“Duhkita Ing Pangeksi, Suwung Ing Laku”, “Lahiring Tata Trus Nyawiji”
IMNEWS.ID – TAMPILNYA pemimpin tahta baru setelah era Sinuhun PB XIII (2004-2025), mendapat kesaksian dan perhatian publik sangat luas. Karena, akses informasi mengenai peristiwa pergantian tahta dan segala hiruk-pikuk pro-kontra yang menyertainya, mudah diperoleh melalui teknologi internet. Maka, dari belahan dunia manapun, peristiwa di Surakarta ini bisa diketahui melalui gawai di tangan.
Karena begitu mudah masyarakat dunia menyaksikan peristiwa pergantian tahta di Kraton Mataram Surakarta, maka mereka telah menjadi saksinya. Mereka menjadi tahu bahkan paham, bahwa ada sebuah kerajaan besar yang pernah mendunia sejak ratusan tahun lalu, kini masih bertahan. Masyarakat dunia juga menjadi saksi, bagaimana tahta berganti dalam suasana memprihatinkan, “penuh pengorbanan” banyak orang.

Seandainya seluruh perjalanan sejarah Kraton Mataram Surakarta bisa diakses publik di berbagai belahan dunia secara utuh dari zaman ke zaman, mungkin akan memberi referensi dan edukasi yang positif bagi mereka. Karena, akan bisa membandingkan suasana dari zaman ke zaman, khususnya pada saat menjadi bagian dari NKRI di 17 Agusutus 1945, periode pergantian tahta 2004 dan periode 2025.
Momentum 17 Agustus 1945, jangan dipandang hanya sebagai “pengorbanan” Sinuhun PB XII dan lembaga kratonnya yang “dipertaruhkan” untuk masuk ke dalam bagian NKRI. Tetapi, pergantian tahta dari Sinuhun PB XI ke PB XII di bulan Juni 1945, tentu juga berada dalam suasana keprihatinan, perjuangan dan pengorbanan dalam ukuran saat itu. Namun fakta juga menunjukkan, suksesi 2004 ternyata tidak lebih baik.

Pada saat republik baru berdiri dan pergolakan antar elemen bangsa aekitar 1945 terus berlanjut silih-berganti sampai muncul G30S/PKI dan peristiwa Malari 1972, seiring tumbuhnya NKRI sebagai negara demokrasi, dalam perjalanan kemudian tak menjadikan Kraton Mataram Surakarta lebih baik. Stabilitas politik dan ekonomi yang terus membaik di tahun 1980-1990-an, tidak berbanding lurus rasa keadilan.
Tumbangnya rezim pemerintah Orde Baru di penghujung tahun 1990 dan bergantinya era reformasi, juga tak memberi jaminan suasana perjalanan kraton menjadi lebih baik. Begitu pula, proses pergantian tahta di tahun 2004, yang justru terkesan “menenggelamkan” berpotensi kraton. Karena, dari peristiwa suksesi dan berbagai insiden setelah itu, membuat kraton kehilangan harkat, martabat dan kewibawaan.

Selama 10 tahun Jokowi menjadi Presiden RI ke-7, bahkan ditambah sejak menjabat Wali Kota Surakarta (2005-2012), kraton nyaris tak menemukan “keberuntungan” di bawah kepemimpinannya. Yang terjadi justru perjalanan kraton mengalami titik nadir selama di alam republik, karena terjadi “Insiden Mirip Operasi Militer (MOM) 2017” yang “menindas” dan mencerai-beraikan kehidupan masyarakat adat.
Karena imbas “Insiden MOM 2017” itu, nyaris tak ada jaminan suasana yang lebih baik saat pergantian tahta 2025. Perjuangan dan keprihatinan Bebadan Kabinet 2004 terus berlanjut untuk mewujudkan tanggung-jawab secara adat, mendukung tampilnya pemimpin baru, Sinuhun PB XIV Hangabehi. Pemimpin baru ini, harus menerima realitas suasana kehidupan yang sangat berat, untuk tampil menjadi pemimpin adat.

