Semangat dan Optimistik “Malem Selikuran” Perdana di Era Sinuhun PB XIV (seri 1 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:March 12, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Semangat dan Optimistik “Malem Selikuran” Perdana di Era Sinuhun PB XIV (seri 1 – bersambung)
KEMBALI KE HABITAT : Setelah rezim Orde Baru runtuh, ritual "Malem Selikuran" ditarik kembali ke habitatnya di Masjid Agung. Sebelum doa wilujengan di pusatkan di masjid, prosesi arak-arakan "ting" berkirab keliling Baluwarti. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Banyak Sinyal Disampaikan, Ekspresi Perkembangan Terakhir di Kraton

IMNEWS.ID – Senin Kliwon (9/3/2026), Bebadan Kabinet 2004 menggelar upacara adat “Malem Selikuran”, untuk memperingati “Turunnya Wahyu Illahi” pada malam tanggal 21 Ramadan Tahun 1447 H yang tepat malam 21 Pasa Tahun Dal 1959. Ritual itu menjadi peristiwa budaya/adat/tradisi pertama yang akan tercatat dalam sejarah, karena terjadi di awal Sinuhun PB XIV Hangabehi jumeneng nata (13 November 2025).

Sejarah juga akan mencatat bagaimana upacara adat religi menyambut “Lailathul Qadar” atau “Malam Seribu Bintang” itu, masih berada di ujung friksi pergantian tahta, sepeninggal Sinuhun PB XIII (iMNews.id, 2/11/2025). Karena bersamaam di malam itu, juga ada duplikasi ritual bertema sama, tetapi digelar di tempat lain (Sriwedari), diwarnai kirab prajurit memandu tokoh yang “naik mobil mewah”.

Memang banyak sinyal terpancar dari pelaksanaan upacara adat menyambut hari besar keagamaaan yang dilakukan Kraton Mataram Islam Surakarta, malam itu. Itu semua merupakan ekspresi dari perkembangan suasana terakhir yang terjadi di kraton, seiring proses perjalanan pergantian tahta. Karena, tahta yang berusaha direbut pihak yang “mengaku lebih berhak”, terekspresi ke beberapa aktivitas lain.

Fakta riil yang bisa dimaknai sebagai peristiwa budaya/adat/tradisi resmi, adalah upacara adat “Malem Selikuran” yang digelar dengan prosesi kirab mengelilingi jalan lingkar dalam Baluwarti, lalu berakhir di kagungan-dalem Masjid Agung, Senin malam itu. Terlebih, upacara adat itu digelar Bebadan Kabinet 2004 di bawah naungan LDA pimpinan Gusti Moeng, yang punya legal standing jelas, resmi dan sah.

UBA-RAMPE : Apapun nama upacaranya, simbol ritual religi seperti “Malem Selikuran” jelas lebih rasional digelar di Masjid Agung karena ada doa wilujengan untuk semua yang menjadi uba-rampe upacara adat keagamaan khas Mataram Islam itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Akhir prosesi upacara adat “Malem Selikuran” di Masjid Agung, justru perlu dipahami sebagai kembalinya ritual yang sudah dimulai sejak zaman Kraton Demak (abad 15) itu, kembali ke “habitatnya” semula. Karena, ketika pernah populer digelar di Taman Sriwedari dengan nama “Maleman Sriwedari”, bisa disebut “kreasi” Sinuhun PB X untuk mempopulerkan “Kebon Raja”, taman rekreasi untuk rakyat.

Prosesi kirab mengelilingi jalan lingkar di dalam tembok Baluwarti sejauh 1,2 KM, setidaknya memberi hiburan sekaligus mengedukasi masyarakat di lingkungan kraton yang sudah masuk ranah publik secara luas. Tetapi di zaman sebelum kraton menjadi bagian NKRI (17/845), lingkungan warga Baluwarti berisi/dihuni berbagai elemen masyarakat adat yaitu putra-dalem, kerabat sentana dan abdi-dalem pegawai kraton.

Perkambangan komposisi kependudukan di dalam tembok Baluwarti sejak kraton menjadi bagian NKRI, menjadi ilustrasi yang menarik. Karena pelan-pelan komposisi penghuninya berubah 180 derajat, bahkan lebih. Karena, penghuni yang lebih berhak berdasar keterkaitan adat di kraton, justru pelan-pelan tersingkir ke luar. GPH Nur Cahyaningrat (putra-dalem) Sinuhun PB XII, menjadi contoh yang tersingkir itu.

Komposisinya menjadi sangat beragam, karena ada kompleks bekas kediaman “pangeran putra” bisa berpindah tangan dan memiliki sertifikat Hak milik (SHM). Padahal, kawasan kraton seluas 90 hektare itu, logikanya menjadi kawasan yang dilindungi UU Cagar Budaya No 11/2010. Tak hanya itu, yang dihuni dengan model magersaripun, sebelum 2004 sudah dihuni orang lain tak ada kaitan adat dengan kraton.

