Senin (23/3), Jumlah Wisatawan di Kraton Menembus Angka 1.500 Pengunjung

  • Post author:
  • Post published:March 24, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Senin (23/3), Jumlah Wisatawan di Kraton Menembus Angka 1.500 Pengunjung
"TANPA TITEL" : Melihat foto dan ucapan pada media baliho di atas mirip judul lagu yang terkenal di tahun 1970-an, "Tanpa Titel". Gambar 4 tokoh tanpa nama itu, mungkin maksudnya untuk promo, yang tak semasif propaganda sebelumnya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Ontran-ontran” di Sekitar Pergantian Tahta Ikut Menjadi Daya Tarik?

SURAKARTA , iMNews.id – Senin Wage (23/3), menjadi momentum capaian tertinggi dalam perolehan kunjungan wisata bagi objek wisata museum dan pendukungnya di kawasan Kraton Mataram Surakarta. Karena, dalam operasional sehari sejak dibuka pukul 09.00 – 16.00 WIB, jumlah pengunjung mampu menembus angka 1.500 wisatawan.

“Itu jumlah tertinggi dalam operasional museum dan kawasan kraton pendukung objek wisata selama dibuka kembali selama beberapa minggu ini. Dan angka tertinggi saat operasional, sebelum 3 bulan tutup karena ‘digembok’, beberapa waktu lalu. Ini bisa menjadi obat bagi semua mencari nafkah di sini,” ujar KRMH Suryo Kusumo W.

KRMH Suryo Kusumo Wibowo selaku Pengageng Museum Kraton Mataram Surakarta yang dihubungi iMNews.id Selasa (24/3) siang tadi lebih lanjut menyatakan, capaian kunjungan wisata tertinggi ini tidak hanya membuat senang lembaga pengelolanya. Tetapi semua unsur yang berkecimpung mencari nafkah di objek wisata kraton.

Dia mengakui, banyak unsur masyarakat dari lingkungan kraton yang ikut mencari nafkah saat museum dan objek wisata pendukung lain di kraton beroeprasi. Mereka semua orang luar yang tidak ada kaitan kekerabatan di kraton. Begitu pula hampir semua karyawan yang bekerja di museum, juga bukan bagian dari masyarakat adat.

BUKAN ITU : Membanjirnya para wisatawan di kraton sejak Minggu (22/3) dan puncaknya Senin (23/3) yang menurun Selasa siang (24/3) tadi, bisa disebabkan oleh berita sekitar pergantian tahta. Mungkinkah karena peran empat tokoh itu?. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Kalau mereka yang bekerja sebagai karyawan, punya tanggung-jawab yang sama dalam pengabdian atau seperti abdi-dalem. Mereka harus memiliki kesadaran dan kemampuan untuk menyesuaikan kerja adat sebagai abdi-dalem. Meskipun ada faktor skill sebagai pemandu wisata yang tentu beda dengan abdi-dalem lain,” ujar KRMH Suryo.

Di dalam museum, hanya ada karyawan pemandu wisata dan pegawai kebersihan serta manajemen. Tetapi yang mencari nafkah di objek wisata museum, terdiri dari berbagai unsur. Mulai dari jasa angkutan andong, becak, ojol, tukang foto, penjual cindera-mata, warung makan, penjual jajanan, jasa parkir dan sebagainya.

Ketika museum kraton beroperasi dan tiba hari libur nasional seperti Lebaran saat ini, tak hanya semua yang berkerumun mencari nafkah di objek wisatanya saja yang mendapat rezeki. Tetapi beberapa fasilitas pendukung lainnya juga ikut mendapat rezeki. Karena, banyak wisatawan datang ke Surakarta juga punya tujuan lain.

Misalnya, mereka dari kalangan pedagang yang membawa keluarga berwisata di kraton, tetapi sambil “kulakan” dagangan sandang ke Pasar Klewer. Bahkan, tidak hanya Pasa Klewer, dagangannya juga diperoleh dari beberapa pedagang di deretan Pasar Cinderamata. Deretan kios kacamatapun juga “kecipratan” rezeki.

AGAK PADAT : Jalan lingkar Baluwarti dari halaman Kamandungan, sejak Minggu (22/3) hingga Selasa (24/3) siang tadi tampak agak padat kunjungan wisatawannya. Jika ada perluasan objek sampai Kraton Kulon, perlu solusi untuk banyak hal. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Fasilitas penginapan seperti losmen dan hotel terdekat dan beberapa sentra kuliner juga banyak dicari wisatawan, terutama dari luar kota. KRMH Suryo Kusumo Wibowo tidak dengan tegas menyebut bahwa Kraton Mataram Surakarta menjadi daya tarik wisata terfavorit dan paling menarik, karena sedang menjadi sorotan publik.

