“Satu-satunya” Wanita Pelukis Wayang Beber di Tanah Air, Kini Berpulang

  • Post author:
  • Post published:January 31, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing “Satu-satunya” Wanita Pelukis Wayang Beber di Tanah Air, Kini Berpulang
PIAGAM DAN PIN EMAS : Piagam dan pin emas, adalah salah satu penghargaan yang diterima Mbah Ning dari Kemenbud 2022. Sebuah pengakuan terhadap ketokohannya sebagai maestro lukis wayang beber dan satu-satunya wanita pelukis jalur itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sekitar Setahun Menderita “Disfungsi Otak”, Setelah “Ditinggal” Mbah Tris

SURAKARTA, iMNews.id – “Satu-satunya” wanita pelukis (penyungging) wayang beber di Tanah Air, Hermin Istiariningsih yang akrab disapa Mbah Ning, telah “berpulang”. Istri almarhum Soetrisno Kanayarumeksa itu, menghembuskan nafas terakhir di kediamannya, Kampung Wonosaren, Jagalan, Jebres, Jumat (30/1) sore kemarin.

“Beberapa hari sebelumnya Mbah Ning habis jatuh, kepalanya berdarah dan sempat dibawa ke rumah sakit. Sebetulnya, selama sekitar setahun itu sudah sangat sering jatuh. Yang terakhir itu mungkin agak parah. Dan, kemarin sore sekitar pukul 17.00 (WIB) simbah meninggal. Kata dokter, pendarahan otak,” ujar Purbo Cahyono.

Purbo Cahyono adalah anak pertama dari dua bersaudara keturunan Soetrisno Kanayasumeksa (alm) dari istri sebelum Mbah Ning. Almarhum Mbah Tris, panggilan akrab Soetrisno, menikah lagi dengan Hermin Istiariningsih (Mbah Ning) di tahun 1980-an. Tetapi dari hasil perkawinannya, mereka tidak diberi keturunan.

SUASANA DUKA : Rumah kecil yang ada di tengah Kampung Wonosaren, Jagalan, Jebres, Surakarta, tampak dalam suasana duka, siang tadi. Rumah yang pernah ditinggali bersama suami dan keluarga itu, menjadi tempat terakhir Mbah Ning. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Siang tadi, iMNews.id yang ikut melayat ke rumah duka Kampung Wonosaren, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta belum banyak yang datang pada pukul 11.00 WIB. Karena, jenazah almarhum Mbah Ning dijadwalkan dikebumikan pukul 13.00 WIB ke Astana Purwalaya, tempat pemakaman umum termasuk Mbah Tris yang mendahului.

Dari karangan bunga yang hadir, datang dari Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widiani dan beberapa lainya yang mungkin dari kalangan kolega Mbah Tris ataupun Mbah Ning. Almarhum wanita pelukis Wayang Beber, meninggal di usia 72 tahun dan sang suami (Mbah Tris) yang meninggal tahun 2024 lalu, sampai usia 82 tahun.

Mbah Tris yang meninggal sekitar setahun lalu, adalah pelukis profesional di jalur realis. Walau produksinya tidak termasuk banyak, tetapi ada beberapa di antaranya yang dikoleksi seorang Jenderal TNI di masa Orde Baru. Sedangkan Mbah Ning yang dinikahi di tahun 1980-an, belajar melukis serius sejak mendapat suami Mbah Tris.

DEMO MELUKIS : Sebelum mendapat penghargaan dari Kemenbud di tahun 2022, Mbah Ning lebih dulu menjalani proses perekaman kegiatan utamanya sebagai seniman. Demo melukis wayang beber dilakukan, sebuah jalur lukisan yang membesarkan namanya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dari penuturan keduanya semasa masih hidup, sejak penulis masih di harian Suara Merdeka maupun aktif di media iMNews.id mulai tahun 2020-an, Mbah Ning justru diarahkan Mbah Tris di jalur lukisan atau sungging Wayang Beber. Karena, kalau sama-sama masuk ke jalur lukisan umum, pasti kalah dengan yang sudah punya nama.

