Didukung Kemenbud RI, Bebadan Kabinet 2004 Bagikan 700-an Bingkisan Lebaran

  • Post author:
  • Post published:March 18, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Didukung Kemenbud RI, Bebadan Kabinet 2004 Bagikan 700-an Bingkisan Lebaran
SALAM BERSAHABAT : Sinuhun PB XIV Hangabehi punya kepribadian yang hangat dan bersahabat dengan siapa saja. Termasuk kepada abdi-dalem sepuh dari elemen Senapati Mataram, yang langsung menyambut dengan salam bersahabat seperti temannya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sinuhun PB XIV Hangabehi dan KGPH PA Tedjowulan Hadir Mencairkan Suasana

SURAKARTA, iMNews.id – Bebadan Kabinet 2004 Kraton Mataram Surakarta membagikan 700-an paket kepada semua kerabat kraton yang hadir, dan menyiapkan sekitar 200 paket yang belum hadir di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Rabu (18/3) siang tadi. Sinuhun PB XIV Hangabehi dan Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan hadir membuat suasana cair dan segar pada pembagian zakat-fitrah bagi sentana dan abdi-dalem itu.

Media iMNews.id mencatat, suasana pembagian “hal wajib” bagi Kraton Mataram Surakarta terhadap para sentana dan abdi-dalemnya, siang tadi, sungguh sangat berbeda dari kesempatan “pisowanan” dan pertemuan lain yang pernah terjadi di kraton, khususnya pada periode 2017-2022, bahkan hingga Lebaran tahun 2025 lalu. Karena, suasananya sangat jauh berbeda, bahkan bertolak belakang dengan tadi siang.

Kalau di waktu-waktu lalu, di setiap “pisowanan” dan bentuk pertemuan lain selalu diwarnai “keprihatinan” dan sikap serius dalam rangka perjuangan, yang terjadi siang tadi nyaris sirna semua. Suasana canda-tawa riang yang segar, menyelimuti hampir setiap wajah yang hadir. Bukan karena kebersamaan dan bentuk bingkisan Lebaran dan zakat-fitrah, tetapi ada faktor pemberi kenyamanan yang hadir.

Faktor pemberi kenyamanan yang hadir dan tingkahnya yang kocak sengaja ingin memancing tawa-riang itu, siapa lagi kalau bukan Sinuhun PB XIV Hangabehi. Ia berpura-pura antre menjadi penerima bigkisan, karena semua abdi-dalem yang dijadwalkan menerima secara simbolis sudah habis. Melihat Sinuhun yang antre, Gusti Moeng spontan mengangkat bingkisan untuk menyerahkannya, disaksikan semua yang hadir.

BERCANDA-RIANG : Sinuhun PB XIV Hangabehi tampak riang saat menyamar sebagai abdi-dalem, yang langsung disambut Gusti Moeng dengan mengangkat boks kontainer untuk diserahkan. KGPH PA Tedjowulanpun tertawa melihat ulah canda-riang itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kontan saja, pemandangan yang lucu dan menggoda itu langsung mengundang tawa-riang semua yang hadir. Termasuk beberapa tokoh yang berada di depan, sehabis bertugas menyerahkan bingkisan secara simbolis secara bergiliran. Tawa lebar spontan tentu datang dari Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan yang berada di dekat Gusti Moeng, menyaksikan tingkah lucu itu. Tak terkecuali beberapa tokoh lain.

Di situ ada Nyonya Retno Margiastuti (Ketua Pakasa Cabang Salatiga 2025-2030) dan suaminya, dr Robby Hernawan SpOG (Wali Kota Salatiga), GKR Ayu Koes Indriyah dan istri Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan beserta sejumlah sentana-dalem. Kehadiran KGPH PA Tedjowulan, selain mewakili Kemenbud RI membagikan bingkisan, juga memberi rasa nyaman, bahagia dan membuat suasana akrab dan rukun di kalangan kerabat.

“Ini Maha Menteri Panembahan Agung (KGPH PA) Tedjowulan juga hadir. Karena, beliau mewakili Kemenbud RI yang ikut mendukung pembagian bingkisan zakat-fitrah ini. Bahkan, ada para sentana lain yang ikut melengkapi pengumpulan bingkisan zakat-fitrah. Terima kasih, pak Wali Kota Salatiga beserta istri juga hadir di sini. Bukan Wali Kota Surakarta lo,” ujar GKR Wandansari Koes Moertiyah menggoda.

Mendengar hal yang disinggung Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA) dalam sambutannya, terdengar tawa sekitar 500 yang hadir di Pendapa pagelaran. Masih ada sejumlah abdi-dalem yang tidak bisa hadir untuk menerima bingkisan zakat-fitrah itu. Jumlah paling banyak disebut KGPH PA Tedjowulan dari Jawa Timur ada 200-an, selain dari Astana Pajimatan Imogiri dan Pengging 100-an dan 30-an.

SECARA SIMBOLIS : Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan mewakili Kemenbud RI menyerahkan secara simbolis bingkisan zakat-fitrah kepada abdi-dalem sepuh dari elemen Senapati Mataram, dalam pisowanan yang segar dan bersahabat, siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Undangan pembagian bingkisan zakat-fitrah pukul 12.00 WIB dan sekitar 15 menit kemudian dimulai dengan pembukaan berlanjut sambutan oleh Gusti Moeng. KP Siswantodiningrat bertugas menata-acara siang itu, dilanjutkan doa yang dipimpin abdi-dalem juru-suranata RT Irawan Wijaya Pujodipuro. Dalam sambutan singkat, Gusti Moeng sempat menyinggung banyak hal, KPH Edy Wirabhumi tampil melengkapi.

