Telah Lama Hilang, Tercabik-cabik oleh Friksi Pergantian Tahta
IMNEWS.ID – PERISTIWA pembagian zakat-fitrah di lingkungan Kraton Mataram Surakarta, adalah hal biasa yang sama terjadi di kalangan masyarakat umum. Tetapi memang, tradisi di lingkungan kraton Islam justru menjadi contoh bagi masyarakat di luar kraton, karena pelaksanaannya terbalut dengan tata-cara Budaya Jawa. Tradisi itu sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu, sebagai hal yang wajib.
Tetapi, ketika mencermati pelaksanaan tradisi pembagian zakat-fitrah yang dilakukan Bebadan Kabinet 2004 di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Rabu (18/3), ada sesuatu yang berbeda. Bukan pada materi dan niatnya berbagi, tetapi lebih terasa sekali suasana atau atmosfernya. Itu terasa membedakan, mengingat sudah bertahun-tahun sejak 2004, ada persoalan serius yang telah “merusaknya”.

Sungguh luar biasa pemandangan dan suasana yang ditimbulkan, di acara pembagian zakat-fitrah di awal tahta Sinuhun PB XIV Hangabehi siang itu. Dalam pertemuan di penghujung Ramadan 2026 atau Pasa Tahun Dal 1959/1447 H itu, cerita tentang keluarga besar kraton yang sedang bersi-tegang dan bertengkar, nyaris tidak kelihatan. Heboh perselisihan di medsos juga tak melintas di pertemuan itu.
Ratusan (lebih 500-an) wajah-wajah ceria dan bersemangat, mulai hampir memenuhi separo Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa sisi timur. Di situ, pembagian zakat-fitrah digelar, berdekatan dengan bagian belakang Bangsal Pacekotan yang menjadi tempat transit barang dan pengambilan bingkisan Lebaran. Di teras Pendapa, juga penuh antrean para abdi-dalem yang bertandatangan untuk mendapatkan “kekucah”.

Momentum pengambilan gaji dan “kekucah” (hadiah) baik yang dulu rutin tiap atau tiga bulan serta “kekucah” atau fitrah tiap menjelang Lebaran, memang menjadi tradisi rutin. Tetapi, yang terjadi Rabu siang lalu terasa berbeda. Kehangatan dan keakraban berkerabat itu mulai memuncak saat Gusti Moeng berpidato. Di forum itu, semangat semua yang hadir seakan-akan “terbakar” oleh pertanyaan oratif.
Selain bertanya tentang kesetiaan pengabdian, Gusti Moeng juga pandai “membakar” semangat, walau hanya bertanya untuk sekadar mengabsen. Pertanyaan apa Senapati Mataram hadir? Jawabnya gemuruh “hadir….”. Dan Gusti Moengpun menimpali dengan kalimat “Wahhh… Senapati Mataram isih enom-enom, jumlahe akeh dhewe. Kudu luwih kuat, rosa. Aja kalah karo sentana-dalem sing rata-rata wis sepuh”.

Ceplas-ceplos ungkapan Gusti Moeng yang mengungkapkan beberapa hal yang umumnya merupakan masalah serius yang sedang terjadi di kraton bahkan diperbincangkan publik di medsos, sungguh bisa membangun suasana hangat dan akrab. Puncak suasana hingar-bingar penuh keakraban, terjadi saat beberapa orang mewakili elemennya, diminta ke depan untuk menerima bingkisan zakat-fitrah secara simbolis.
Karena, di saat itulah Sinuhun PB XIV Hangabehi yang tadinya duduk berjejer di kursi bertiga dengan Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan dan Wali Kota Salatiga dr Robby Hernawan SpOG dipersilakan bergabung Gusti Moeng. Di situ, selain Gusti Moeng sudah ada istri KGPH PA Tedjowulan, GKR Ayu Koes Indriyah dan Nyonya Retno Margiastuti (Ketua Pakasa Cabang Salatiga) yang juga istri Wali Kota Salatiga.

