Salatiga Kota “Penting” yang Nyaris Kehilangan “Jatidiri”

  • Post author:
  • Post published:February 25, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Salatiga Kota “Penting” yang Nyaris Kehilangan “Jatidiri”
DIALOG DAN DISKUSI : Gusti Moeng menjelaskan banyak hal dalam dialog dan diskusi tentang "Salatiga", dengan tim dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkot Salatiga, juga referensi yang disampaikan Ki Dr Purwadi, Rabu (25/2) siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Tempat Lahir” Kadipaten Mangkunegaran dan Pakualaman

SURAKARTA, iMNews.id – Kota Salatiga yang selama 80 tahun sejak NKRI lahir 17 Agustus 1945 hanya dikenal sebagai kota “berhawa sejuk”, nyaris kehilangan jatidirinya sebagai “kota penting” dalam lintasan sejarah 200 tahun Mataram Surakarta (1745-1945). Karena (Pura) Kadipaten Mangkunegaran dan (Pura) Kadipaten Pakualaman secara administratif lahir dalam perjanjian di wilayah kota itu.

“Perjanjian ‘Salatiga’ (Kalicacing, 17/3/1757) adalah perjanjian yang secara administratif melahirkan Kadipaten Mangkunegaran (Surakarta). Dan Perjanjian Tuntang (17/3/1813) melahirkan Kadipaten Pakualaman (Jogja). Fakta ini yang selama ini tidak diungkap ke ruang publik. Padahal ini penting sekali, yang menempatkan betapa pentingnya Kota Salatiga,” ujar Ki Dr Purwadi, Rabu (25/2).

Ruang rapat kantor Badan Pengelola (BP) di kompleks Kamandungan, siang tadi menjadi ajang persentasi soal sejarah latar-belakang Kota Salatiga. Dari sisi kesejarahan, Ki Dr Purwadi diundang untuk menjelaskan sejumlah buku yang menjadi referensi dan sumber sejarah Kota Salatiga. Karena, ada tim penyusun naskah dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkot Salatiga sedang “sowan” Gusti Moeng.

“Saya hanya mendampingi Gusti Moeng untuk membantu menjelaskan secara khusus tentang lahirnya Kota Salatiga. Ini saya bawakan belasan judul buku yang semuanya membahas secara khusus dan tersirat tentang Kota Salatiga. Mudah-mudahan bisa memberi manfaat. Karena, memang selama ini Kota Salatiga tidak pernah dibuka menjadi pengetahuan edukatif yang fair. Ada kesan tertutup,” ujar Ki Dr Purwadi.

KARTASURA SURAKARTA : Ki Dr Purwadi yang mendampingi Gusti Moeng saat berdialog dan berdiskusi dengan tim dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkot Salatiga, membawa belasan judul buku berisi tentang “Salatiga”, Rabu (25/2) siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pernyataan peneliti sejarah yang juga Ketua Lokantara Pusat di Jogja itu, dituturkan kepada iMNews.id, Selasa (24/2) kemarin. Rabu siang tadi, bertempat di ruang rapat BP Kompleks Kamandungan, ia menggelar belasan judul buku di meja ruang rapat. Sambil meneliti satu-persatu koleksi buku Ki Dr Purwadi, tim dari Pemkot Salatiga yang dipimpin Henni Mulyani mendengarkan penjelasan Gusti Moeng.

“Sambil mengumpulkan informasi dari pak Pur (Ki Dr Purwadi), saya minta waktu untuk mencari dokumen status pendapa pesanggrahan/petilasan itu. Tetapi kalau memang dulu fungsinya pesanggrahan, pasti milik kraton. Dan di wilayah Salatiga ke barat dan ke utara (pantura-Red), hampir semuanya dulu milik kraton. Kemudian, saya tidak tahu mengapa jadi milik pribadi orang lain,” ujar Gusti Moeng.

Dialog dan diskusi antara tim 4 orang yang dipimpin Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkot Salatiga itu, menjadi dinamis dan menarik. Karena, saat Ki Dr Purwadi menceritakan latar-belakang sejarah dan anggota tim melukiskan fakta di lapangan saat ini, Gusti Moeng lalu menyebut kisah yang pernah terjadi dari sisi perjalanan para tokoh pemimpin Kraton Mataram Surakarta saat itu.

Misalnya, karena Salatiga dikenal punya hawa sejuk, menjadi alasan Sinuhun PB X yang membangun (mirip) vila Madusita di kawasan itu. Raja butuh tempat khusus bersama “prameswari”, ketika hendak menurunkan benih calon pemimpin Mataram di masa depan. Ki Dr Purwadi meneruskan, sejak zaman Kraton Pengging bahkan Demak, Salatiga sudah menjadi tempat multifungsi untuk kepentingan lebih luas.