PESONA MALAM : Dua bangunan yaitu Bangsal Marcukunda dan menara Panggung Sangga Buwana, saat menjadi ajang ritual “Malem Selikuran”, selalu memberi pesona indah saat simbol-simbol penerangan khas malam “Lailathul Qadar” bercahaya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ilustrasi itu juga mengingatkan bagaimana pelaksanaan ritual “Malem Selikuran”, ditarik kembali ke ke Masjid Agung sejak awal tahun 2000-an. Kembalinya ritual dari Taman Sriwedari itu, disebut-sebut dalam pembacaan riwayat lahirnya upacara adat itu oleh KP Husodonagoro. Disaksikan sekitar dua ribu yang “sowan” di Masjid Agung, Senin malam, alasan kembalinya Malem Selikuran ditunjukkan secara jelas.

“Amargi kawontenan ing Taman Sriwedari sampun risak lan sampun mboten wonten malih Kebon Raja, ingkang njalari tatacara upacara Malem Selikuran dipun-wangsulaken dateng kagungan-dalem Masjid Ageng. Sakawit, Sinuhun PB X mboyong  wilujengan hajad-dalem Malem Selikuran, kangge ngregengaken Kebon Raja, minangka papan rekreasi para kawula nagari Mataram Surakarta,” sebut KP Husodonagoro.

Mengenai Taman Sriwedari yang disebut “sudah rusak” dan Kebon Raja yang isinya kebon binatang memang sudah tidak ada lagi, itu memang fakta riil dan menjadi alasan rasional mengapa ritual “Malem Selikuran” ditarik kembali ke kraton. Kini, bahkan sudah berjalan lebih 20 tahun, malam “Lailathul Qadar” digelar kembali dengan prosesi kirab keliling Baluwarti dan dipusatkan didoakan di Masjid Agung.

Hal yang disebut “sudah rusak”, karena Taman Sriwedari sudah tidak tampak sebagai taman. Melainkan kawasan yang berisi berbagai macam bangunan di sekitar telaga atau Segaran, peninggalan Kebon Raja karya Sinuhun PB X (1893-1939). Gapura pintu masuk juga sudah bukan wujud aslinya, dan di tengah kawasan taman telah menjadi bangunan calon masjid, tetapi “mangkrak” bertahun-tahun karena “salah prosedur”.

GAPURA DAN KERANGKA : Gapura Taman Sriwedari hasil rekayasa rezim pemerintahan reformasi dan kerangka bangunan pendukung sebuah masjid yang mangkrak. Keduanya menjadi simbol hilangnya jejak Kebon Raja dan kerusakan karya Sinuhun PB X itu.(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sinyal berikut yang dilempar Gusti Moeng melalui “Malem Selikuran” perdana di masa Sinuhun PB XIV Hangabehi jumeneng nata itu, adalah penjelasan soal cirikhas menunya yang disajikan untuk semua yang hadir dan “ngalab berkah”. Menurutnya, bungkusan berisi nasi “wuduk” (gurih) itu benar-benar dibagikan sesuai makna, “Sawise kadonganan, nuli kabage kang warata” atau “dibagi-bagikan merata”.

“Ini yang memang sesuai dengan bunyi ‘dhawuh’ seperti yang disampaikan KPP Haryo Sinawung Waluyoputro tadi. Jadi, nasi khas Malem Selikuran itu dibagi-bagikan oleh petugas yang ditunjuk. Tetapi, walau bunyi dhawuhnya sama ‘nuli kabage kang warata’, tetapi kalau ngalab berkah Gunungan dalam Grebeg Mulud atau yang lain, ya ‘digrebeg’ atau dirayah (dijarah). Karena namanya grebeg,” tunjuk Gusti Moeng.

SALAH PROSEDUR : Karena dimulai dengan “kesalahan prosedur” dalam beberapa hal, maka proses “rusaknya” Taman Sriwedari dan “hilangnya” Kebon Raja, menyisakan calon bangunan masjid yang mangkrak yang selamanya akan dianggap “cacat”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sinyal lain yang tidak terasa sudah dikembalikan ke dalam tatacara upacara adat Malem Selikuran, adalah adanya sajian pembacaan ayat suci Alqur’an. Karena selama ritual itu digelar di Taman Sriwedari lebih 20 tahun hingga sebelum rezim Orde Baru berakhir tahun 1998, tradisi “Maleman Sriwedari” berjalan tanpa sajian bacaan ayat suci. “Maleman Sriwedari” lebih dulu lenyap, Malem Selikuran ditarik.

Namun, seiring berjalannya waktu, peristiwa pergantian tahta tahun 2004 menyisakan friksi yang melibatkan rezim kekuasaan melakukan campur tangan dari luar. Lambat-laun friksi di dalam kraton itu menjelma jadi kegiatan “duplikasi” sejumlah upacara adat di kraton, terutama Malem Selikuran yang dimunculkan kembali di Taman Sriwedari. Bebadan Kabinet 2004, waktu itu dianggap “oposisi”. (Won Poerwono – bersambung/i1)