Semangat dan Optimistik “Malem Selikuran” Perdana di Era Sinuhun PB XIV (seri 3 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:March 14, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Semangat dan Optimistik “Malem Selikuran” Perdana di Era Sinuhun PB XIV (seri 3 – bersambung)
BUPATI LAMPAH : KPH Bimo Djoyo Adilogo selaku "tindhih" pisowanan di Bangsal Smarakata saat memberi "dhawuh" kepada KPP Haryo Sinawung Waluyoputro sebagai "Bupati Lampah", untuk segera memimpin prosesi Malem Selikuran berangkat kirab. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Potensi Tantangan Utamanya Datang dari “Kelompok Bebal”

IMNEWS.ID – PADA dua seri artikel sebelumnya (iMNews.id, 12-13/3) dilukiskan perkembangan suasana terakhir di kraton, termasuk sikap elemen Pakasa yang terbesar di antara berbagai elemen masyarakat adat. Peta potensi tantangan riil menjadi kelengkapan untuk memudahkan pemahaman yang perlu dibuka, karena era tahta Sinuhun PB XIV Hangabehi ini sudah jauh berbeda dari suksesi 21 tahun lalu.

Di era Sinuhun PB XIV Hangabehi jumeneng nata, berada di era “Gen Z” atau zaman generasi usia milenial, yang trend gayanya fenomenal, hendak dijadikan patron peradaban zaman. Salah satu cirinya, adalah begitu “aware” terhadap teknologi internet/informasi digital, utamanya platform medsos. Mudah-mudahan salah kalau disebut, rendahnya standar etika publik (sopan-santun) juga menjadi cirinya.

Tetapi, fakta riil sudah menunjukkan hal yang tak perlu diragukan lagi, karena terjadi berulang-ulang dengan ekspresi meyakinkan, tanpa ragu dan tak pernah merasa bersalah. Viral video yang membanjir memperlihatkan sikap dan ekspresi begitu rendah standar etika publik yang dimiliki, seakan menjadi pembenaran sikap dan sifat dasar gaya “Gen Z” milenial yang sudah menular ke sekelilingnya.

Prosesi kirab upacara adat Mataram menyambut peristiwa religi yang disebut “Malem Selikuran’, jelas merupakan upacara keagamaan yang sudah menjadi produk budaya dan tradisi adat khas keturunan Dinasti Mataram Surakarta. Tetapi ketika ditampilkan dengan mobil mewah dipayungi songsong khas Raja, dikawal prajurit kraton dan dipandu korsik drumband kraton, tentu mengundang tanda tanya besar.

PERSIAPAN TING : Persiapan menata barisan prosesi arak-arakan ritual hajad-dalem “Malem Selikuran”, tampak seperti pesta cahaya “ting” (lentera) di halaman Bangsal Marcukunda, Senin malam (9/3). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Beberapa pertanyaan besar itu, kurang lebih dimana nilai estetika dan etika Kraton Mataram Surakarta sebagai sumber Budaya Jawa yang adi luhung itu, ketika songsong Raja digunakan untuk memayungi mobil mewah tertutup rapat yang berjalan lebih 1 KM? Bagaimana ceritanya bunyi Korsik Drumband prajurit digunakan untuk memandu jalannya mobil yang konon ditumpangi seorang pemimpin/penjaga budaya?

Logika apa yang hendak disusun dan disampaikan kepada publik peradaban zaman, ketika prajurit khas Kraton Mataram Surakarta berjalan kaki mengawal mobil mewah yang sedang berjalan dari kraton menuju Taman Sriwedari?. Dasar historis-kultural dari mana panduannya, ketika kirab prosesi hajad-dalem “Lailathul Qadar” naik mobil mewah, yang dipayungi barisan pendukung berbusana adat berjalan kaki?.

Kalau kemudian ada penjelasan dari pihak panitia untuk menjawab pertanyaan dari publik, bahwa hadirnya mobil (mewah) yang dipayungi songsong dalam prosesi kirab “Malem Selikuran” ke Taman Sriwedari sebagai bentuk menyesuaikan zaman modern, perlu dirunut jatidiri yang menjawab. Jawaban itu bisa “dibenarkan”, karena perilaku atau “ide aneh” itu dianggap hanya berlaku di lingkungan kelompoknya.

Kalau kelompok yang menggelar upacara adat “Malem Selikuran” mengklaim sebagai tradisi Kraton Mataram Surakarta yang mengadopsi unsur-unsur modernitas untuk lingkungan kelompoknya (terbatas), faktanya jelas disajikan secara terbuka untuk konsumsi publik. Ada unsur kesadaran (kesengajaan) untuk menyajikan format upacara adat khas kraton, dalam wujud yang benar-benar menjatuhkan “kewibawaan”.

SRI RADYA LAKSANA : Ting (lentera) bergambar simbol Kraton Mataram Surakarta, “Sri Radya Laksana” ini, adalah hasil “sanggit” inovatif yang terpaksa beberapa kali dilakukan kraton. Karena, “ting” yang asli sudah rusak dimakan rayap. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Harkat dan martabat serta kewibawaan dipertaruhkan dalam sajian upacara adat “Malem Selikuran” seperti itu. Ketika dianalisis lebih lanjut, ini hanya bisa dilakukan karena beberapa alasan. Pertama, (mungkin) oleh orang-orang atau kelompok yang tidak paham sejarah, paugeran adat kraton dan Budaya Jawa. Kedua, (mungkin) oleh orang-orang atau kelompok yang paham tetapi sengaja “bunuh diri”.