BERFOTO BERSAMA : Mengakhiri kunjungan studi literasi di Kraton Mataram Surakarta, tim dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkot Salatiga berfoto bersama Gusti Moeng dan Ki Dr Purwadi yang mendampingi dalam diskusi, siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Raffles (Inggris) bahkan Hitler (Jerman), sudah pernah singgah di Salatiga antara 1-2 tahun. Jadi, kota ini sudah terpengaruh pengetahuan dan paham dari barat. Maka, Salatiga layak disebut sebagai Kota Administrasi, Kota Diplomasi, Kota Mediasi dan Kota Literasi. Dalam perkembangannya, pengaruh dari barat khususnya dari Jerman itu yang menenggelamkan jatidiri tradisi Salatiga”.

“Kalau dari latar-belakang sejarah, seni-budaya dan tradisi masyarakat Salatiga adalah Surakarta ‘banget’. Di sini tempat diplomasi yang melahirkan Kadipaten Mangkunegaran dan Pakualaman. Di sini dulu dikenal notaris banyak dan sibuk sekali melayani wilayah sangat luas. Di sini juga jadi tempat menulis karya-karya sastra, di antaranya Pujangga Jasadipoera,” tunjuk Ki Dr Purwadi mencontohkan.

Baik Henni Mulyani SE MAP MA maupun anggota timnya mengungkapkan, selain mencari data dokumen status asal-mula mengenai pesanggrahan, juga secara tidak langsung banyak ditanyakan hal-hal ringan yang menyangkut jati diri Kota Salatiga. Misalnya asal-usul nama “Salatiga”, dari salah satu buku referesni Ki Dr Purwadi, sebagai sebutan lain nama Tuntang, Kalicacing, Bawen dan sebagainya.

“Nama Salatiga resmi menjadi nama daerah secara administratif ‘kan baru di era rpublik (sejak 1945-Red). Padahal, di tahun 1746 sudah muncul sebagai penyebutan The Third Sala atau Sala “ketiga” dan disederhanakan menjadi Sala Tiga, lallu Salatiga. Karena, Sala pertama (ke-1) adalah Surakarta, dan Sala kedua (ke-2) adalah Boyolali yang sudah punya nama terkenal Pengging,” tunjuk Ki Dr Purwadi.

MENGANGKAT PAMOR : Pelantikan Ketua Pakasa Cabang Salatiga dan jajaran pengurusnya oleh KPH Edy Wirabhumi (Pangarsa Pakasa Punjer), beberapa waktu lalu, merupakan upaya menggali jatidiri untuk mengangkat pamor Kota Salatiga. (foto : iMNews.id/Dok)

Mengapa diberi nama sama berurutan sampai tiga, menurut dalang “pro” yang konsisten pada klasik konvensioal itu, karena terutama bagi para pemimpin Dinasti Mataram Surakarta, untuk memudahkan penyebutan. Terutama Sinuhun PB X, jika berangkat dari kraton menyebut Sala (pertama), lalu singgah di pesanggrahan Pracimoharjo, Paras (Boyolali), menyebutnya sebagai Sala kedua baru ke Sala-tiga.

Ketika ditanya tim mengapa antara Surakarta (Sala), Boyolali dan Kalicacing Tuntang lalu Salatiga seakan menjadi urutan kegiatan perjalanan? Ki Dr Purwadi menjawab, Kraton Mataram Surakarta melalui Patih-dalem punya kepentingan dalam urusan pemerintahan di Salatiga, yang sebelum 1945 masih berstatus “Kabupaten”.

PELURUSAN SEJARAH : Audiensi antara KPH Edy Wirabumi (Pangarsa Pakasa Punjer) dengan Wali Kota Salatiga, beberapa waktu lalu, memiliki makna strategis dalam upaya meluruskan sejarah agar nama Kota Salatiga kembali pada jatidirinya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Sebenarnya kompleks Kepatihan, pusat pemerintahan eksekutif kraton, punya data-data dan dokumen perjanjian banyak sekali. Juga aset-aset lain seperti naskah-naskah kuno. Tetapi Kepatihan dibakar, yang sebelumnya isinya dijarah dulu oleh ‘Bandit-bandit di Seberang Bangawan’. Itu ya, kelompok kiri pimpinan Tan Malaka. La, sekarang ini dokumen aset tanah itu mulai bermunculan,” ujar Gusti Moeng    

Ki Dr Purwadi menyebut, selama ini latar-belakang Salatiga memang benar-benar ditutup oleh pengaruh “barat”, melalui perguruan tinggi di sana. Sejarah yang muncul hanya Mangkunegaran, sebagai hasil Perjanjian Kalicacing. Padahal ada peran Kraton Mataram Surakarta besar sekali. RM Said (MN I) adalah produk mediasi PB III, tetapi penerusnya bukan keturunan MN I, tetapi cucu dan cicit PB III. (won-i1)