Ambisi Merebut Tahta yang Melampaui Batas-batas Identitas Bangsawan (seri 10 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:January 3, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:3 mins read
You are currently viewing Ambisi Merebut Tahta yang Melampaui Batas-batas Identitas Bangsawan (seri 10 – bersambung)
KORBAN "PERAMPASAN" : Beberapa tokoh yang berada di pihak Sinuhun PB XIV Hangabehi ini, adalah sebagian kerabat masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta generasi kedua Sinuhun PB XII yang menjadi korban "perampasan" rasa keadilan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Buntut Ekses “Sejarah”, Melahirkan Ketimpangan Turun-temurun

IMNEWS.ID – BENTUK-bentuk reaksi dan aksi berunsur “melawan” yang terjadi selama proses pergantian tahta berlangsung hingga kini, ada beberapa alasan yang bisa dipahami. Aksi dan reaksi itu bukan hanya secara langsung dilakukan melalui bentuk upacara, tetapi juga narasi di platform medsos yang menuduh LDA “menyimpang”.

Ekspresi itu muncul dari pihak yang sedang bersaing “merebut” tahta Sinuhun PB XIV. Dan pemandangan seperti ini, mirip-mirip yang terjadi pada “ontran-ontran Raja Kembar” pada alih kepemimpinan tahun 2004. Selain polanya, latar-belakang alasannyapun juga hampir sama. Karena, itu semua merupakan ekses “sejarah” 1945.

SOLUSI IDEAL : Kalangan kerabat masyarakat adat yang bergabung dalam jajaran Bebadan Kabinet 2004 dan berbagai elemennya yang mendukung Sinuhun PB XIV Hangabehi, adalah korban perampasan rasa keadilan yang punya “solusi ideal”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Peristiwa “penyerahan” kedaulatan politik, ekonomi, sosial dan sebagainya dari kraton kepada NKRI pada momentum Kemerdekaan RI tahun 1945 yang “kurang melegakan”, yang membuat Kraton Metaram Surakarta mengalami proses “pemiskinan”. Dengan aset bangunan infrastruktur dan seni-budaya begitu banyak, jelas butuh biaya.

Kebutuhan biaya untuk pemeliharaan agar peninggalan sejarah peradaban Mataram ini tidak rusak atau lenyap, sangat dibutuhkan biaya besar. Termasuk, kebutuhan untuk bertahan hidup masyarakat adat yang merawat dan menjaganya. Yang di dalamnya ada berbagai upacara adat, yang harus dijalankan rutin tiap tahun sebagai “nyawanya”.

TIDAK NGAWUR : Ritual peringatan 40-an hari wafatnya Sinuhun PB XIII menjadi sarana mengumpulkan seluruh kerabat di jajaran Bebadan Kabinet 2004. Para korban “perampasan rasa keadilan” ini punya solusi bijak dan ideal, bukan “ngawur”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam hal kebutuhan biaya pemeliharaan segala jenis dan bentuk aset tangible dan intangible, sejajar dengan kebutuhan hidup satuan kerja masyarakat adat yang memeliharanya. Berikut, kebutuhan untuk upacara adat adalah kebutuhan riil yang harus selalu siap, untuk menjaga “nyawa” kraton yang notabene kelangsungan kraton.

Dalam persoalan mencukupi kebutuhan hidup bagi masyarakat adat yang memelihara segala aset kraton inilah, kini menjadi latar-belakang/alasan riil konflik yang muncul di kraton. Karena, negara tidak pernah memberi solusi yang ideal atas jiwa besar dan pengorbanan Sinuhun PB XII yang rela menggabungkan kraton ke dalam NKRI.

PERJALANAN SPIRITUAL : Di era yang berada di tengah keramaian tekonologi modern, perjalanan spiritual masih bisa dilakukan seseorang yang memang dituntun untuk menjadi pemimpin. Sinuhun PB XIV Hangabehi memulai itu dari Masjid Agung. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Negara yang tak memikirkan jaminan hidup bagi keluarga besar Sinuhun PB XII terutama putra/putrinya, efeknya masih terasa sampai sekarang ini. Karena, para keluarga kecil putra/putri PB XII yang jumlahnya 35 orang itu, tak banyak yang bisa hidup mandiri di luar kraton seperti halnya keluarga Gusti Moeng-KPH Edy.

Persoalan mendasar kehidupan inilah yang kini dialami  sisa dari generasi kedua Sinuhun PB XII, dan hampir semuanya generasi ketiga atau kakak dan adik-adik Sinuhun PB XIV Hangabehi. Persoalan klasik mengenai kebutuhan ekonomis untuk sekadar bertahan hidup inilah, yang belum bisa teratasi dengan baik hingga kini.

LEBIH TERASA : Sama-sama menjadi korban “perampasan” rasa keadilan, Sinuhun PB XIV bersama jajaran Bebadan Kabinet 2004 menerima tekanan jauh lebih besar dan penderitaan lebih berat. Tetapi, ada yang menuntun mereka tetap dalam “suka-cita”. (foto : iMNews.id/Dok)

Oleh sebab itu, ada unsur kebenaran atau wajar bila masalah mendasar (ekonomis) di balik “perlawanan” kelompok pesaing di “pihak sebrang” menjadi salah satu alasannya. Siapapun terutama negara, tidak boleh menutup mata terhadap ketimpangan yang terjadi akibat “terampasnya rasa keadilan” masyarakat adat kraton.

Ketimpangan silih-berganti atau “turun-temurun” akibat rasa keadilan yang “dirampas” itu, juga dirasakan barisan di jajaran “Bebadan Kabinet 2004” pendukung Sinuhun KGPH Hangabehi. Jadi, negara atau siapapun yang memikirkan solusi bagi generasi ketiga Sinuhun PB XII, bukan berarti harus menabrak semua aturan. (Won Poerwono – bersambung/i1)