Ketiga, dilakukan oleh orang-orang atau kelompok yang memang ingin merusak citra, sejarah Mataram Surakarta, paugeran adat kraton dan merusak nilai-nilai Budaya Jawa. Kemungkinan terakhir atau gabungan dari ketiganya, sangat rasional menjadi pelaku. Yang jelas, secara citra visual, sajian itu merupakan ekspresi individu atau kelompok yang berstandar etika publik rendah sekali, atau bahkan tak punya.

Kemungkinan yang terakhir itulah memang menghendaki “bunuh diri” karena putus-asa akibat sudah terpojok, kedoknya terungkap dan gagal mencapai tujuan yang menjadi misinya. Kemungkinan terakhir yang terwujud dalam ekspresi “Malem Selikuran” di Taman Sriwedari itu, bisa disebut atau dimaknai sebagai upaya “bunuh diri”. Yaitu memang sudah niat atau sengaja membuat malu dan menjatuhkan martabat semuanya.

Ketika dicermati lebih dalam, di satu sisi ada niat untuk “memaksa” lawan “jatuh bersama dan menanggung malu bersama” atau “sampyuh”. Tetapi, di sisi lain tanpa disadari pihak yang mengajak “jatuh bersama”, semakin tampak pemandangan yang membedakan antara “keduanya” secara kontras. Bahkan, dari serentetan peristiwa di kraton belakangan ini, ditunjukkan perbedaan yang justru terjadi di dalam kraton.

LAPOR DAN MENYERAHKAN : KPP Haryo Sinawung Waluyoputro selaku “Bupati Lampah” utusan-dalem yang membawa uba-rampe hajad-dalem “Malem Selikuran”, melapor dan menyerahkan kepada takmir Masjid Agung untuk mendoakan, Senin malam (9/3). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kalau dalam waktu yang panjang sebelumnya fenomena perbedaan sikap, cara berpikir dan perilaku menyimpangkan adat, tradisi, budaya dan tata-nilainya terjadi di luar kraton, melalui momentum pergantian tahta 2025 fenomena itu justru terjadi di kraton. Segala bentuk penyimpangan paugeran adat, tradisi dan tata-nilai dalam Budaya Jawa, secara jelas justru terjadi di lingkungan masyarakat adat kraton.

Prosesi arak-arakan ritual religi hajad-dalem “Malem Selikuran”, menjadi contoh jelas bagaimana para tokoh masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta melecehkan tradisi adatnya sendiri. Ini menjadi fenomena kuat adanya potensi perusakan serius, terhadap segala bentuk tata-nilai yang selama ini dijunjung tinggi di lingkungan masyarakat adat Mataram Surakarta. Akankah fenomena ini menular?.

Agaknya, “seliar” sikap terbuka masyarakat adat dari anggota Catur Sagatra (Kraton Jogja, Kadipaten Mangkunegaran dan Kadipaten Pakualaman), tak akan meniru fenomena penyimpangan seperti itu atas nama apapun. Meskipun, di antara anggota serumpun dalam Dinasti Mataram itu juga sudah melakukan “sanggit” inovatif dalam bentuk lain yang lebih halus. Ada dua yang setidaknya juga sudah “menyimpang”.

Yang pertama adalah Kraton Jogja, melakukan “sanggit lakon” dengan menobatkan puterinya sebagai “GKR Mangkubumi”, yang tidak lazim bagi keturunan Dinasti Mataram. Sementara, Kadipaten Mangkunegaran juga mencoba “mendegradasi” makna Pendapa Agung. Karena pendapa kebanggaan pemberian Sinuhun PB III, yang sakral sebagai tempat upacara tingalan-jumenengan, sudah menjadi “gedung pertemuan”.  

PERNAH ABSEN : Pemandangan bersalaman setelah upacara serah-terima uba-rampe wilujengan hajad-dalem “Malem Selikuran” di topengan Masjid Agung seperti ini, baru beberapa kali kembali tampak, setelah lama “hilang” karena berbagai alasan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Memang terkesan tinggal masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta, yang selama ini setia mendukung Bebadan Kabinet 2004 dan Lembaga Dewan Adat yang dipimpin Gusti Moeng, yang berjalan tepat di relnya (On The Right Track). Walau harus diakui, ada beberapa “sanggit gending”, “sanggit” perang, kiprah, “sandangan” dan lainnya yang inovatif, tetapi bukan pada hal-hal yang sensitif melanggar tata-nilainya.

Itu semua bisa disebut sudah masuk ke dalam wilayah perubahan, “Nut jaman kelakone”. Tetapi, kalau perubahan atau “sanggit” inovatif itu melewati batas tata-nilainya, tentu ada risiko besar yang harus ditanggung. Yaitu semakin kelihatan sumber penyimpangan/pelanggaran tata-nilai itu, justru dari lingkungan  kraton sendiri. Bahkan, para tokoh pentingnya yang mempelopori. Sungguh ironis!. (Won Poerwono – bersambung/i1)