“Itu berdasar pengalaman saya. Jadi pelukis sejak tahun 1970-an tidak mungkin bisa mengalahkan nama-nama pelukis terkenal (ASffandi, Basuki Abdullah, Dullah dan sebagainya-Red). Karena, jalur lukisan saya umum (realis). Kalau jalur spesifik wayang beber, hampir tak ada saingannya. Apalagi simbah wanita,” tunjuk Mbah Tris.

Lebih banyak dan pajang-lebar penjelasan Mbah Tris ketika sudah jagongan berdua dengan penulis, ada bersama tamu lain terutama seprofesi yang silih-berganti sering berkunjung ke Galeri Wayang Bebeer Mbah Ning, Wonosaren. Di antara kalimat yang berkait dengan pilihan profesi Mbah Ning, adalah kata-kata di atas yang menarik.

MERASA BAHAGIA : Dengan segala keterbatasannya, Mbah Ning dan sang suami, Mbah Tris, selalu berusaha menunjukkan sikap profesionalitasnya sebagai seniman lukis sampai akhir hayat. Tetap merasa bahagia, walau lebih tampak menderita. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dengan berpulangnya Mbah Ning di usai 72 tahun, kini nyaris tidak ada lagi wanita pelukis wayang beber di Tanah Air. Pelestari wayang beber melalui kegiatan melukis masih banyak, bahkan ada bidang studinya baik di ISI Surakarta, UNS atau mungkin di kampus lainnya. Tetapi, hingga kini belum kelihatan ada wanita yang meneruskan profesi itu.

Seperi dituturkan Purbo Cahyono, Mbah Ning sudah tidak produktif sejak ditinggal Mbah Tris sekitar setahun lalu. Selama itu, almarhumah makin tak berdaya oleh gangguan kesehatannya yang makin serius, yaitu tekanan darah dan kadar gula cukup tinggi. Selama setahun, sering jatuh-bangun dan terakhir cukup fatal, meninggal.

“Karena sakitnya itu, ya sudah tidak bisa melukis. Sama sekali. Dalam setahun itu termasuk sudah tak bisa ke mana-mana. Tetapi, Mbah Ning kadang ingin berdiri dan jalan ke luar kamar. Mungkin sumpek berada di dalam kamar terus. Karena, sebelumnya juga tidak ketahuan, keluar kamar dan jatuh,” tutur Purbo Cahyono.

MEMAHAMI KARYANYA : Mbah Ning, adalah wanita pelukis yang tak hanya memahaminya secara teknis proses pembuatannya karyanya, tetapi juga sangat paham makna citra lukisan bertema kisah kehidupan sejarah zaman Kraton Kediri abad 12 itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Mbah Ning termasuk sangat produktif melukis sampai sebelum ditinggal sang suami. Walau saat itu, bahkan sudah berjalan bertahun-tahun sudah mengidap beberapa gangguan kesehatan, terutama tensi dan kadar gula (diabetes) tinggi. Wayang beber karyanya tersebar jauh tak hanya di pulau Jawa, tetapi sampai Bali dan luar negeri.

Dia mendapat penghargaan piagam dan pin emas dari Kementerian Kebudayaan, beberapa tahun lalu. Dari Pemprov Jateng saat Ganjar Pranowo menjabat Gubernur, juga mendapat bantuan revitalisasi sebagian tempat tinggalnya, hingga menjadi galeri sekaligus sanggar lukias. Para mahasiswa S1, S2 bahkan S3 datang melakukan studi.

Sayang, rumah yang didiaminya sampai akhir hayat, tak bisa sepenuhnya dijadikan habitat untuk berkarya dan galeri. Dedikasi dan reputasinya belum dimanfaatkan secara maksimal bagi publik. Pemerintah Kota Surakarta belum bisa memahami nama besar, ketokohan Mbah Ning dan manfaat edukatifnya, karena dia adalah aset langka. (won-i1)