Tetapi, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan belakangan ini bisa jadi karena kraton dan asetnya berupa museum sedang menjadi sorotan publik akibat “ontran-ontran” yang terjadi sekitar pergantian tahta. Dalam beberapa peristiwa heboh sekitar tahta, museum juga menjadi sorotan publik karena semua pintunya digembok.

Disebutkan, museum kraton yang dibuka kembali mulai Rabu (11/3) lalu merupakan kesempatan membuka layanan kunjungan kedua sebelum selama 3 bulan ditutup untuk masa berkabung akibat wafatnya Sinuhun PB XIII, 2 November 2025. Operasionalnya baru berjalan sekitar 2 tahun setelah lama ditutup akibat “Insiden MOM 2017”.

Dengan harga tiket sekitar Rp 25 ribu/orang, penghasilan kraton dari museum sebenarnya bisa untuk menutup kebutuhan rumah tangga kraton misalnya membayar rekening listrik dan air minum. Selebihnya, bisa untuk biaya perbaikan kecil-kecilan. Hasil pengelolaan beberapa lokasi lain, juga sangat bermanfaat.

JAUH BERBEDA : Pemandangan halaman menuju pintu masuk museum kraton hingga Rabu siang (24/3) tadi, dibanding saat dibuka di bulan Ramadan, Rabu (11/3), sungguh jauh berbeda, bahkan berkebalikan. Masih mending dibanding saat tutup 3 bulan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Hasil pengelolaan lokasi lain, misalnya dari Alun-alun Kidul, sebagian Alun-alun Lor dan Pendapa Pagaleran Sasana Sumewa. Tetapi, akumulasi dari semua operasional beberapa lokasi itu, mustahil bisa mencukupi kebutuhan hidup semua anggota keluarga besar putra/putri-dalem PB XII, putra/putri-dalem PB XIII dan pegawainya.

Gusti Moeng sempat menyebut, Bebadan Kabinet 2004 bekerja dan melakukan pelestarian sekaligus pemeliharaan semua aset bangunan dalam kawasan kraton seluas 94 hektare itu, hanya dari pengelolaan beberapa aktivitas di atas yang sangat jauh dari cukup. Akhirnya, kebutuhan renovasi/revitalisasi sulit dilakukan.

Ungkapan tandas Gusti Moeng di video YouTube yang viral beberapa waktu lalu, untuk menjawab pertanyaan publik dan beberapa oknum dari “seberang” yang “maido” soal posisinya “bekerja di dalam” tetapi juga tak bisa memperbaiki “yang rusak”. Gusti Moeng menegaskan, penghasilan kraton kecil, tetapi kewajibannya sangat besar.

“Memang betul, kami selama ini bekerja di dalam. Banyak sekali yang kami benahi dan perbaiki. Tetapi, kebutuhan untuk pemeliharaan dan perbaikan yang rusak, sangat besar. Sementara, penghasilan kami sangat kecil. Bantuan pemerintah tidak ada. Kami berswadaya mandiri untuk mengatasi sekenanya,” ujar tandas Gusti Moeng.

ANTUSIASME PENGUNJUNG : Sejarah Kraton Mataram Islam Surakarta dan peristiwa sekitar pergantian tahta belakangan ini, mungkin menjadi penambah daya tarik dan antusiasme pengunjung di hari libur Lebaran ini, seperti tampak di museum, siang tadi. (foto : iMNews.id/Dok)

Yang dialami Gusti Moeng bersama Bebadan Kabinet 2004, menjalankan kerja adat dan berjuang untuk menghidupi ratusan abdi-dalem dan sendana-garap (pegawai). Tetapi sama sekali tanpa bantuan pemerintah. Berbeda dengan saat Sinuhun PB XIII di dalam, bantuan hibah terus mengalir, tetapi kerusakan di sekitarnya tak berubah.

Perihal posisi KRMH Suryo Kusumo Wibowo yang belum lama ditetapkan sebagai Pengageng Museum, diharapkan menjadi awal perbaikan kesejahteraan bersama ke depan. Dia menjadi pembuka jalan bagi pengelolaan museum, sekaligus ASN BPK Wilayah X Jateng-DIY di kraton, sebagai modal perbaikan objek wisata kraton ke depan. (won-i1)