Desa Gedongan, Plupuh, Sragen, masih tersimpan potongan dayung “gethek” sepanjang 2 meter. Di sinilah Jaka Tingkir, Raja Kraton Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya itu dimakamkan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Gembong mungkin belum benar-benar memahami antara Canthik Perahu Rajamala dengan ketokohan Jaka Tingkir adalah dua zaman sejarah yang jauh beda tahunnya. Karena, soal gethek Jaka Tingkir yang terkoneksi Makam Ki Ageng Butuh, adalah zaman putra Kebo Kenanga itu menjadi prajurit Kraton Demak, kemudian Raja Kraton Pajang abad 16. Sedangkan Canthik Rajamala, berada pada zaman Sinuhun PB IV abad 18.

Walau berbeda zaman yang rentang waktunya snagat jauh, tetapi gagasan Gembong mulai dari menciptakan “Pasar Kere” yang berganti “Pekan Syawalan”, patut dihargai. Karena, keramaian selepas Lebaran yang sudah menjadi ikon Taman Jurug dan Kota Surakarta itu, telah dikenal luas sampai jauh, bahkan mendunia. Mungkin pijakan dan landasan fundamentalnya (sejarah) perlu diperbaiki, dan dilanjutkan. (Won Poerwono – bersambung/i1)