“Panjenengan semua pasti mirsani postingan di medsos. Di situ diunggah akte kelahiran dan surat nikah. La wong dinikahi bulan Juli (2002), anaknya sudah lahir di bulan September (2002). Berarti, saat dinikahi wanita itu sudah hamil (6 bulan). Dalam hukum Islam, bayi yang lahir itu tidak bisa bin dan binti. Tetapi hanya binti. Jadi, dia tidak bisa mewarisi tahta bapaknya,” tandas Gusti Moeng.

Menurut Gusti Moeng, Kraton Mataram Surakarta adalah kraton Islam meneruskan Mataram Islam yang didirikan Sinuhun Panembahan Senapati. Oleh sebab itu, pewaris tahta harus anak biologis dari seorang ibu yang mengandung setelah dinikahi resmi oleh Sinuhun Paku Buwana (PB). Karena saat dinikahi sudah mengandung, itu berarti tidak sah syarat untuk mewariskan tahta, apalagi ibunya tidak bisa menjadi prameswari.

Wawancara dilakukan Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan, yang sudah ditunggu para wartawan sejak kehadirannya. Begitu seluruh rnagkaian pembagian bingkisan selesai sekitar pukul 13.00 WIB, para wak media langsung mendekati KGPH PA Tedjowulan yang duduk berjejer dengan Sinuhun PB XIV Hangabehi dan Wali Kota Salatiga dr Robby Hernawan SpOG. Beberapa pertanyaan sekitar revitalisasi juga menyasar Sinuhun.

MELAYANI WARTAWAN : Duduk diapit Sinuhun PB XIV Hangabehi dan Wali Kota Salatiga dr Robby, Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan melayani wawancara para wartawan yang meliput acara pembagian bingkisan zakat-fitrah di Pendapa Pagelaran, siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Menjawab pertanyaan, KGPH PA Tedjowulan menyatakan, kerja-bhakti yang dilakukan oleh beberapa elemen termasuk TNI dalam tiga hari (10-12/3), untuk membabat semak-belukar yang membuat Kraton Kulon mirip belantara. Kompleks Kraton Kulon dibersihkan dalam kerja-bhakti, karena segera akan dilakukna pemetaan dan diukur. Selain bangunan direvitalisasi, lingkungan akan ditata menjadi objek kunjungan.

“Jadi, ya hanya dibersihkan saja dari semak-belukar. Tidak ada barang-barang atau benda berarti dari sana. Kraton Kulon dibersihkan, karena akan direvitalisasi. Tindakan awal dibersihkan dulu, lalu dipetakan dan diukur untuk menyusun perencanaan. Karena, selain bangunannya direhabilitasi dan bisa difungsikan, juga ada lingkungan yang akan ditata sebagai pendukung objek kunjungan baru,” ujarnya.

Karena Sinuhun berada di samping KGPH PA Tedjowulan, ada pertanyaan yang langsung ditujukan kepadanya untuk mendapatkan konfirmasi. Yaitu mengenai posisi Sinuhun PB XIV Hangebhi yang disebut KGPH PA Tedjowulan akan menjadi “pengawas” dalam tindak lanjut pekerjaan revitalisasi. Pertanyaan soal pembersihan yang disebut-sebut termasuk ada gbenda-benda berharga, dijawab Sinuhun PB XIV “tidak ada”.

Menurutnya, di situ hanya ada bangunan penting bersejarah yang lama rusak parah dan selebihnya tertutup semak belukar mirip hutan belantara. Karena, kondisi itu sudah terbengkalai puluhan tahun tetapi nyaris tidak diketahui publik karena tempatnya di belakang. Menurut Gusti Moeng, dirinya berada di dalam kraton sejak 2004 hingga kini, tetapi terkesan mendiamkan saja, karena kraton tidak punya biaya.

SUASANA ANTREAN : Suasana antrean para sentana dan abdi-dalem garap (pegawai) kraton, saat pembagian bingkisan zakat-fitrah yang digelar Bebadan Kabinet 2004 di teras timur Pendapa Pagalearan Sasana Sumewa , siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Penjelasan Gusti Moeng mengenai kondisi di Kraton Kulon yang terbengkalai cukup lama mirip kawasan korban perang itu, disampaikan melalui video Youtube yang beredar luas. Bebadan Kabinet 2004 yang terkesan disalahkan karena berada di dalam kraton sejak 2004 tetapi lokasi itu tidak terjamah perbaikan, karena kraton memang tidak punya dana. Walau begitu, banyak yang sudah diperbaiki mandiri.

Dalam berbagai kesempatan, Gusti Moeng menegaskan, negara punya kewajiban untuk merawat dan memelihara kraton sesuai konstitusi, pasal 18 ayat 2 UUD 45. Dari situ, lahir SKB Tiga Menteri yang membuat terbitnya Pepres No 29 tahun 1964. Tetapi, negara (pemerintah) tidak pernah peduli dengan perintah konstitusi itu. Menurutnya, baru di era Presiden Prabowo ini, pemerintah mulai peduli. (won-i1)