Peristiwa penyerahan bingkisan Lebaran secara simbolis oleh beberapa tokoh di depan itulah, puncak hingar-bingar suasana akrab dan segar terjadi. Siapa lagi kalau bukan Sinuhun PB XIV Hangabehi, yang punya ide spontan mencairkan suasana. Ketika 5 orang perwakilan elemen selesai menerima bingkisan, tak lama kemudian muncul orang keenam yang tak lain Sinuhun Hangabehi, ikut antre menunggu bingkisan.
Dan “pancingan” melawak Sinuhun PB XIV Hangabehi, langsung direspon Gusti Moeng dengan mengangkat box kontener berisi bigkisan untuk diserahkan kepada Sinuhun PB XIV Hangabehi. Respon cepat itu ditimpali dengan kata-kata, “Lo… Sinuhun ya antre ngersaaken bingkisan….?” Ketika mendengar dan melihat peristiwa itu, pecahlah tawa-riang gemuruh di Pendapa Pagelaran, termasuk KGPH PA Tedjowulan.

Ide spontanitas Sinuhun PB XIV Hangabehi itu ternyata “memancing” kesadaran GKR Ayu Koes Indriyah yang tidak kebagian menyerahkan bingkisan secara simbolis. Dengan cekatan ia maju tetapi berhadapan dengan semua yang berdiri berjejer di depan. Sambil berucap “Aku saiki wis dadi sentana lo….”, langsung disambut Gusti Moeng dengan menyerahkan bingkisan kepadanya, dan tawa lebar kian panjang.
Sendau-gurau yang seakan melepaskan beban dan terbebas dari rasa tertekan oleh suasana kehidupan di kraton yang mengendap bertahun-tahun, Rabu siang kemarin itu seakan benar-benar runtuh dan terhempas. Suasana silaturahmi dan kekerabatan keluarga besar di kraton yang terwakili oleh semua yang berkumpul siang itu, seakan benar-benar sirna dan keakraban tali silaturahmi itu seakan pulih kembali.

Ketika peristiwa pembagian bingkisan Lebaran Rabu siang itu dicermati lebih lanjut, faktor utamanya adalah Sinuhun PB XIV Hangabehi yang memang sebagai figur tokoh pemimpin familiar yang selalu menebar persahabatan, kekerabatan dan kehangatan. Karena dari beberapa kemampuannya bersahabat dan berkerabat, dia memiliki kemampuan mencairkan suasana atau bakat melakukan ide spontan yang lucu.
Faktor berikut, selain Sinuhun PB XIV, hampir semua yang hadir terkesan sudah mulai melepaskan beban psikis yang selama bertahun-tahun sejak 2004 atau bahkan lebih, menindihnya dalam ekspresi kehidupan di manapun khususnya di dalam kraton. Faktor berikutnya lagi, adalah hadirnya sosok Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan dan istri, meskipun “terbungkus” oleh SK Kemenbud RI selaku pelaksana Badan Pengelola.

Tetapi, melihat keakrabannya dengan Gusti Moeng maupun dengan Sinuhun PB XIV KGPH Hangabehi, kehadiran KGPH PA Tedjowulan yang ikut membuat suasana hubungan keluarga besar di kraton tampak begitu harmonis dan hangat. “Bungkus” SK Kemenbud RI yang menunjuknya sebagai pelaksana dan penanggungjawab Badan Pengelola Kraton Surakarta (BPKS), justru menambah intensitas peran pribadinya mengeratkan keluarga.
Bila “membaca” hubungan silaturahmi dan keakraban Rabu siang itu, terkesan sudah tidak ada lagi “luka” akibat peristiwa pergantian tahta 2004. Ekspresi riang yang hanya “diakibatkan” oleh beberapa gelintir tokoh, siang itu, seakan “menutupi semuanya”. Seakan menjadikan seluruh keluarga besar Dinasti Mataram Surakarta yang pernah terberai dan tercabik-cabik oleh friksi berbagai sebab, sudah berakhir.

Padahal, senyatanya masih ada potensi ancaman disharmoni dari sisa-sisa kelompok yang sebelumnya dianggap lebih melukai, yaitu peristiwa “Insiden MOM 2017”. Karena beberapa tokohnya, hingga kini masih berusaha “mengganas”, berkolaborasi dengan orang-orang yang memiliki “kecatatan serupa”. Terhadap kelompok orang-orang inilah, suasana yang terjadi Rabu siang itu, tak mungkin bisa terwujud.
Tetapi mungkin inilah proses lanjutan dari semua yang pernah terjadi di kraton, terutama yang mengekspresikan suasana tidak harmonis selama ini. Dinamika akan terus terjadi, dan selalu akan ada perubahan. Kini, ada beberapa tokoh yang dulu berseberangan, tetapi kini tampak harmoni sekali. Walaupun, KGPH Puger semakin menandaskan “posisinya” dan menjauh. Dan mungkin, ada yang tidak mau diajak “baik”. (Won Poerwono – bersambung/i1)