Bahkan suasana kehidupan internal masyarakat adat yang terimbas suasana nasional, bahkan internasional, kini benar-benar sedang di puncak keprihatinan. Inilah realitas zaman yang harus diterima “Sang Nata”, ketika “Buwana” dan “Bawana” sedang tidak baik-baik saja. Bahkan bisa disebut “terpuruk” di tengah suasana global. KP Budayaningrat dan Ki Dr Purwadi memberikan penanda “sengkalan”-nya.
“Candra-sengkala” Ki Dr Purwadi untuk menyebut zaman tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi adalah, “Duhkita Ing Pangeksi, Suwung Ing Laku” yang lebih tertuju pada suasana hiruk-pikuk pro-kontra suksesinya. Sedangkan KP Budayaningrat selaku representasi Lembaga Kapujanggan, menyebut dengan “Surya-sengkala” yang berbunyi “Lahiring Tata Trus Nyawiji”. Keduanya melukiskan peristiwa di “tahun 2026”.

Ketua Lokantara Pusat di Jogja yang juga peneliti sejarah dan “dwija” Sanggar Pasinaon Pambiwara itu, ingin meneladani cara klasik para Pujangga Surakarta dan para “Carik-dalem” Kraton Mataram Surakarta, bahkan jauh sebelumnya, dalam mencatat peristiwa sejarah. Karena, dengan pencatatan itu, akan memberi manfaat bagi publik secara luas dalam kerangka edukasi, khususnya melacak sejarah leluhur.
Inisiatif keduanya menggunakan versi masing-masing dalam caranya mencatat dan menandai suatu peristiwa sejarah, dengan “Candra-sengkala” dan “Surya-sengkala”. Dan yang dilakukan, tentu berkaca pada sejumlah banyak data manuskrip sejarah perjalanan para leluhur khususnya Dinasti Mataram, yang kini banyak tersimpan di berbagai perpustakaan, termasuk Sasana Pustaka, yang tersisa di kraton.

Bila melihat begitu penting dan besarnya manfaat pencatatan sejarah perjalanan luluhur bangsa, tentu sangat menyayangkan hancurnya kompleks perkantoran eksekutif Kraton Mataram Surakarta di Kepatihan. Karena, di sana tersimpan begitu banyak data tertulis manuskrip aset kraton, termasuk surat-surat perjanjian, data-data adiministratif kewilayahan, infrastruktur dan “industri”.
Bahkan di dalam kompleks Kepatihan, diyakini banyak tersimpan aset benda sejarah yang berkait dengan pertahanan dan artefak. Dengan pemahaman ini, sedikit membuka latar-belakang kemungkinan peristiwa “pemusnahan” kompleks Kepatihan di tahun 1949. Karena dari berbagai versi penyebabnya, ada unsur niat “memiliki” benda-benda di dalamnya, ada unsur gerakan anti swapraja dan anti “stampel” Mataram.

Hal pencatatan sejarah melanjutkan tradisi para Pujangga dan “Carik-dalem” sepanjang perjalanan Mataram Islam Surakarta, tak hanya mendapat perhatian dua tokoh di atas. Dr KPH Raditya Lintang Sasangka-pun sangat mendukung upaya melanjutkan tradisi itu. Mengingat, selama Sinuhun PB XI bahkan PB XII, nyaris tidak ada tradisi pencatatan peristiwa dan sejarah, padahal sangat dibutuhkan.
Walau suananya “tidak mendukung” saat Sinuhun PB XIV Hangabehi tampil, namun ketiganya berharap tradisi pencatatan tetap berjalan. Seperti dilakukan Ki Dr Purwadi, yang begitu produktif menulis buku “Babad” tentang tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi. Selain dalam buku, “babad” juga ditulis dalam 11 jenis tembang Macapat, disebar melalui WA grup, dan pasti akan bermakna pada 100 tahun lagi. (Won Poerwono – habis/i1)
