Sinuhun PB XIV Hangabehi Lepas “Jalan Sehat” Warga Baluwarti

  • Post author:
  • Post published:February 9, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Sinuhun PB XIV Hangabehi Lepas “Jalan Sehat” Warga Baluwarti
SILIH-BERGANTI : Walau sudah banyak warga yang bergerak meninggalkan halaman Kamandungan untuk mengikut "Jalan Sehat", tetapi banyak juga yang tinggal karena menunggu giliran berfoto bersama Sinuhun PB XIV Hangabehi, Minggu pagi kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Rombongan yang Dipimpin Gusti Moeng, “Nyadran” ke Ponorogo

SURAKARTA, iMNews.id – Sinuhun PB XIV Hangabehi melepas peserta olah-raga “Gerak Jalan Sehat” warga Baluwarti atau lingkungan kompleks Kraton Mataram Surakarta, Minggu (8/2/2026) pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Di keramaian itu juga tampak, beberapa mobil dan minibus rombongan utusan-dalem berangkat “Nyadran” ke Ponorogo.

Pemandangan Minggu pagi di halaman Kamandungan kemarin, melukiskan dua kegiatan kraton yang terjadi dalam waktu dan tempat bersamaan. Aktivitas itu memberi kesan kepada publik bahwa segala aktivitas adat dan sosial kemasyarakatan bisa berjalan bersama. Masing-masing mempunya makna penting walaupun tujuannya berbeda.

MEMASUKI PINTU : Gusti Moeng tampak harus memasuki pintu “cungkup” makam “Bathara Katong” di Desa Setono (Jenangan). Di belakangnya, KPH Edy Wirabhumi juga bersiap mengikuti untuk “nyekar” saat “Nyadran” di Ponorogo, Minggu (8/2) kemarin. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dipandu warga Baluwarti sendiri, terutama keluarga besar takmir masjid yang ada di sekitar kompleks kraton, kegiatan “Gerak Jalan Sehat” dihadiri Sinuhun PB XIV Hangabehi. Ada sekitar 300 warga peserta olah-raga keliling jalan lingkar dalam Baluwarti itu, yang dipandu Bregada Prajurit Korsik Tamtama Kraton Surakarta.

Sinuhun PB XIV Hangabehi melepas peserta “Jalan Sehat” itu dengan mengibaskan bendera start, yang diikuti dengan suara drumband korsik Bregada Prajurit Tamtama mulai bergerak melangkah. Pelepasan peserta olah-raga itu sangat singkat, tetapi momen foto bersama silih berganti memberi kesan lain, setidaknya hubungan ideal.

TERKESAN BAGIAN : Para peziarah dalam jumlah besar yang silih-berganti datang di bulan Ruwah di kompleks makam “Bathara Katong”, menunggu giliran Gusti Moeng dan rombongan kraton “Nyadran”. Suasananya jadi tampak seperti bagian dari rombongan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Di saat seluruh peserta “Jalan Sehat” mulai meninggalkan halaman Kamandungan hingga tampak longgar, beberapa mobil berisi rombongan utusan-dalem yang hendak “Nyadran” ke Ponorogo juga mulai bergerak berangkat. Mobil yang mengangkut Gusti Moeng tak tampak di situ, karena langsung berangkat dari kediaman menuju Ponorogo.

Rombongan utusan-dalem sekitar 40-an orang yang dipimpin langsung Gusti Moeng, bergiliran tiba di kompleks makam Adipati Bathara Katong sekitar pukul 10.00 WIB. Singgah sejenak di transit mempersiapkan uba-rampe, lalu menuju makam bersama  seratusan warga Pakasa Cabang Ponorogo yang dipimpin KP MN Gendut Wreksodiningrat.

TOKOH WANITA : Gusti Moeng menjelaskan kepada beberapa wartawan yang mewawancarai di makam Bethara Katong, kemarin, mengenai peran tokoh wanita Mataram yang perlu dimunculkan. Karena banyak tokoh wanita penting di balik sukses Raja-raja Mataram. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ratusan warga Pakasa Cabang Ponorogo yang memiliki kendali penuh dan koordinasi yang baik dengan para pamong makam Adipati Bathara Katong, membuat lancar Gusti Moeng dan rombongan “Nyadran” di kompleks tokoh leluhur Dinasti Mataram itu. Sebab  itu, ribuan peziarah lain yang bergiliran datang “Nyadran”, tetap terakomodasi.

Pagi kemarin, gelombang peziarah dari berbagai daerah silih berganti memenuhi ruang kompleks khusus makam Adipati Bathara Katong. Pemandangannya seakan menjadi bentuk “dukungan” publik peziarah kepada rombongan kraton yang sedang menggelar ritual di bulan Ruwah di makam keluarga besar Bupati Ponorogo “pertama” itu.

GURU DAN BESAN : Gusti Moeng tampak keluar dari “cungkup” makam Kyai Ageng Muhammad Besari di Astana Pajimatan Tegalsari, Jetis, Ponorogo, kemarin. Tokoh yang sedang “disadran” itu adalah guru spiritual yang juga “besan” Sinuhun PB II. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sukses memandu rombongan kraton “Nyadran” di kompleks makam Bathara Katong dan Bupati RT Surobroto, Ketua Pakasa Cabang Ponorogo (KP MN Gendut Wreksodiningrat) memandu rombongan menuju kompleks makam Kyai Ageng Muhammad Besari. RT Surobroto,  adalah Bupati Ponorogo yang “misungsung” sepasang mahesa bule kepada Sinuhun PB II.

Di makam yang sekawasan Ponpes Gebang Tinatar, Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, Gusti Moeng dan rombongan “nyekar” pusara sejumlah tokoh. Selain guru spiritual Sinuhun PB II, pusara menantu Sinuhun PB II (Hasan Besari) juga diziarahi. Selama  8 tahun PB II di Ponorogo mempersiapkan pindahnya Kartasura ke Surakarta (1737 M).

RT DJAJENGRANA I : KPP Haryo Sinawung Waluyoputro, KPH Sangkoyo Mangunkusumo dan para sentana-dalem lain mendapat kesempatan “nyekar” makam orang kepercayaan Sinuhun PB II, yaitu RT Djajengrana I di Astana Pajimatan Pulung (Pulung Merdiko). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Safari “Nyadran” atau “Tour de Ruwah” rombongan kraton berakhir di kompleks makam RT Djajengrana I di Desa Pulung, Kecamatan Pulung Merdika dan petilasan Sinuhun PB II di Desa Sawoo, Kecamatan Sawooo. Rombongan terbagi dua setelah berpisah dari Gusti Moeng, yang meneruskan perjalanan untuk suatu keperluan di Kabupaten Madiun.  

Di makam orang kepercayaan Sinuhun PB II bernama RT Djajengrana I, “Nyadran” dipimpin KPH Adipati Sangkoyo Mangunkusumo yang tetap dipandu Ketua Pakasa cabang Ponorogo. KPP Haryo Sinawung Waluyoputro dan para sentana-dalem lainnya mewakili tabur bunga di pusara para tokoh yang berjasa pada Kraton Mataram Surakarta. (won-i1)